Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Pemandangan pertama


__ADS_3

Alexa hanya diam menatap Ren yang begitu lahap memakan rujak buah lengkap, bahkan Ren yang tidak bisa makan pedas kini begitu lahap memakan sambal nya, keringat bercucuran namun Ren belum mau berhenti memakanya, dan Alexa hanya melihat Ren makan sudah membuatnya kenyang.


"Mas, jangan banyak-banyak nanti kamu sakit kaya waktu itu." Ucap Alexa yang melihat Ren kembali menambahkan sambal di piring yang masih ada buah dan berlumuran sambal petis kacang.


Alexa tidak ingin Ren mengalami mulas yang berlebih ketika Ia paksa untuk memakan bakso.


"Em, ini enak sayang kamu tidak mau." Ren mengunyah sambil bicara, bahkan pria itu sekali mengusap wajahnya yang keluar keringat.


Ren memesan satu cobek sambal petis untuknya, jika yang lain hanya di siram di atasnya, maka Ren memilih memesan sendiri dengan banyak, alasannya biar tidak nambah lagi dan lagi. Tapi isi cobek itu pun tinggal sedikit yang awalnya banyak.


"Mass.." Alexa ngeri sendiri melihat cara makan suaminya, dirinya yang hamil tapi kenapa Ren yang makan banyak rujak seperti ini.


.

__ADS_1


.


"Mas, terima kasih sudah mengantarkan kami." Nisa tersenyum dengan menggandeng anak perempuan berusia sepuluh tahun.


"Tidak apa, hanya kebetulan aku lewat." Bimo berkata dengan berdiri di depan Nisa dan gadis kecil itu.


Nisa sedang membawa mobilnya ke bengkel karena ada kerusakannya, dan ketika ingin menunggu taksi online mobil Bimo melintas didepanya, dengan Daniel yang mengemudi, dan Bimo pun menawari tumpangan pada Nisa.


Mereka sedikit berbincang didepan toko bunga, karena Nisa meminta berhenti disana untuk membeli sesuatu yang dia butuhkan.


Ren pun menoleh ke arah yang di tunjuk Istrinya, dan dia juga melihat itu adalah papanya.


"Iya sayang, tapi papa dengan siapa?" Ucap Ren lagi yang merasa heran melihat papanya, mengobrol dengan seorang wanita dengan senyum.

__ADS_1


"Mungkin temannya mas." Alexa menatap suaminya, yang hanya terlihat santai. "Mas jika papa menikah lagi apa mas akan setuju." Entah mendapat keberanian dari mana Alexa bertanya seperti itu, dan kini dia menyesal telah berucap lancang.


"Maksud ku_"


"Tidak apa asal papa bahagia." Potong Ren melirik Alexa sekilas. "Aku juga ingin melihat papa bahagia menjelang hari tuanya, tapi_"


"Tapi apa mas?" Alexa menunggu kelanjutan ucapan Ren.


"Tapi aku rasa papa tidak akan melakukan itu, karena sampai sekarang yang aku lihat papa tidak bisa berpaling dari mendiang mama."


Ya, Ren mengetahui jika papanya masih terus mengingat sang Mama, dimana Bimo yang belum bisa menggantikan Alena dalam hatinya.


Jika itu terjadi padanya mungkin Ren akan melakukan hal yang sama, kehilangan orang yang kita cintai itu sungguh berat, apalagi meninggalkan buah hati mereka sebagai pengikat yang kuat.

__ADS_1


Alexa menyentuh bahu suaminya dan mengelusnya, "Kita doakan saja yang terbaik untuk papa, pasti papa akan bahagia dengan caranya sendiri." Alexa tersenyum dan menyadarkan kepalanya di bahu Ren, membuat tangan Ren mengelus kepalanya sebentar.


"Ya, kami selalu mendoakan yang tebaik untuk papa dan mama." Ren menatap lurus kedepan, bayangannya ketika papanya tersenyum dengan Wanita lain membuat Ren ikut tersenyum tipis. Karena selama ini papanya tidak pernah berinteraksi dekat dengan Wanita, tapi pemandangan tadi, menjadi pemandangan awal untuk Ren lihat.


__ADS_2