Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Menuju sah


__ADS_3

Diaz menatap rumah besarnya yang memang sudah lama tidak dia datangi, terakhir ketika dirinya membawa Gesya dan malah mendapatkan kejutan yang selalu Mamanya buat.


"Den, Diaz." Sapa art yang membukakan pintu. Art itu senang anak majikannya yang sudah lama tidak pulang kini datang.


"Mama sama papa ada bik?" Tanya Diaz yang melangkah masuk di ikuti art itu.


"Ada den, ada di dalam."


Diaz mengaguk, langkahnya segera mencari keberadaan kedua orang tuannya.


"Mah, Mama keterlauan bagaimana kalau Diaz tidak mau pulang lagi kerumah, apa Mama tidak memikirkan perasaan Diaz." Ucap papa Diaz pada Istrinya, mereka sedang duduk di taman belakang dengan memberi makan ikan-ikan yang berada di kolam.


"Papa tidak tahu saja, cara itu ampuh untuk menjatuhkan wanita-wanita miskin seperti mereka." Mama Diaz terseyum sinis melirik suaminya. "Apa papa lupa yang terjadi hampir satu silam lalu, buktinya mereka pergi setelah Mama kasih uang, dan sebentar lagi pasti wanita itu akan melakukan hal yang sama setelah mendapatkan uang." lanjutnya dengan terkekeh.


Diaz yang mendengar obrolan kedua orang tuanya mengepalkan kedua tangannya kuat. Berdiri diambang pintu Diaz masih diam.


"Papa hanya tidak ingin melihat Diaz terluka lagi, Mama tahukan jika Diaz tidak bisa dengan mudah menerima kesalahan fatal yang Mama lakukan, dan papa yakin jika putra kita tidak akan mau kembali kerumah setelah apa yang sudah Mama perbuat." Papa Diaz menatap istrinya dengan penuh kecewa, istrinya yang keras kepala dan tidak bisa di beri tahu dan maunya menang sendiri.


"Lagian untuk apa kita mencari pendamping untuk Diaz dari kalangan orang kaya, toh putra kita tidak kekurangan meskipun menghidupi istri dan anak-anaknya nanti. Apa harta yang kita miliki masih kurang untuk menghidupi istri dan anak-anaknya Diaz, apa Mama hanya malu jika memiliki besan dari keluarga tidak mampu, Mama egois hanya memikirkan diri Mama sendiri." Setelah mengatakan itu papa Diaz berdiri ingin masuk, tapi langkahnya terhenti melihat Diaz yang tersenyum kecut didepan pintu.


"Diaz.."


Mendengar nama Diaz disebut, Mama Diaz langsung berdiri dan menatap putranya terkejut.


"Meskipun Mama mau melakukan apapun untuk memisahakan kami, Diaz tidak akan meninggalkannya." Diaz menatap Mamanya penuh rasa kecewa. "Diaz sudah melamar Gesya, dan Diaz akan menikahi wanita yang Diaz inginkan. Jadi tolong." Diaz menangkupkan kedua tangannya didepan dada. "Tolong Mama jangan ganggu lagi mereka, hanya untuk memenuhi keegoisan Mama." Ucapanya dengan memohon.


Diaz bukan pria yang keras kepala, Diaz menghormati kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya sampai saat ini, tapi kekecewaan yang mamanya buat sanggup melukai hatinya.


"Diaz hanya ingin memilih hidup Diaz sendiri, dan Diaz berhak memilih siapa yang pantas untuk Diaz, jadi Diaz mohon dengan sangat. Jangan pernah lagi ganggu keluarga Gesya mereka tidak bersalah, dan untuk restu, Diaz tidak akan memaksa kalian karena Diaz akan menikahi Gesya secepatnya." Setelah mengatakan itu Diaz pergi tanpa mau menoleh ke belakang dimana Mamanya yang berteriak-teriak memanggilnya.


"Diaz..!! jangan durhaka kamu, Mama melakukan itu untuk kebaikan kamu..!!"


Papa Diaz hanya geleng kepala, ternyata ucapnya barusan tidak membuatnya membuka mata dan hati.


"Semoga Mama tidak menyesal nanti." Ucap papa Diaz yang juga meninggalkan istrinya dengan kemarahan.


"Kalian berdua sama saja, sama-sama tidak bisa mengerti..!!" kesalnya berteriak.

__ADS_1


.


.


.


Tok...Tok..Tok..


Diaz mengetuk pintu ruangan Ren, mendengar jawaban dari dalam dan Diaz pun masuk.


"Siang pak." Sapanya pada Ren yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Ada apa?" tanya Ren langsung, karena memang ini bukan jadwal penyerahan laporan keuangan.


Ehem


Diaz berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya, meski bagaimana pun, mereka dulu rival yang kini sudah menerima keadaan masing-masing.


"Saya hanya ingin minta tolong_"


Diaz mengutarakan maksudnya menemui Ren, dirinya tidak tahu ingin minta bantuan siapa lagi, karena Diaz memang bukan pria yang mudah terbuka dengan orang.


"Terima kasih pak." Jawab Diaz dengan perasaan senang.


"Tidak usah terlalu formal, kita bukan bicara masalah pekerjaan, panggil saja nama, anggap kita sebagai sahabat atau saudara."


Setelah berbicara Diaz pamit keluar, rasanya beban yang dia pikul sudah berkurang setelah apa yang dia bicarakan pada suami mantan kekasihnya dulu.


"Kak, dari mana?" Alexa yang baru keluar dari lift melihat Diaz yang akan masuk kedalam lift.


"Dari ruangan suamimu." Jawab Diaz sambil tersenyum, arah matanya turun melihat perut Alexa yang buncit. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar, pikirnya melayang kemasa depan jika Gesya juga hamil anaknya.


"Kak, kamu kenapa?" Alexa yang melihat Diaz terseyum sendiri menjadi bingung.


"Oh, tidak." Diaz menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yasudah sana suami kamu sudah nungguin." Diaz memilih masuk kedalam lift, karena merasa malu dilihat Alexa yang terseyum sendiri.


"Lah, dia itu kenapa?" Alexa hanya menoleh, dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan suaminya.

__ADS_1


Ren mendongak ketika ada yang membuka pintu ruangannya tanpa permisi, dan sudah dipastikan jika itu nyonya Birendra, siapa lagi.


"Sayang, tadi kak Diaz dari sini?" Tanya Alexa yang langsung duduk di atas pangkuan sang suami.


Kehamilan Alexa yang semakin membesar justru malah membuat Alexa semakin manja, berbeda jika masih awal kehamilan Ren lah yang cenderung manja.


"Em, memangnya kenapa?" tanya Ren balik membuat Alexa mencebik. Ren memeluk pinggang Istrinya dan mencium kepala Alexa lembut.


"Heran saja, biasanya dia masuk sini hanya dua kali, awal bulan dan akhir bulan." Ucap Alexa membuat Ren tersenyum.


"Ada yang kami bicarakan, dan ini urusan sesama pria."


Mata Alexa memincing, sejak kapan suaminya dekat dengan Diaz sampai bicara masalah pria.


"Ada yang kamu sembunyikan dariku?" Tegas Alexa membuat Ren mengerutkan keningnya.


"Apa? tidak ada." Ren menggeleng.


"Lalu?"


Ren menghela napas, istirnya tidak bisa dibohongi, Alexa akan seperti seorang Intel jika sudah merasa curiga.


"Nanti malam kita diundang kerumah Gesya, Diaz ingin melamar resmi sahabat kamu itu, dan ingin membicarakan pernikahan."


Alexa membulatkan kedua matanya, bibirnya menyunggingkan senyum lebar. "Serius Mas,?" Tanya Alexa tak percaya.


"Ya, dan kita datang sebagai pihak pria," Ren memeluk Alexa, dan menyadarkan kepalanya di pundak sang Istri.


"Gesya, pasti sangat senang, gak nyangka mereka akan sampai dititik ini." Alexa yang mendengarnya begitu senang. Apalagi dirinya juga pernah melukai perasaan Diaz, dan sekarang pria itu bisa mendapatkan wanita baik seperti Gesya.


"Tapi kok kita, bukannya kak Diaz masih ada orang tua?" Ucap Alexa tiba-tiba teringat kedua orang tua Diaz.


"Mereka tidak memberi restu, dan sepertinya Diaz menikah juga tanpa restu orangtuanya." Ucap Ren yang sudah menyusuri leher sang istri.


Alexa hanya diam, " Mass.." Suara Alexa terdengar manja, ketika Ren mwngecupi lehernya.


"Aku ingin makan siangku." Ucap Ren dengan suara berat, pria itu sudah dilanda gairah.

__ADS_1


"Emph."


__ADS_2