
Setelah melewati perjalanan lebih dari sehari, bahkan Bimo beserta Alena dan Yuda sampai di kota Jakarta malam hari karena membawa wanita hamil besar, Yuda mengendari mobil dengan kecepatan standar dan beberapa kali harus istirahat di rest area karena Alena merasa pegal di area punggungnya.
Beruntung si twins bayi yang kuat, Alena hanya butuh istirahat setelah sampai di rumah. Karena Bimo menyuruh Yuda langsung ke rumah sakit setelah sampai di kota hanya untuk memeriksakan kandungan Alena setelah perjalanan jauh.
Dan kata dokter pun Alena dan bayinya baik-baik saja, bahkan bayi mereka begitu sehat dan kuat.
Alena yang sebenarnya tidak apa-apa, tapi melihat wajah khawatir suaminya membuatnya hanya menurut saja.
"Pasti mereka sudah pada tidur." Alena menatap bangunan mewah dua tingkat itu dengan senyum haru, tidak menyangka dirinya akan kembali kerumah ini lagi.
"Kamu tidak merindukan rumahmu." Ucap Bimo yang sudah berdiri di samping istrinya, setelah membantu Yuda menurunkan kopernya.
"Tentu saja, apalagi sama Alisa dan mbak Mirna." Alena tersenyum.
"Mbak Alena, pasti Alis dan Mirna senang liat mbak kembali." Fandi mendekati kedua majikannya itu, ketika sudah menutup pintu pagar.
"Iya Mas, Alena juga merindukan mereka."
"Ayo masuk, angin malam ngak bagus buat ibu hamil." Bimo menuntun Alena masuk.
"Den mari saya bantu bawa barang nya." Ucap Fandi pada Yuda.
"Haruslah bang, masa Iya saya suruh bawa sendiri." Jawab Yuda memberikan satu koper pada Fandi.
Fandi hanya geleng kepala, Yuda memang mempunyai sifat jahil.
Mereka semua sudah masuk ke dalam rumah Alena benar-benar merindukan rumah itu.
"Istirahatlah sudah malam, besok pagi baru memberi mereka kejutan." Bimo mengelus kepala Alena, dirinya memang tidak memberi tahu orang rumah jika akan pulang membawa Alena, hanya Fandi yang tahu setelah melihat Alena di dalam mobil Bimo.
"Iya Mas.." Alena berjalan menaiki tangga di mana kamarnya berada.
"Lu mau balik apa minep sini." Bimo melempar minuman kaleng ke arah Yuda yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Minep lah, pegel badan gue bro jadi driver." Ucap Yuda dengan membuka kaleng minumnya.
__ADS_1
"Oke...Istirahat di kamar tamu." Bimo menunjuk kamar tamu.
"Hm.." Yuda hanya berdehem.
"Bantu gue buat cari orang yang kompeten dan bisa dipercaya untuk mengelola tu pabrik baru." Ucap Bimo pada Yuda.
"Ck. Lu masih aja nyusahin gue tau gak sih." Gerutu Yuda melirik Bimo malas.
"Apa lu aja yang kelola pabrik itu, gue beli pabrik itu pake uang pribadi gue, jadi bukan atas nama perusahaan Bagaskara." Ucap Bimo jujur pada Yuda.
"Serius..?" tanya Yuda membulatkan kedua bola matanya.
"Buat apa gue bohong sama lu be*go."
Yuda menatap Bimo serius. "Gila lu sultan apa gimana sih.." Ucap Yuda berdecak kagum.
"Laga lu, kayak orang miskin aja tau gak sih."
"Masalahnya tu duit buat beli pabrik gak sedikit man." Yuda kembali menyandarkan tubuhnya di kursi setelah menenggak minumanya.
"Gue sengaja beli pabrik itu untuk Alena, atau untuk anak gue nanti."
"Lu bucin parah bro, akut bukan sembarang akut lagi." Yuda tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bimo.
"Lu, akan ngerasain jika lu ketemu wanita yang benar-benar membuat lu jatuh cinta, bahkan lu bakalan rela jika nyawa lu taruhannya asalkan melihat dia bahagia." Bimo menatap Yuda intens dirinya berkata serius.
Yuda ngeri sendiri mendengar ucapan Bimo. "Sumpah deh, jangan sampe Gue bucin parah kek lu."
"Serah lu deh, yang penting lu urus semua yang gue suruh kalau mau rekening lu bertambah tiga kali lipat." Ucap Bimo berdiri dan langsung meninggalkan Yuda yang masih melongo mencerna ucapan Bimo tadi.
"Apa katanya tiga kali lipat." Yuda menghitung jumlah berapa rupiah yang akan masuk kedalam rekeningnya jika di kali tiga kali lipat.
"Oke bos.. laksanakan..!!" Yuda berteriak girang setelah tahu berapa jumlah yang akan dia dapatkan jika melaksanakan perintah yang Bimo katakan.
"Ihiirrr gue bakalan jadi crazy rich." Yuda berlari ke kamar tamu dengan gembira ria.
__ADS_1
.
.
Memasuki kamar nya, Bimo melihat ranjangnya yang masih kosong. 'Dimana Ale' Bantinya tidak melihat Alena di atas ranjang.
"Sayang kamu dimana?" Suara Bimo terdengar sampai di balkon kamar dimana Alena berdiri disana.
"Aku di sini Yank." Alena menyahut panggilan Bimo.
"Kenapa disini hm...udara malam tidak baik untukmu dan mereka." Tangannya mengelus perut Alena dari belakang karena dirinya memeluk tubuh Alena dari arah belakang.
"Aku belum bisa tidur yank, akhir-akhir ini memang sudah susah tidur, apalagi sebelum ketemu kamu." Ucap Alena bercerita dimana dirinya memang susah memejamkan mata jika malam hari, mungkin bawaan kehamilannya yang akan memasuki bulan ke sembilan.
"Hm...tapi kemarin-kemarin kamu selalu tidur cepat dan pulas." Jawabnya dengan tangan mengelus lembut perut Alena dan merasakan gerakan lembut di dalam sana.
"Mungkin karena lelah." Ucap Alena jujur.
"Lelah..lelah kenapa?" Ucap Bimo mengulum senyum.
"Entahlah." Alena yang menyadari jika Bimo hanya pura-pura tidak tahu membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam kamar.
"Jawab dulu sayang, lelah kenapa." Bimo masih mengekori Alena menuntut jawaban.
"Lelah karena olahraga malam." Alena merebahkan tubuhnya di tempat tidur empuk yang dia rindukan.
"Apa malam ini tidak ada olah raga malam." Bimo merapat di belakang tubuh Alena yang sedang tidur miring.
"Hm.." Alena hanya bergumam.
"Sayang.." Bimo mengelus perut Alena dari dalam pakaian yang Ia kenakan dan tangannya bersentuhan dengan kulit Alena langsung.
"Elusin terus mas." Alena berucap dengan mata terpejam, mendapat elusan lembut di perutnya membuatnya merasa nyaman.
"Hm.. tidurlah." Dengan telaten Bimo mengelus perut buncit istrinya yang terdapat dua buah hatinya.
__ADS_1
"Semoga kalian selalu sehat hingga lahir ke dunia ini, dan melihat perjuangan mama kalian yang begitu kuat." Bimo berkata lirih, setelah mendengar dengkuran halus Alena.
Mencium pelipis Alena Bimo ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk Alena. "Selamat tidur sayang, dan kedua buah hati papa."