
Bimo mengantar Alena pulang setelah makan malam disebuah restoran yang Alena inginkan, Tidak lupa dirinya juga memesankan makanan untuk Alisa dan Mbak Mirna.
.
.
Sejak terakhir Bimo mengantar Alena pulang, pria itu tidak memberi kabar serta menemui Alena. Entah kemana pria itu dan kenapa tidak datang lagi, padahal Alena berharap Bimo datang menemuinya meskipun untuk yang terakhir kali.
Alena menatap pantulan dirinya di cermin, tidak ada senyum ataupun raut wajah bahagia, meskipun dirinya begitu cantik setelah di make up oleh seseorang MUA yang ditugaskan ibu Diki untuk merias diri nya.
Perasaanya terasa hambar, dirinya enggan untuk menerima pernikahan ini.
Jika saja kedua orang tuanya masih ada mungkin mereka akan membantunya untuk keluar dari zona yang tidak nyaman ini. Sungguh Alena merindukan kehadiran kedua orang tuanya.
"Kakak.." Suara Alisa menyadarkan Alena dari lamunannya. "Kak Lena Very beautiful." Ucap Alisa tersenyum dengan menunjukan jari jempolnya.
"Terima kasih Alis." Alena tersenyum.
"Aduhh..calon penganten cantik bener sih." Gina muncul dengan wajah takjub melihat Alena yang begitu cantik. "Cantik-cantik kok wajahnya mendung, senyum atuh neng." Ledek Gina pada Alena.
"Kamu baru Dateng?" tanya Alena yang tidak menanggapi ucapan Gina.
"Hem.. aku belum terlambat kan." Tanya Gina.
Gina memang sengaja ambil cuti untuk melihat hari bahagia sahabat itu, dirinya sangat takjub melihat Alena yang begitu cantik dan anggun ketika mengenakan pakaian pengantin dan dirias sedemikian rupa, sungguh sahabatnya itu menjelma menjadi seorang bidadari.
"Len, ayo supir yang jemput udah Dateng." Ucap Mirna yang masuk ke kamar Alena.
"Yaa ampun Lena, kamu cantik banget sayang." Ucap Mirna yang baru melihat Alena ketika gadis itu menoleh. Karena sejak tadi Mirna sibuk mempersiapkan diri.
"Iya ibu kak Lena cantik banget, kaya Cinderella." Gadis kecil itu sejak tadi sangat takjub melihat kecantikan kakak nya. "Apalagi kalau pangeran nya kak Bimo, pasti cocok banget, iyakan Bu." Tanya gadis kecil itu menatap Mirna.
Deg
Alena menatap Alisa yang tersenyum bahagia, jadi gadis kecil itu juga mengharapkan Bimo Untuk menjadi pangerannya.
__ADS_1
"Iya sayang kak Lena cantik." Ucap Mirna yang tidak membawa Bimo karena melihat wajah Alena yang terlihat begitu sedih.
Mirna tahu jika Alena mencintai Bimo, tapi Mirna juga tidak bisa membantu mereka untuk bisa bersatu. Meskipun Mirna ingin, tapi dirinya tidak punya hak, dan bukan siapa-siapa.
"Udah jangan sedih gitu mukanya, ini hari bahagia kamu loh Lena." Ucap Gina mengelus pundak Alena. "Ayoo kita berangkat, kasian calon suami kamu sudah menunggu calon istrinya." Ledek Gina yang hanya mendapat tatapan malas dari Alena.
Kini mereka semua berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh keluarga Diki.
.
.
"Loe kebangetan Bim, mata gue belum merem." Ucap Yuda kesal, karena pagi-pagi sekali Bimo sudah menyambanginya ke kamar hotelnyanya, sedangkan Yuda baru memejamkan mata satu jam sebelumnya.
"Ck. loe itu mending masih bisa merem, lah gue kagak bisa Yud, lihat nih mata gue." Bimo menatap Yuda malas.
Dirinya saja yang belum memejamkan mata, tapi Yuda sudah mengomelinya.
"Itu sih derita loe, makanya jangan ribet kalau jatuh cinta, bikin gue keserimpet tau gak." Ucap Diki yang ingin kembali memejamkan mata lagi.
"Ehh..bangun gue gak mau telat, jangan molor lagi." Ucap Bimo menarik tubuh Yuda agar bangun dari kasurnya.
"Gue gak perduli." Bimo menarik tubuh Yuda menuju kamar mandi agar pria itu cuci muka biar melek.
Bimo memasuki mobilnya dengan Yuda, mereka menyewa supir agar tidak terjadi sesuatu hal di jalan mengingat mereka tidak tidur semalaman.
"Ck. Gue mau tidur loe gak usah ganggu." Ucap Yuda menatap Bimo tajam.
"Loe berani sama gue." Bimo balik menatap tajam Yuda.
Yuda hanya menggeleng lalu memejamkan mata kembali, dengan pikiran tenang semoga tidak ada gangguan.
"Alena.." Bimo menatap pemandangan luar jendela kaca mobil, dirinya mengingat Alena yang hari ini beberapa jam lagi Alena akan melangsungkan pernikahannya.
"Maaf Ale." Ucap Bimo dengan mendesah pasrah, mengingat hal itu. Kepalanya Ia sandarkan di kursi mobil.
__ADS_1
.
.
Mobil yang membawa Alena sudah sampai dikediaman Diki karena acara akan di mulai lima belas menit lagi.
Semua nampak menunggu kedatangan calon mempelai wanita karena mereka semua sudah nampak tak sabar ingin melihat.
Alena turun dari mobil dengan di dampingi Mirna dan Gina, sedang kan Alisa digandeng Fandi di belakang mereka.
Alena menjadi pusat perhatian ketika memasuki pintu utama, dirinya yang menjadi sorotan dan beberapa orang berbisik memujinya sangat cantik
Diki sampai tak berkedip melihat calon istrinya yang begitu sangat cantik dan mempesona.
Alena berjalan dengan menunduk dirinya terlalu gugup dan malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Ya ampun sayang, kamu cantik banget." Hesti mendekati calon menantunya, dan membantu Alena duduk di samping Diki.
Alena hanya tersenyum untuk membalas pujian Hesti.
"Baiklah, acara akan kita mulai karena pengantin wanita sudah hadir." Ucap pak penghulu yang akan menikahkan mereka.
Diki mulai menjabat tangan pak penghulu ketika beliau mengulurkan tangan, sedangkan wali untuk Alena mereka mencarikan, karena memang Alena sudah tidak punya siapa-siapa.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Diki Herlambang dengan ananda Alena Andhini binti Johan Raharja dengan maskawin satu set perhiasan tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya ananda Alena Andhini binti Johan Raharja dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap Diki lantang dengan satu tarikan napas.
"Sah.."
"Sah.."
Suara Sah menggema, tanda mereka berdua sudah sah menjadi suami istri yang baru saja menikah. Raut wajah bahagia terpancar dari Diki dan keluarga besarnya. begitupun tamu undangan yang hadir menyaksikan pernikahan mereka.
.
__ADS_1
.
Selamat mbak Ale dan Mas Diki..🎉🎉😂