
"Pelakunya sudah tertangkap bos, dengan bukti rekaman cctv, sekarang masih diproses di kantor polisi." Ucap seseorang di seberang sana.
"Baik, saya akan ke kantor polisi sekarang."
Ren menutup sambungan teleponnya.
"Pelakunya sudah ditemukan?" Tanya Alexa yang duduk di atas ranjang, tubuhnya bersandar pada headboard ranjang.
"Sudah, dan sekarang berada di kantor polisi, mas mau kesana untuk melihat siapa pelakunya." Ucap Ren dengan duduk disamping Alexa.
Alexa dan Gesya memang tidak dirawat di rumah sakit karena luka mereka tidak parah, dan mereka harus istirahat selam seminggu agar cepat pulih.
Ren mengantarkan Gesya pulang karena tidak mungkin menyuruh Gesya untuk naik taksi, dan Ren juga akan mengganti motor Gesya yang rusak, karena sang Istri juga ikut menaikinya.
"Kira-kira siapa mas, apa mungkin kecelakaan itu disengaja." Tanya Alexa menatap Ren yang juga menatapnya.
"Aku belum tahu sayang, jika melihat rekaman cctv yang ada, mobil itu memang sengaja, karena jika tidak pasti dia juga akan berhenti seperti mobil didepanya."
Ya Ren sudah melihat rekaman cctv yang ada didepan supermarket itu, yang kebetulan mengarah sampai ke jalan, dan anak buahnya berhasil melacak keberadaan plat mobil pelaku lalu menyerahkan bukti yang ada ke kantor polisi.
"Ya sudah aku pergi dulu, hanya sebentar untuk memberi saksi." Ren mengecup kening Alexa.
__ADS_1
"Em, hati-hati." Alexa tersenyum.
"Tapi aku mau ini dulu." Ren menyentuh dagu Alexa dan mendekatkan bibirnya untuk bertemu.
Alexa menerima ciuman Ren dengan senang hati, keduanya sama-sama menyalurkan rasa yang selalu saja membuat jantung mereka berdebar-debar.
"Sudah, nanti kamu tidak jadi pergi." Alexa mendorong dada Ren, ketika Ren semakin memperdalam cumbuannya jika sudah begitu akan di pastikan suaminya tidak akan jadi pergi.
"Ck," Ren megusap wajahnya kasar. "Aku selalu tidak bisa menahannya jika sudah menyentuhmu." Ren menghembuskan napas kasar dan berdiri menjauhi Alexa.
"Sayang aku pergi." Ucapnya dengan menahan hasrat yang sudah memancing dirinya.
Alexa hanya tertawa dengan gelengan kepala. "Hati-hati Mas."
Ren hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh lagi.
"Pak, saya mohon jangan tangkap saya." Ucap wanita sambil menagis, memohon untuk dilepaskan.
"Anda bisa bebas jika yang melapor mencabut tuntutan dan membebaskan anda nona."
Wanita itu menangis terisak.
__ADS_1
Disaat dirinya sedang dirumah bersama ibunya, tiba-tiba ada dua orang polisi yang datang ke rumahnya, dan dia terkejut saat posisi itu membawa surat penangkapan untuk dirinya.
Dirinya yang awalnya tidak berencana untuk melakukan kejahatan itu, namun melihat sebuah motor yang di naiki Alexa tiba-tiba pikiranya mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
"Silahkan tuan, tersangka berada di dalam." Ucap polisi yang berjaga di pintu masuk.
Ren hanya mengangguk dan berjalan masuk untuk melihat siapa yang sudah berani mencelakai isterinya dan kabur. Mungkin kalau saja tidak kabur Ren bisa memaafkan dan tidak memperpanjang kasusnya sampai ke kantor polisi.
"Selamat malam pak." Polisi yang duduk di depan wanita itu berdiri memberi hormat pada putra dari Bimo Bagaskara tersebut.
"Malam pak."
Ren menatap wanita yang diam dan menunduk, sepertinya dia tidak asing dengan wanita itu.
"Namanya saudara Jihan, beliau mengaku tidak sengaja menabrak kendaraan yang di tumpangi istri anda." Ucap pak polisi itu memberi penjelasan yang Jihan katakan tadi.
Jihan mendongak menatap wajah Ren yang menatapnya datar tanpa ekspresi.
"Ren, tolong maafkan aku, aku tidak senagaja melakukan itu tolong jangan masukkan aku ke dalam penjara, kasihan mama Ren dia sendirian." Jihan menatap Ren dengan tangis penyesalannya.
Dirinya tidak tahu jika perbuatanya akan berbuntut panjang dan sampai di meja hukum. Yang ada di pikiran Jihan hanya ingin membalas rasa sakit hatinya ketika Ren diambil oleh Alexa.
__ADS_1
"Ren tolong maafkan_"
"Hukum tetap berjalan, ini konsekuensi yang harus kamu terima, karena sudah melakukan tindak kejahatan." Ren bicara dengan tatapan datar. "Beruntung istriku tidak terluka parah, jika tidak maka kamu akan merasakan hukuman yang lebih dari ini." Setelah mengatakan hal itu Ren meninggalkan Jihan yang menagis meraung-raung meminta maaf untuk dilepaskan.