
Pasangan baru itu menghabiskan waktunya di apartemen, Bimo yang menggempur Alena tak kenal lelah.
"Yank..emph.." Alena sudah kehabisan tenaga namun suaminya itu terus saja membangkitkan gairahnya.
"Ouh..Sebentar sayang." Bimo kian cepat berpacu dari arah belakang, dirinya menyukai posisi seperti ini, ketika miliknya tenggelam habis didalam lembah sempit istrinya.
"Shhh..engh." Alena mendongak ketika tangan Bimo merangkul dadanya untuk setengah duduk.
"Shh...ahh yank aku." Alena tak kuasa menahan gejolak yang semakin mendesak keluar, posisi seperti ini membuat miliknya sangat penuh oleh milik suaminya.
Ini sudah ketiga kali mereka bercinta, istirahat hanya untuk membersihkan diri dan makan. Bahkan kini masih pukul delapan malam namun suaminya itu selalu berhasil memancing gairahnya.
"Ahh.. Ale..emph.."Bimo mendessahh dengan suara berat, dirinya selalu candu akan tubuh istrinya yang begitu memabukkan, miliknya selalu bereaksi ketika dekat istrinya. "Milikmu nikmat sayang." Berbisik dengan nada berat dan napas kian memburu.
"Yank..aku..shhh... Arrghh." Alena mendessahh keras ketika miliknya berkedut dan tubuhnya bergetar.
"Ahh.." Seakan tak memberi jeda Bimo semakin liar menyodok milik Alena semakin kuat dan cepat karena dirinya mengejar pelepasan yang akan datang.
"Ale... arghh." Bimo memeluk tubuh istrinya dari belakang dalam posisi duduk yang masih menyatu.
Napas keduanya memburu dengan detak jantung kian cepat, hembusan nafas Bimo terasa hangat di leher Alena.
Bimo merebahkan tubuh Alena, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Istirahat sayang." Bimo mengecup kening Alena yang penuh keringat, merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.
Alena hanya diam dengan mata terpejam napasnya masih belum Setabil.
Bimo melirik jam didinding baru pukul setengah sembilan malam, pantas saja istrinya kelelahan dirinya bermain hingga satu jam setengah lamanya.
Kegiatan mereka tidak bisa membutuhkan waktu sebentar untuk saling memuaskan dan mencapai hasrat yang begitu memabukkan, Bimo akui jika dirinya tidak bisa lepas dari candu tubuh istrinya.
__ADS_1
"Maaf, jika Mama belum bisa menerima mu." Tangan nya mengelus kepala Alena yang berada dalam dekapannya. "Aku janji tidak akan pergi darimu apa pun yang terjadi." Ucapnya dengan mengecup kening Alena.
Tanpa Bimo sadari Alena masih mendengar ucapannya. Hatinya begitu nyeri mengingat hal itu kembali.
Bagaimana jika Mama Bimo tidak akan pernah menerima dirinya yang hanya anak yatim piatu dan bekerja sebagi OB. Sungguh Alena tidak menginginkan suatu hal yang bisa membuat hubungan ibu dan anak bermasalah hanya karena dirinya hadir di tengah-tengah mereka.
Sedangkan Bimo, memikirkan bagaimana Mama nya bisa menerima Alena, dirinya begitu menyanyangi Mamanya, namun untuk menuruti permintaan yang mustahil itu tidak mungkin. Dirinya begitu mencintai istrinya, Alena adalah hidup dan kebahagian nya dirinya tidak akan pernah meninggalkan wanita yang begitu Ia cintai meskipun harus menyerahkan semua yang dirinya punya.
.
.
Pagi pak?
Selamat pagi pak?
Sapaan para karyawan di pagi hari ketika bos mereka memasuki lobby kantor.
Bimo berjalan dengan wajah menatap lurus kedepan, hanya menganggukkan kepala dan tersenyum sekilas untuk membalas sapaan para karyawannya.
"Pagi Bos." Seperti biasa Daniel sudah menunggu bosnya di ruangan Bimo.
"Hm.. apa agenda hari ini." Bimo membuka laptopnya dan menunggu Daniel untuk membacakan agenda nya hari ini.
"Jam sembilan ada pertemuan dari perusahaan xx, dan jam makan siang ada metting dengan klien di restoran xx, jam tiga sore pertemuan penting dengan klien dari Amerika." Ucap Daniel selesai membacakan agenda bosnya itu.
Bimo menghela napas kasar, hari Senin seperti biasa pekerjaannya selalu padat, padahal hari ini Alena baru masuk kerja dan status barunya sebagai istri di kantor.
Namun Alena meminta agar Bimo merahasiakan pernikahan mereka, hanya Gina yang tahu pernikahan mereka.
"Baiklah." Bimo memeriksa berkas yang sudah tertumpuk rapi dimeja nya.
__ADS_1
"Niel." Panggil Bimo sebelum Daniel keluar. "Tolong suruh Alena bikinkan saya minum." Titahnya tanpa melihat wajah Daniel.
"Baik bos." Daniel pun berjalan ke arah pantry untuk melaksanakan tugas dari bosnya.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
Pintu di dorong dari arah luar nampak Alena yang membawa nampan berisi pesanan sang suami.
"Minumnya Pak." Ucap Alena menaruh gelas berisikan kopi.
Bimo mendongak dan tersenyum ketika wajah cantik istrinya yang sedang berdiri di samping tempat dirinya duduk.
"Lain kali, Tidka perlu mengetuk pintu jika masuk." Bimo meraih tangan Alena, agar mendekat kearah nya.
"Bim, ini di kantor." Ucap Alena yang sudah duduk di pangkuan suaminya.
"Hm..memangnya kenapa." Bimo menyusuri leher Alena dengan bibirnya.
"Engh..nanti ada yang lihat Bim." Alena sedikit meleguh ketika bibir dingin itu menempel di kulit lehernya.
"Tidak akan yang berani masuk sayang." Tangan Bimo menyentuh dada Alena yang masih terbalut baju kerjanya.
"Yank.." Alena memejamkan mata ketika tangan besar Bimo meremas dan memijat pelan buah dadanya, sedangkan bibir pria itu menyusuri leher dan tengkuknya.
Brak
Pintu didorong kuat dari luar. Membuat Alena dan Bimo terlonjak kaget, Alena buru-buru langsung berdiri merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
Seseorang menatap tajam Alena tak percaya jika mereka bermesraan di kantor pada jam kerja.
__ADS_1