
POV Bimo
Suara teriakan itu terdengar nyaring ditelinga ku, mataku yang terasa berat masih bisa melihat istriku yang terbaring tak berdaya dengan merintih kesakitan memegangi perutnya, wajahnya tak lagi bisa tersenyum, da_rah segar mengalir di pelipisnya.
"Sa_sayang...shh." Tanganku mencoba menggapai tubuh istriku dengan susah payah, rasa sakit yang tak terkira di sekujur tubuhku, apalagi kedua kakiku tak bisa aku gerakkan begitu sakit dan ngilu sampai membuatku tak kuat menahan rasa sakitnya.
"Emhh...sa_kitt Mas.." Suara rintihan itu begitu lirih, perlahan dengan sekuat tenaga aku terus mencoba dan memaksa tubuhku untuk mendekati istriku.
Degan tersaruk-saruk ku bawa tubuhku merayap semakin lama semakin dekat mataku dengan istriku. "Aleee..." Suara ku begitu tercekat, napasku seperti akan putus, merasakan dada yang begitu sesak, da*rah membasahi kedua kaki istriku yang masih merintih dengan suara lemahnya.
"Sayang.." tanganku bergetar menggapai kepala istriku, begitu tersiksanya diriku melihat nya kesakitan seperti ini.
"Mass..a_aku ti_dak ku_at..ah"
"Bertahan, sayang...tolong bertahan demi aku." Air mataku tak kuasa aku bendung, tangis ku begitu memilukan.
"To_long, ja_jaga an_nak ki_ta Mas."
Kepalaku menggelang mendengar ucapan istriku, ini tidak boleh terjadi. "Ngak Ale, ngak." Aku menangis meraung ketika istriku tiba-tiba tak sadarkan diri.
Sebelum mobil yang kami tumpangi masuk ke jurang, aku memeluk erat tubuh istriku, dan aku pun melompat keluar degan mendekap erat tubuh istri dan kedua anakku yang berada di dalam kandungan nya.
Tak lama mobil yang terus berjalan dan masuk ke dalam jurang itu pun meledak, setelah kami terlempar cukup kuat di pinggiran semak-semak.
"Alenaaaa...!!!"
Semakin lama, mataku semakin berat dan sesaat semua pandangan ku menjadi gelap gulita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu sudah sudar nak?" Leina mendekati Bimo yang tiba-tiba saja bangun meneriakkan nama Alena.
"Mah.." Napas Bimo tersengal-sengal, dada naik turun tak beraturan.
"Minum dulu nak." Leina memberikan gelas berisikan air putih.
Bimo menegak air itu hingga setengah. "Mah Alena, Alena di mana mah.." Ucapnya dengan nada panik dan khawatir.
"Sabar sayang, tenangkan dirimu.." Leina menyentuh pundak putranya. "Biar kamu di periksa dokter dulu ya, kamu baru bangun setelah hampir dua Minggu tidur." Ucap Leina mencoba tersenyum setenang mungkin.
"Du-dua Minggu." Tanya Bimo tak percaya.
"Iya sayang, sebentar Mama panggil dokter." Leina berjalan tergesa segera keluar.
"Hiks...hiks.. ya Tuhan kenapa berikan cobaan begitu berat pada putra kami." Leina menangis terisak di pinggiran pintu yang sudah dia tutup rapat, dirinya hanya beralasan untuk memanggil dokter, melainkan meluapkan tangisnya yang mencoba kuat di depan putranya.
"Mah.." Rendy menyentuh bahu istrinya yang naik turun, pasti sedang menangis.
"Papah.." Leina memeluk Rendy dengan tangis semakin pilu.
"Sabar mah." Rendy mengelus punggung istrinya, matanya ikut panas dengan sudut mata yang menggenang. "Bukankah Bimo sudah sadar."
__ADS_1
Leina mengangguk dengan masih menangis.
Rendy yang kebetulan ingin masuk ruangan Bimo dia urungkan karena melihat dokter yang tiba-tiba masuk, dan dia melihat istri nya yang menangis.
"Syukurlah keadaan anda sudah lebih baik tuan, hanya perlu beberapa hari lagi untuk pemulihan, sungguh ini adalah keajaiban, anda sadar begitu cepat dari koma." Ucap dokter itu nampak takjub dengan Bimo yang kondisinya cepat pulih begitu bangun.
"Dokter di mana istri saya?" tanyanya dengan tidak sabar, dirinya tidak peduli tentang perkembangan kesehatan nya, karena sejak tadi yang Ia tanyakan andalah keadaan Alena.
"Istri anda_"
"Sayang, bagaiman masih ada yang sakit." Tiba-tiba Leina muncul dengan Rendy di belakang nya.
"Dokter terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya." Ucap Rendy pada dokter yang sudah menangani Bimo selama koma.
"Sudah tugas kami sebagai seorang dokter tuan, kami hanya berusaha membantu selebihnya tuhan yang berkehendak."
Dan dokter itupun pergi setelah berbincang sebentar, seputar kesehatan Bimo.
"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku, apakah terjadi sesuatu dengan Alena?"
"Nak," Leina memeluk kepala putranya. "Lena baik-baik saja, dia sudah dirumah dengan twins, dan mereka menunggumu pulang kerumah." Leina mendongakkan kepalanya menghalau air matanya agar tak kembali jatuh di depan putranya.
Bibir Bimo mengembang senyum itu tiba-tiba terbit. "Jadi mereka baik-baik saja, syukurlah.."
.
.
"Sabar Nak, mereka pasti menunggumu di rumah."
Pagi ini Bimo sudah di ijinkan keluar dari rumah sakit, meskipun kakinya belum pulih sempurna tapi Bimo bersikeras ingin segera pulang, karena Alena tak kunjung menjenguknya di rumah sakit.
Dengan di bantu kursi roda, Rendy menantu putranya untuk duduk di kursi dalam mobil.
"Mah, buruan masuk." Katanya lagi ketika melihat Leina hanya saling pandang dengan Rendy.
"I-iya sayang." Leina lun buru-buru masuk ke dalam mobil.
Dua puluh lima menit mobil yang Rendy kendarai sampai ditempat yang bukan ingin Bimo tuju. Tempat itu begitu asing baginya.
"Pah kenapa kita kesini." Tanyanya dengan wajah bingung.
"Ada yang ingin ketemu kamu sayang." ucap Leina mengelus bahu Bimo.
Rendy dengan telaten membantu putranya untuk turun dan duduk di atas kursi roda.
Mendorong masuk ke jalan setapak di area yang begitu luas, semakin lama semakin membuat jantung Bimo berdetak lebih cepat, ketika matanya menangkap gundukan tanah yang banyak di taburi bunga di atasnya.
Matanya menatap tajam gundukan yang masih basah itu, ekspresinya biasa saja datar dan dingin.
"Maaf Nak, kami membawamu kesini..karena kamu ingin bertemu dengan istrimu." Ucap Rendy dengan suara berat.
__ADS_1
Bimo diam mematung matanya tak berkedip melihat banyak nya taburan bunga, dan ketika matanya mengarah pada nisan tenggorokannya tercekat dan kering. "Alena Adhisti." gumamnya lirih.
"Yang sabar nak, dia istri yang kuat dan hebat..di sisa waktunya dia berusaha bertahan untuk melahirkan putra, putri kalian dengan selamat." Rendy menepuk bahu Bimo yang hanya diam saja dengan pandangan lurus ke gundukan tanah itu.
Leina sudah menangis sesenggukan di belakang putranya yang hanya diam mematung.
"Papa harap kamu bisa menjadi ayah yang kuat dan tegar untuk anak-anak mu, karena mereka butuh kasih sayang dan perlindungan dari mu." Rendy pun tak kuasa meneteskan air matanya.
Bimo hanya tersenyum masam. "Terima kasih sayang, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan untuk kami di sini, aku akan merawat anak-anak kita semampuku seperti yang kamu inginkan, meskipun jiwa ragaku tak lagi seperti dulu dengan adanya kamu." tangannya mengelus nisan sang istri. "Berbahagialah di sana, cukup lihat kami disini pasti juga akan bahagia." Tidak ada air mata yang mengalir di wajahnya, hanya ungkapan rasa terima kasih yang Bimo sampaikan.
"Dimana twins." Tanyanya datar ketika sampai di dalam rumah berlantai dua itu.
"Di kamarnya nak, bersama Mirna dan seorang pengasuh." Ucap Leina menunjukan kamar twins di lantai bawah.
Rendy pun membawa Bimo di mana kamar twins tempati.
Membuka pintu, mereka yang berada di dalam menatap sendu dengan diam dan wajah sedih. Bahkan Mirna matanya sudah berkaca-kaca.
Bimo menatap kedua buah hatinya yang terlelap, bibirnya menyingkap senyum tapi matanya menjatuhkan air mata.
"Bisa tolong bawa mereka kemari." Ucapnya, meminta twin dari dalam box untuk Ia gendong.
Rendy mengangguk ketika Mirna meminta pendapat.
"Terima kasih." Ucapnya setelah twins berada di dekapannya.
Di tatapnya kedua wajah bayi mungil itu dengan lekat, dada nya terasa sesak hingga tak sanggup dirinya untuk menahan sakitnya.
"Maafin papa nak, maafin papa." Tangisnya pecah ketika pertama kali dirinya mencium kedua pipi putra putrinya. "Maafin papa yang tidak bisa menjaga Mama kalian, papa janji akan merawat dan membesarkan kalian dengan tangan papa sendiri, seperti ucapan Mama untuk yang terakhir kali." Bimo berbicara diiringi tangisan yang begitu menyayat hati bagi mereka yang mendengarnya pun ikut menangis.
"Terima kasih sayang, engkau telah hadir kan mereka untuk ku, terima kasih telah membawa cinta kita hingga akhir." Bimo tersenyum penuh luka di dadanya, menatap kedua bayi yang belum sempat melihat wajah ibunya, bahkan belum sempat sama sekali merasakan ASI untuk pertama kali.
Didunia ini tidak ada yang abadi, tidak ada yang bisa melawan takdir yang sudah di garis kan oleh_Nya.
Cinta mereka akan abadi hingga ajal menjemput, Alena yang begitu mencintai suaminya dan Bimo yang begitu mencintai ketiga orang paling berarti dalam hidupnya.
END
.
.
.
.
Masih ada season dua, dimana cerita nya akan menceritakan kedua putra putri seorang DUDA, yaitu Bimo Bagaskara.
Stay tune masih di cerita yang sama yaa..🥰🥰🥰🥰
Aku mewek, lihat Mas duda bisa tegar🤧
__ADS_1