Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part34


__ADS_3

Tidak ada alasan bagi keduanya untuk tidak memiliki perasaan satu sama lain, Jika saja perasaan bisa memilih kepada siapa akan berlabuh mungkin Alena bisa memilih.


Ini bukan hanya masalah perasaan yang harus di kedepankan, melainkan dirinya yang sudah menjadi milik orang lain. Hatinya pun tak bisa dibohongi jika dirinya juga sudah mulai menaruh rasa kepada bosnya, apalagi ketika Bimo mengucapkan cinta padanya.


Bukan perkara mudah jalan yang akan dirinya jalani, keluarga tunangannya yang begitu baik kepadanya dan Alisa membuat Alena tidak tega untuk mengecewakan mereka semua. Diki adalah pria yang baik, Alena merasa nyaman dan terlindungi jika bersamanya, mengenal Diki dirinya kembali mengingat almarhum ayahnya.


Tapi entah mengapa jantungnya tak pernah berdebar begitu cepat ketika bersama Diki, berbeda ketika berdekatan dengan Bimo.


Tidak ingin terlalu jauh memberi harapan pada hati pria lain, yang jelas-jelas dirinya sudah mempunyai tunangan.


.


.


"Kamu masak apa?" Bimo berdiri dibelakang Alena yang sedang memasak untuk makan malam. Tangannya memeluk Alena dari belakang, namun Alena mengelak dengan bergeser mengambil piring.


"Seperti biasa, hanya ada bahan untuk membuat nasi goreng." Sebisa mungkin dirinya menahan gejolak yang selalu datang ketika berdekatan dengan Bimo, Alena mencoba menghindar memberi jarak.


Bimo yang merasa mendapat penolakan tersenyum kecut, dirinya tidak mendapat jawaban atau ucapan apapun ketika sudah mengutarakan perasaannya.


Apalagi sekarang melihat Alena yang terus menghindar ketika dirinya mencoba untuk membantu pekerjaan di apartemen atau mencoba mendekatinya.


"Sudah selesai, apa kamu tidak mau makan." Alena menatap Bimo yang masih berdiri di tempat yang tadi tatapan nya tak lepas menatapnya.

__ADS_1


Alena menaruh sepiring nasi goreng, dan segelas air putih di meja, tempat Bimo makan.


"Pekerjaanku sudah selesai, apa aku sudah boleh pulang." Alena mencoba menatap kearah Bimo yang berjalan mendekat. Sejak tadi dirinya selalu menghindari tatapan bosnya.


Bimo duduk dikursi yang sudah ada makanan di atas meja.


"Apa kamu tidak ingin menemaniku makan?" Tanyanya dengan menatap Alena yang masih berdiri. Entah mengapa mendapati sikap Alena yang seperti ini membuat dadanya nyeri.


"Aku harus segera pulang, kasian Alisa jika harus menungguku." Alena memberi alasan agar dirinya segera keluar dari apartemen Bimo.


Bimo nampak mencekram erat sendok yang Ia genggam, menarik napas dalam demi mengurangi dadanya yang bergejolak kesal.


"Pulanglah kalau begitu." Ucapnya tanpa melihat Alena, dan lebih memilih makan dengan diam.


Prang..


Bimo menghempaskan sendok di tangannya, hingga membuat bunyi nyaring ketika terbentur piring.


Matanya menatap pintu yang baru saja Alena tutup dan tubuh gadis itu menghilang.


.


.

__ADS_1


"Tumben sih kok lama?" Alena melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir lima belas menit dirinya menunggu Ojol tapi tak juga sampai.


"Ck. bisa kemalaman kalau begini." Alina menengok kiri dan kanan mencari kendaraan transportasi yang bisa ia naiki.


Tin..tin..


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Alena berdiri, orang itu keluar ketika melihat Alena.


"Lena..?"


"Mas Diki." Alena nampak terkejut ketika melihat tunangannya yang tiba-tiba muncul.


"Kamu ngapain disini?" Diki berdiri didepan Alena dengan penuh tanya.


Karena setahunya Alena akan segera pulang jika sudah selesai bekerja, kecuali jika ada lembur.


Alena menatap wajah Diki bingung, karena tidak tahu harus mencari alasan apalagi.


"Sedang apa kamu disini Alena?" Suara Diki begitu menuntut untuk dijawab.


"Aku sedang berkunjung ketempat teman, ya teman." Alena gugup dan sedikit merapikan rambutnya kebelakang telinga, demi mengurangi rasa groginya.


"Teman? kamu punya teman yang tinggal di daerah apartemen ini." Tanya Diki lagi yang belum percaya.

__ADS_1


"Bu-bukan di apartemen nya, tapi di belakang apartemen ini, tempatnya tinggal." Ucap Alena lagi demi menyakinkan Diki. Dirinya tidak pernah berbohong, namun sudah dua kali dirinya terpaksa harus berbohong. 'Ya Tuhan ampuni aku.'


__ADS_2