Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Jack yang berkorban.


__ADS_3

Di rumah sakit seorang pria duduk dengan menundukkan kepalanya hening tidak ada suara siapapun di lorong ruang UGD.


Beberapa pengawal juga menjaga jarak mereka juga ikut merasakan apa yang tuannya rasakan.


Kejadiannya begitu cepat hingga tidak sanggup membuatnya menghindar. Aaron mengusap wajahnya kasar, wajahnya berantakan dengan pakaian yang berlumuran darah.


"Tuan pakaian Anda." Ucap salah satu pengawal, yang sengaja membelikan pakaian bersih untuk tuannya.


Aaron menerimanya, dia segera berganti di kamar mandi rumah sakit.


Richard yang hendak melihat Aaron pergi, dengan cepat merebut pistol milik anggota polisi yang berada ditangan.


Tujuannya jelas untuk menembak Aaron, tapi naasnya Jack yang melihat tuannya dalam bahaya, segera mendorong Aaron dan berakhir Jack lah yang terkena tembakan di bagian perut Jack yang berkorban untuk Aaron.


Dilarikan kerumah sakit Jack langsung mendapatkan tanganan dokter untuk melakukan operasi.


"Ar.." Arthur menghampiri putranya yang baru saja duduk setelah mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Pah." Aaron menatap papanya sendu. "Jack pasti baik-baik saja, dia pengawal yang kuat." Ucap Arthur untuk membuat putranya yakin. Dan Aaron hanya mengangguk.


Meskipun dirinya sering memarahi Jack, tapi Aaron adalah orang yang paling Jack jaga, sejak Aaron berumur sepuluh tahun Jack sudah berada di sekitarnya. Kakek Lewis yang sudah menghadirkan Jack dikeluarga Lewis.


Hanya Aaron yang memanggil Jack dengan sebutan botak. Dan itupun jika Aaron mulai kesal karena Jack selalu menuruti perintah kakeknya, Aaron tidak suka jika urusannya diikut campuri oleh orang lain, dan Jack lah pasti orangnya. Meskipun begitu Aaron juga menyayangi Jack dan menganggap Jack sebagai pamannya.


Setelah menunggu hampir satu jam, tak lama Bimo datang, bersamaan ruang operasi terbuka.


"Dokter bagaimana keadaannya." Tanya Arthur pada dokter yang baru saja keluar.


"Lakukan yang terbaik, sembuhkan saudara kami." Ucap Arthur dengan sepenuh hati.


"Kami akan berusaha tuan, hanya doa kalian yang bisa membuat pasien melewati masa kritis." Dokter itupun pergi.


"Ar.." Bimo memanggil menantunya.


"Papa," Aaron tidak tahu jika papa mertunya sudah berada disana.

__ADS_1


"Apa yang terjadi." Bimo duduk di samping kiri, dan Arthur di samping kanan putranya.


"Richard sudah tertangkap Pah, tapi Jack menjadi korbannya." Jawabnya dengan mengehela napas. Aaron menceritakan kejadian naas itu dengan perasaan bersalah.


"Pulanglah, Sena khawatir menunggumu dirumah. Dia juga tidak bisa menghubungi ponselmu membuatnya sejak tadi gelisah." Beri tahu Bimo, dirinya pergi juga tidak memberi tahu Sena karena tidak ingin membuat putrinya khawatir.


"Ponsel Ar, mati Pah."


"Ya, papa juga sudah memberi dia penjelasan, sekarang dia menunggumu di rumah, disini biar pada dan papamu yang menunggu." Bimo menepuk bahu menantunya dua kali.


Aaron menatap papa Arthur sekilas. "Pulanglah, kasihan istrimu jika ada sesuatu papa akan menghubungimu." Ucap Arthur.


Aaron pun beranjak dari kursi, jam menunjukan hampir dua belas malam, dan istrinya masih menunggunya, membuatnya juga merasa bersalah. Aaron diantar oleh dua pengawal, sisanya masih berjaga dirumah sakit.


"Semoga setelah ini tidak ada lagi orang jahat yang mencoba untuk menyakiti kelaurga kita." Arthur menatap besannya sekilas dan tersenyum.


Setidaknya mereka sudah merasa lega, karena Richard sudah tertangkap, tapi bukan berarti tidak akan ada musuh yang lain, karena mereka sadar menjadi orang baik pun belum tentu tidak memiliki musuh, bisnis tetap bisnis ambisi yang membawa mereka bisa melakukan hal yang membahayakan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2