
Ren mengajak Alexa ke kedai rujak buah eskrim hasil yang dia dapat dari sosmed, karena permintaan aneh sang Istri dan ternyata ada juga yang menjualnya.
Lumayan jauh dari kantor, tapi Ren tetap menuruti permintaan sang Istri demi kenyamanan dan kesejahteraan dalam rumah tangganya.
Tidak ingin menunggu lama Ren langsung pesan dengan alasan istri ngidam, karena Alexa duduk di dalam mobil dan tidak mau turun. Karena pembeli juga ramai pasti tidak ada tempat duduk, karena kedai itu hanya kedai kecil tapi pembelinya banyak dan rata-rata kebayangkan orang ngidam.
"Istri saya juga ngidam mas, tapi saja rela antri." Ucap mas-mas yang ikut ngantri dan dia membawa Istrinya juga.
Ren menggaruk kepala, dia lupa jika rujak itu adalah makanan khas orang ngidam.
"Saya tlaktir deh semua yang ada disini, asal saya dapet duluan, kasihan istri saya udah kepengen makan." Ren mengeluarkan idenya yang kedua, Setelah yang pertama tidak berhasil.
Mereka semua setuju dan nampak senang.
"Bapak, biasanya segini dapat uang berapa?" Tanya Ren panda penjual rujak es krim itu.
"Ini tinggal setengah den, jadi sekitar tujuh ratus ribu." Jawab penjual itu.
Ren pun hanya mengangguk dan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Ini saya bayar semua, jadi yang beli dapat gratis, dan saya terima kasih untuk semua yang sudah boleh saya dapat ini duluan." Ren menunjukan kantung keresek berisi tiga cup yang dia beli, dengan varian lengkap.
Mereka semua mengucap terimakasih kasih, dan Ren pun pergi.
"Loh mas kok cepet banget." Ucap Alexa, ketika batu sepuluh menit Ren sudah kembali masuk ke mobil, sedangkan antrian disana bertambah banyak.
Tok..tok..tok..
Tak lama pintu kaca Ren di ketuk, bapak penjual menghampirinya. "Aden uang nya kebanyakan, kan cuma tujuh ratus ini lebih." Ucap bapak itu yang menunjukan uang ratusan ribu berjumlah sepuluh lembar.
Ren terseyum. "Uangnya untuk bapak semua, anggap saja rezeki. do'akan agar istri saya melewati persalinan dengan lancar." Ucap Ren menatap bapak itu yang langsung terseyum lebar.
"Terima kasih den, non. Semoga di beri kesehatan dan kelancaran hingga persalinan, sekali lagi bapak terima kasih." Penjual itu terharu, bertemu orang baik seperti Ren.
"Aminn, terima kasih pak, kami permisi." Alexa ikut berterima kasih, dan Ren pun menjalankan mobilnya, setelah bapak penjual pergi untuk kembali melayani pembeli yang mengantri panjang.
__ADS_1
"Memangnya apa yang mas lakukan?" Tanya Alexa, sambil membuka satu cup yang dia inginkan.
"Hanya memberi sedikit." Ren menoleh sebentar lalu tersenyum. "Apa enak?" tanya nya, dengan wajah penasaran.
"Enak, seger. Mau coba." Alexa menyuapi Ren satu sendok kecil, Ren pun membuka mulut.
"Enakkan, manis asem dingin gimana gitu, pantas aja ramai pembelinya." Seru Alexa yang merasa puas dengan rasa yang dia cicipi.
"Hm, ternayata enak. Suapi lagi sayang." Pinta Ren lagi yang juga doyan.
Akhirnya mereka pun suap-suapan di dalam mobil.
.
.
"Ibu jangan diam saja dong, cari kerja kek cari uang." Kesal Maura yang melihat ibunya hanya berdiam diri di dalam rumah kontrakan kecil. Mereka baru pindah dari rumah besar peninggalan ayah Alexa tiga hari lalu.
"Ini semua gara-gara kamu Maura, kalau saja kamu tidak suka foya-foya dan banyak menghabiskan uang pasti tidak akan seperti ini." Ibu Maura juga kesal, ketika putrinya selalu menyalahkannya.
"Ibu jangan salahin aku dong, kalau saja ibu tidak gatel dengan pria brengsek yang hanya menguras uang ibu, hidup kita pasti tidak berakhir di rumah ayam seperti ini." Maura yang juga kesal tersulut emosi, ikut menyalahkan ibunya yang pacaran dengan pria pengangguran yang tidak berguna, dan hanya di manfaatkan untuk mendapatkan uang ibunya saja.
"Ini adalah balasan untuk ibu, yang sudah merebut suami orang dan menghancurkan rumah tangga mereka, sekarang ibu rasakan apa yang pernah ibu perbuat."
"Maura..!!"
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Maura, gadis itu semakin tajam menatap ibunya.
"Pergi kamu, jangan pernah kembali. Anak Sialan." Ibu Maura pun tak kalah emosi.
Maura yang terluka fisik dan hati berlari keluar rumah dengan perasaan kesal dan terluka.
Dirinya membedakan kehidupannya dulu dan sekarang, apalagi sekarang melihat Alexa yang hidup baik dari dirinya membuatnya kian bertambah benci.
__ADS_1
"Semua gara-gara wanita sialan itu."
Maura menyalahkan orang lain, padahal mereka laga yang salah sudah merebut kebahagiaan orang lain, hanya ketika melihat orang yang tidak kita suka lebih baik hidupnya di atas kita membuat Maura menyimpan rasa iri dan benci yang tak beralasan.
Ibu Maura menjebak ayah Alexa, pria yang cukup mapan dengan jabatan pekerjaannya. Ibu Maura yang bekerja sebagai sekertaris di perusahaan yang sama, rela menjadi wanita licik demi mendapatkan ayah Alexa yang sebagai manager pemasaran waktu itu.
Pada dasarnya jika kita tidak membuka celah untuk orang lain masuk, maka tidak akan ada orang ketiga yang bisa membuat rumah tangga kita menjadi pecah dan berpisah.
.
.
Sena yang sedang menggantikan popok untuk Ameer tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang, siapa lagi pelakunya jika bukan suami tampannya.
"Ar, tumben udah pulang." Sena tersenyum dan masih melanjutkan kegiatannya yang belum selesai. Aaron bergelayut di punggung sang Istri, kepalanya Ia sandarkan di bahu Sena.
"Hm, kangen ini." Aaron sedikit meremat kelembutan sang istri.
"Ar,, ish jangan mesum deh." Sena menggoyangkan badannya agar Aaron melepaskan tangannya.
"Tapi aku beneran rindu ini, dan ini sayang." Tangannya turun di bagian bawah Istrinya.
"Ar, aku masih mengurus Ameer." Kesal Sena yang digoda oleh suaminya.
Aaron memang seperti itu jika menginginkan sesuatu. Sena terkadang tidak habis pikir.
"Em, setelah ini boleh?" Aaron menegakkan tubuhnya, dan menoleh pada wajah Sena. "Boleh?" Tanya Aaron lagi dengan wajah memelas.
"His, kamu itu sudah tua tapi seperti anak kecil." Sena mengulum senyum. "Mandi dulu gih, biar wangi." Sena menutup hidung, pura-pura kebauan.
"Mandiin." Aaron merwngek, menyandarkan keningnya di bahu sang istri, tangannya kembali memeluk dari belakang.
Sena membalikkan tubuhnya berhadapan, membuat Aaron bisa menatap wajah cantik Istrinya. "Papa mandi, Mama mau nidurin Ameer dulu. Kasihan dia udah ngantuk banget." Tangan Sena menangkup wajah suaminya.
Memberikan kecupan dibibir Aaron. "Tunggu Mama dikamar mandi." Sena tersenyum, membuat Aaron semakin melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Jangan lama-lama." Sebelum pergi Aaron melumatt sebentar bibir Sena, jika tidak di dorong Sena pasti berbuntut panjang.
"Hm, sana." Sena mediring tubuh suaminya menjauh, lalu dia kembali pada Ameer agar bayi lima bulan itu tertidur.