Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part131


__ADS_3

Di lain tempat, tapatnya di sebuah kontrakan Alena duduk di kursi dengan kue ulang tahun di atas meja.


Alena tersenyum pilu, melihat angka delapan di atas kue yang hidup lilinnya. Itu adalah kue ulang tahun Alisa.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga Alis panjang umur dan menjadi gadis kecil yang penurut." Alena mengusap pipinya ketika air matanya jatuh. "Maafkan kak Lena yang sudah meninggalkan Alis, tapi percayalah semua demi kebahagiaan Alisa." Dada Alena kian sesak ketika kembali bicara, beberapa kali dirinya menarik napas untuk mengurangi sesak di dadanya karena menangis.


"Alis pasti senang tinggal bersama kak Bimo, pasti Alis sekarang sedang merayakan ulang tahun dengan di telaktir kak Bimo makanan kesukaan Alis." Alena menangis sesenggukan dengan suara terisak.


Dirinya tidak menyangka akan apa yang Ia alami di kehidupan sekarang, rela meninggalkan Alisa dengan orang lain, yang dia percaya akan membuat Alisa bahagia.


Rindu, tentu saja Alena merindukan adik dan suaminya yang sudah dirinya tinggalkan, dan kini Alena sedang merayakan ulang tahun Alisa dengan bingkai foto suami dan adiknya.


"Kakak tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kakak jika membawa kamu Alis." Tangannya mengelus bingkai foto Alisa." Semoga kamu selalu bahagia bersama kak Bimo."


Matanya berpindah menatap foto suaminya.


Air matanya kembali mengalir sesak didadanya kian nyeri. "Maaf Mas, jika aku tidak menepati janji yang pernah aku ucap." Alena menatap foto itu dengan linang air mata. "Janji untuk tidak meninggalkan kamu, aku yang mengingkarinya." Suara Alena begitu serak.


Tersenyum penuh luka Alena mencium foto Bimo. "Semoga kamu selalu bahagia, suatu saat jika tuhan berkehendak pasti kita akan bertemu kembali dengan ku dan anak kembar kita." Alena mengelus perutnya dengan pelan.


"Sshh.." Alena mendesis ketika merasakan gerakan bayinya membuat perutnya kaku. "Lihat mereka pasti ingin di sapa papanya." Alena kembali tersenyum dengan sisa air matanya. "Kamu pasti senang Mas, jika tahu aku sedang hamil anak-anak kita."


.


.

__ADS_1


.


"Kakak apa Alis boleh pesan makanan semua kesukaan Alis?" Ucap Alisa ketika melihat menu makanan yang banyak dia sukai.


"Tentu saja sayang, malam ini Alis yang akan memilih semua menu untuk kita." Ucap Bimo mengelus kepala Alisa.


"Yeah, asikk.." Alisa bertepuk tangan, sehingga membuat beberapa orang sekitarnya menoleh ke arah mereka.


"Sayang jangan keras-keras, nanti mengganggu pelanggan lain." Ucap Mirna pelan.


Alisa hanya menyengir. "Maaf ibu." Jawabnya tersenyum lebar.


Bimo mengajak orang rumah ke restoran yang pasti Alisa sukai dan pasti akan membuat gadis kecil itu bahagia.


Ingin dirinya pergi untuk menenangkan diri, tapi itu bukanlah hal baik, karena Alena memberinya tanggung jawab untuk mengurus Alisa.


Alena pasti sudah memikirkan nasib Alisa sebelum dirinya membawa Alisa juga.


"Kakak..!!" Alisa menggoyangkan lengan Bimo. "Kakak melamun?" Tanyanya yang melihat Bimo diam ketika dirinya memangil sudah beberapa kali.


"Maaf sayang, ada apa?"


"Makanan sudah datang, kakak tidak mau makan?"


Bimo tersenyum. "Makan dong, kan Alisa yang sudah memilih semua untuk kita makan."

__ADS_1


Mereka pun menikamati makanan yang sudah tersedia banyak di atas meja, karena Alisa memesan banyak menu yang ingin dirinya makan, jika urusan makan Alisa lah jagonya.


"Pah, bukanya itu Bimo?" Ucap Leina yang juga datang ke restoran itu bersama suaminya.


Rendy melihat dimana tempat istrinya tunjuk. "Iya mah, itu Bimo." Ucap Rendy.


"Ayo Pah, kita kesan?" Leina menarik lengan suaminya untuk menghampiri putranya.


Tidak di sangka jika kedatanganya ke restoran itu untuk makan malam dengan suami malah melihat Bimo juga berada di sana.


Senyum Leina mengembang ketika melihat Bimo tersenyum kepada Alisa adik istrinya.


"Tapi mah.." Rendy ingin menolak.


"Sudah pah ayo." Leina tak menghiraukan suaminya, karena dirinya senang akan bertemu Bimo.


.


.


.


Alisa kecil😀


__ADS_1


__ADS_2