Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part152


__ADS_3

"Kakak...!!!" Teriakan Alisa begitu menggema di ruang makan begitu melihat Alena yang sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan, gadis kecil itu berlari dan menubruk pinggang Alena dari samping.


"Hai.. Alis apa kabar." Alena memeluk Alisa yang hanya sebatas perutnya itu.


"Kak Lena, ini beneran kak Lena..?" Alisa menangis terisak di pelukan pinggang Alena.


"Iya sayang ini kak Lena, maaf sudah meninggalkan Alis." Alena ikut menangis ketika mengingat dirinya yang telah meninggalkan Alisa hampir delapan bulan.


"Kak Lena, Alis kangen...jangan tinggalin Alis lagi, Alis mau ikut kemanapun kakak pergi." Alisa masih sesenggukan.


"Iya Alis maafin kakak ya." Alena menciumi kepala Alisa berulang kali.


Mirna yang melihat hal itu mengusap air matanya, dirinya juga tidak percaya jika tadi pagi melihat Alena yang tersenyum kepadanya di dapur, apalagi melihat penampilan Alena yang berubah membuat Mirna sempat tidak percaya. Keduanya saling berpelukan dengan penuh kasih menangis karena merindukan satu sama lain, bahagia karena sudah dipertemukan kembali.


"Sudah sayang, jangan menangis terus." Bimo yang sejak tadi diam memperhatikan dari ambang pintu mendekati keduanya dan sama-sama mengelus punggung keduanya. "Alis sekarang kak Lena sudah pulang, dan kak Lena membawa hadiah untuk Alis." Bimo tersenyum dan menghapus jejak air mata di pipi kedua wanita berbeda usia itu.


"Hadiah apa Kak..?" Tanyanya masih sesenggukan.


"Lihat.." Bimo mengelus perut besar Alena. "Disini ada twins keponakan Aunty Alis."


"Keponakan..?" Alisa nampak berpikir, gadis kecil berusia delapan tahun itu belum mengerti.


"Em..adik sayang, adik keponakan." Ucap Bimo setelah memilih kata yang tepat untuk Alisa bisa mengerti.


Alisa membulatkan kedua matanya. "Adik kembar?"


"Ya, baby twins." Bimo tersenyum melihat respon Alisa.


"Kak Lena punya bayi." Tanyanya pada Alena.


"Iya Alis, kakak punya bayi."

__ADS_1


"Yeeyyy...Alis akan punya teman...yeyy..ibu.. Alis akan punya teman." Alisa berlari ke arah Mirna.


Mereka tertawa melihat kegembiraan Alisa yang begitu bahagia ketika mendengar akan mempunyai adik keponakan.


Bimo memeluk pinggang Alena dan mendaratkan kecupan di kepalanya yang terlapisi hijab.


"I love you, my wife." Bisik Bimo membuat Alena tersenyum.


.


.


.


Setelah sarapan bersama dan di iringi obrolan hangat dan ceria kini Alena mengantarkan Bimo sampai di depan mobilnya karena hendak pergi ke kantor. Alisa sudah pergi ke sekolah di antar Mirna.


"Mas sedang menunggu apa?" Tanya Alena karena melihat Bimo yang masih berdiri di samping mobilnya dan tidak Segeran masuk untuk berangkat ke kantor.


"Supir..? Kamu butuh supir?" Tanya Alena lagi, karena selama ini Bimo tidak pernah menggunakan supir.


"Tidak sayang, aku menambah supir untuk kamu jika ingin pergi." Bimo memasukkan ponselnya ke saku celananya setelah tidak mendapat jawaban dari nomor supir itu. "Jadi kamu bisa pergi kemanapun di antar oleh supir, tapi dengan satu syarat." Bimo mengelus pipi Alena, menatap wajah cantik dan sangat cantik dengan penampilannya sekarang.


"Syarat...apa?"


"Harus meminta ijin kemanapun pergi, dan ketika aku tidak bisa mengantarkamu, maka kamu boleh pergi dengan supir."


"Tapi kan aku tidak pernah kemana-mana mas." Sanggah Alena, karena merasa terlalu berlebihan apa yang di lakukan suaminya.


"Belum sayang, suatu saat pasti kamu butuh supir untuk mengantarmu."


"Em..baiklah, terima kasih." Ucapnya tersenyum manis.

__ADS_1


"Duh..aku jadi malas berangkat yank." Bimo mengedarkan pandangannya kesegela arah, tangannya Ia masukan kedalam saku celana, dadanya selalu berdebar melihat senyum manis itu.


"Lah, kok gitu..gak boleh papa..." Ucap Alena lucu.


Bimo semakin melebarkan senyumnya mendengar Alena menyebut kata papa.


"Papa harus semangat kerja yah, demi twins." Alena mengisi perutnya.


Bimo pun mengikuti gerakan Alena mengusap perut buncit itu dengan lembut di atas tangan Alena. "Iya sayang, papa pasti sangat semangat untuk kalian bertiga, hidup papa." Membungkuk untuk mengecup perut buncit istrinya.


"Ahh..papa twins so sweet."


Keduanya tertawa dan tak lama supir yang Bimo tunggu datang.


"Maaf tuan saya terlambat." Ucap supir itu yang usianya sekitar tiga puluhan.


"Tidak apa, langsung saja, tugas kamu adalah mengantar istri saya kemanapun dia mau pergi, dan menjaganya ketika diluar tanpa adanya saya." Ucap Bimo tegas pada pria di depannya itu yang usianya lebih tua darinya


"Baik tuan, laksanakan." Jawabnya tak kalah tegas.


Bimo hanya menganggukkan kepalanya.


"Sayang, dia supir kamu namanya Andi, kamu di antar dia jika ingin pergi." Bimo bicara pada Alena yang tersenyum menyapa supir barunya.


"Iya Mas..terima kasih."


"Yasudah aku berangkat dulu, jangan lupa vitamin dan suplemen nya di minum, makan yang teratur ya."


"Iya sayang, kamu sudah berapa kali bicara seperti itu." Alena menggeleng kan kepalanya.


"Entahlah rasanya aku senang bisa begitu sama kamu." Bimo tertawa.

__ADS_1


Dirinya memang merasa begitu bahagia dan senang karena masih bisa perhatian dengan Alena yang masih hamil dan tidak lama mereka akan memiliki sepasang bayi kembar, karena di awal kehamilan dirinya tidak bisa memberi perhatian makan sekarang Bimo merasa bersalah dan bahagia.


__ADS_2