
"Ar, uhh." Sena menggerakan pinggulnya dengan wajah mendongak ke atas, merasakan nikmat dan juga linu menjadi satu.
"Emh, pelan-pelan sayang." Aaron membatu sang istri agar bergerak dengan nyaman. Melihat wajah Sena yang begitu cantik dan seksih ketika merintih dan keenakan menjadi satu.
"Mau ganti posisi." Tanya Aaron yang melihat sang istri sudah kelehan, mereka hampir dua jam melakukan kegiatan yang tak kunjung selesai. Justru Aaron yang merasa tak tega melihat wajah sang Istri yang terus merintih kesakitan.
"Sayang aku tidak tahan melihat kamu seperti ini." Ucap Aaron yang menatap wajah Sena sendu.
"Emh..shh... aku kuat sayang, percayalah." Sena berbicara dengan terus mendesis, rasa sakit yang dia rasakan belum seberapa karena masih bukaan lima.
Ya,. sepasang suami Istri sedang berada di rumah sakit ruangan khusus VVIP yang Aaron siapakah untuk proses sang istri melahirkan. Dan sekarang Sena sedang duduk dia atas bola yoga untuk melenturkan otot-otot nya.
Aaron membatu Sena, memeluk wanitanya agar merasa sedikit lebih baik.
"Kenapa wajahmu seperti itu sayang?" Sena ingin tertawa melihat wajah tegang sumainya, padahal dirinya yang akan melahirkan tapi Aaron yang cemas dan tengang.
Aaron menyeruak kan kepalanya di dada Sena. "Kamu tidak tahu betapa aku tersiksa melihatmu kesakitan seperti ini, ketakutan ku beralasan sayang, kamu akan melahirkan anak kita bukan hanya satu tapi dua." Aaron mendongak tak terasa sudut matanya basah. "Apa kamu tidak ingin menjalin operasi saja, aku takut sayang." Aaron menatap Sena penuh khawatir. Dadanya sesak melihat Sena yang merintih kesakitan padahal proses nya masih panjang.
"Tapi kata dokter aku bisa melahirkan normal sayang." Sena masih memberi pengertian sang suami. Bukan saat ini saja Aaron mengatakan operasi, tapi suaminya itu sudah berulang kali mengatakan nya.
__ADS_1
"Percayalah, meskipun kamu melakukan operasi kamu tetap menjadi ibu yang hebat." Lagi-lagi Aaron memohon, kali ini air matanya kembali menetes membuat Sena terenyuh.
"Baiklah, aku turuti permintaan mu."
Setelah kurang lebih dua jam Aaron mengurus persiapan istrinya, dan para dokter pun menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan tanpa terkecuali, akhirnya suara tangis bayi begitu nyaring terdengar sampai di luar ruangan.
"Pah, cucu kita sudah lahir." Arin begitu bahagia dan terharu untuk pertama kali mendengar tangisan cucunya. Arthur hanya mengangguk dan memeluk sang Istri.
Tak berapa lama tangisan kedua yang tak kalah nyaring begitu keras hingga membuat mereka yang menunggu di luar serempak mengucap syukur.
"Cicit ku sudah lahir semua." kakek Lewis juga terharu, di usianya yang sudah tua renta masih bisa melihat kedua cicitnya.
"Pah, selamat papa sudah menjadi kakek." Ren memeluk sang papa yang juga terharu. Mereka saling memberi selamat satu sama lain.
Ren memeluk bahu Alexa. "Tentu saja Pah, aku tidak mau kalah sama kakak." Ucapnya yang langsung mendapat cubitan dari Alexa.
"Auwss,, sayang kenapa di cubit." Ren mengaduh ketika perutnya terasa panas karena cubitan Alexa.
Alexa hanya mendelik menatap suaminya tajam.
__ADS_1
Ceklek
Aaron keluar dari ruangan operasi dengan wajah lelah namun terpancar kebahagiaan di wajahnya.
"Pah, Mah..Mereka sudah lahir." Aaron langsung memeluk kedua orang tuannya, terharu dan juga bahagia karena dirinya sudah menjadi orang tua.
"Selamat sayang, kamu sudah menjadi seorang ayah."
"Pah," Aaron bergantian memeluk papa mertunya.
"Selamat nak, semoga kalian selalu bahagia." Bimo menepuk punggung menantunya.
"Keponakanku, apa jenis kelaminnya?" Tanya Ren yang heboh, karena mereka semua memang belum tahu jenis kelamin kedua bayi Sena dan Aaron.
Aaron mengembangkan senyumnya mengingat wajah mungil kedua bayinya yang sangat-sangat tampan. "Laki-laki, mereka semua dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apapun."
Mereka semua serempak mengucap syukur, ternyata bayi twins yang baru kahir berjenis kelamin laki-laki semua.
"Sayang, nanti kita buat bayi kembar perempuan." Ucap Ren berbisik pada Alexa.
__ADS_1
"Auwss..kok dicubit lagi sih."
"Rasain, ngomong yang bener." Alexa mendelik dan memilih pergi mendekati Arin, ketimbang harus mendengar suaminya yang menyebalkan.