Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Bahagia


__ADS_3

Malam hari Alexa sudah rapi dengan penampilannya, mengenakan pakaian berbahan kebaya dengan bentuk modern yang sangat cocok untuk dirinya, apalagi sedang berbadan dua dengan perut buncit.


"Sayang apa sudah siap?" Nathan masuk kamar dan melihat sang istri sedang mengambil tas kecil untuk pemanis.


"Sudah mas." Alexa terseyum manis.


"Cantik." Ren melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Papa twins juga tampan." Satu kecupan Alexa berikan di pipi Ren.


Ren terseyum lebar. Memakai kemeja batik panjang Ren begitu tampan.


"Ayo, Diaz sudah menunggu. Dia sudah tidak sabaran." Ucap Ren dengan menuntun Alexa keluar.


Diaz memang datang keaparteman Ren, buka Ren yang mendatangi Diaz.


"Ayo, nanti dikira kita tidak jadi berangkat." Ucap Ren pada Diaz ketika sudah sampai diruang tamu.


Dian nampak tersenyum melihat penampilan Alexa yang begitu cantik. Hanya sebatas senang dan tidak lebih karena nyatanya rasa yang pernah dia miliki kini sudah pindah pada wanita lain.


"Papa sudah menunggu di bawah, maaf Diaz aku membawa papaku." Ren menampilkan deretan gigi putihnya. "Bukannya apa-apa, kita masih muda tidak enak jika tidak ada orang tua." Ucap Ren dengan menepuk punggung Diaz.


"Tapi, apa tidak merepotkan tuan Bimo." tanya Diaz yang merasa tidak enak. Apalagi Bimo adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Tidak, papa justru senang karena dia ada kesibukan." Ren tertawa.


Papanya memang aneh, urusan kantor dia serahkan pada orang kepercayaannya dan bisnis lainnya juga seperti itu. Dan kini dia merasa sepi karena tidak ada perkejaan lain, dan hanya menghabiskan waktu bersama si kembar di rumah.


Karena adanya si kembar Bimo menjadi ingin pensiun dan menghabiskan waktu bersama sang cucu, belum lagi menunggu kelahiran cucu keduanya yang masih dalam kandungan Alexa.


"Papa." Alexa lebih dulu menghampiri papa mertuanya.


"Apa kabar nak." Bimo mengusap kepala Alexa.


"Baik pah." Alexa terseyum.


"Pah, ini Diaz yang ingin melamar Gesya." Ucap Ren memperkenalkan Diaz.


"Em, Papa sudah tahu." Jawab Bimo terkekeh


Diaz pun menyalami Bimo." Apa kabar tuan." Tanya Diaz tersenyum, dirinya tidak menyangka akan dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.


"Yah, seperti yang kamu lihat, semakin tua." Mereka semua tertawa.


"Tapi anda masih tetap tampan pak," Jawab Diaz dengan jujur, meskipun termakan usia tapi pancaran kharisma ketampanan seorang Bimo Bagaskara belum luntur.


"Ah, kamu bisa saja, kalau begitu saya bisa merayu gadis dong."

__ADS_1


"Papa, jangan mulai deh." Kesal Ren, karena papanya lebih suka bicara ngasal, yang bikin kesal.


Mereka semua tertawa, lalu masuk ke mobil masing-masing untuk berangkat menuju rumah Gesya.


.


.


.


Gesya dan ibunya harap-harap cemas, sejak tadi mereka menunggu kedatangan Diaz, apalagi sekarang sudah jam delapan lewat, padahal Diaz bilang akan datang sebelum jam delapan.


"Apa mereka tidak jadi datang ya Bu?" Ucap Gesya dengan wajah masam.


"Sabar nak, mungkin ada kendala di jalan." Ibu Gesya sejak tadi menenangkan putrinya, meskipun beliau sendiri juga merasa khawatir jika Diaz tidak akan datang, pasti hati putrinya akan terluka.


Tak lama suara mesin mobil memasuki perkarangan rumah Gesya, tiga mobil mewah berjejer di depan rumah Gesya.


"Nah, itu mereka." Ucap beberapa tetangga Gesya yang hadir untuk menjadi saksi acara lamaran Gesya.


"Nah mereka datang." Ucap ibu Gesya, membuat Gesya tersenyum.


"Ayo kita sambut." Gesya dan ibunya berjalan ke arah pintu, untuk menyambut tamu yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu.


Nampak Empat orang berjalan menuju rumah Gesya, diantara ada Diaz yang berada di belakang Bimo.


"Malam tuan, mari silahkan masuk." Seorang bapak-bapak sebagai wakil tuan rumah untuk kelaurga Gesya.


Mereka masuk setelah di persilahkan, tapi sesaat kemudian suara seseorang membuat mereka berhenti.


"Tunggu pak." Papa Diaz datang seorang diri.


"Papa." Diaz pun kaget karena melihat papanya berada disana, dia Diaz melihat kebelakang apakah ada Mamanya.


"Saya papa Diaz, maaf baru sampai." Ucap beliau terseyum, kepada Bimo dan beberapa orang yang berada di sana. Gesya yang melihat dari dalam merasa terkejut, dirinya takut jika kehadiran orang tua Diaz hanya ingin menggagalkan acaranya.


"Pak, Dean apa kabar?" Sapa Bimo dengan mengulurkan tangannya.


Dean papa Diaz penerimanya. "Baik pak, senang bisa bertemu anda disini."


Bimo hanya tersenyum, dan mereka kembali masuk setelah berbincang sebentar.


Ren pun berbisik pada Diaz. "Papamu tidak akan merusak acara kan, kasihan kamu jika harus batal lamaran."


Bugh


Bukan Diaz yang memukul, tapi Alexa yang berada disampingnya.

__ADS_1


"Mas, jaga bicaramu. Papa kak Diaz ingin memberi restu, kamu malah membuat kak Diaz takut." Kesal Alexa pada suaminya yang aneh.


Ren hanya nyengir, dan Diaz tersenyum geleng kepala.


"Ck, kamu terlalu serius sayang." Ren merangkul pundak istrinya untuk masuk ke dalam.


Gesya nampak gugup, ditemani Alexa gadis itu hanya diam.


"Maksud kedatangan kami kemari ingin melamar anak ibu yang bernama Gesya, untuk anak saya Diaz Diandra." Ucap Papa Diaz, "Saya sebagai orang tua hanya bisa berdoa agar anak-anak kami bahagia dengan pilihanya, maka dari itu apakah lamaran anak saya diterima oleh nak Gesya." Papa Dien menatap Gesya yang mengangkat wajahnya.


"Jawab Sya, mau tidak." Ucap Alexa pelan.


Gesya menatap ibunya yang juga menatapnya, melihat ibunya menggaguk dan terseyum Gesya menarik napas lebih dulu.


Diaz menatap calon isterinya yang begitu cantik malam ini.


Sedangkan Bimo hanya tersenyum melihat sesuatu yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar.


"Saya mau Om." Jawab Gesya dengan terseyum tipis.


Semua mengucap syukur dan bahagia, kini Diaz maju membuat Gesya berdiri.


"Terima kasih sudah menerima lamaranaku." Diaz terseyum lalu mengeluarkan kotak cincin yang sudah mereka beli, meskipun terburu-buru.


Gesya mengulurkan tangannya dan Diaz memakaikan cincin sebagai pengikat cinta mereka di jari manis Gesya.


Semua bertepuk tangan, Alexa langsung memeluk Gesya, padahal Diaz masih ingin mencium kening Gesya.


"Nanti kak, kalau sudah sah." Ledek Alexa membuat mereka tertawa. Diaz hanya garuk kepala, jika bukan istri bos-nya pasti Alexa sudah kena jitak.


Semua sudah kembali duduk tempatnya masing-masing setelah memberi selamat dan berfoto selfie.


"Saya juga mau menanyakan sesuatu." Ucap papa Dean, menatap putranya.


"Diaz dan nak Gesya, bagaimana jika pernikahan kalian diadakan Minggu depan, papa sudah siapkan semua dan kalian hanya melakukan fitting baju pengantin saja." Ucap papa Dean tiba-tiba membuat mereka merasa terkejut.


"Tapi kenapa Pah, Diaz bisa menyiapkan sendiri." Diaz menatap papanya tak percaya.


Papa Dean mengehela napas. "Papa hanya ingin Kelian cepat menikah dan papa mendapatkan cucu." Jawaban papa Dean membuat mereka semua tertawa.


Gesya tersipu malu, mendengarnya.


"Yasalam tuan, hanya karena ingin cucu anda membuat kami syok." Keluh Ren yang juga ikut tertawa.


Diaz melirik kekasihnya yang akan menjadi halal untuknya. Gesya yang ditatap, mengangguk bertanda setuju.


"Baiklah Diaz akan menikah Minggu depan."

__ADS_1


__ADS_2