Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Menjadi milikku


__ADS_3

Diaz mengantarkan Alexa, lebih tepatnya kekasih yang baru beberapa jam mereka jadian, dan kini pesta telah usia di jam sepuluh malam.


Diaz memakaikan jas yang dia pakai pada Alexa untuk menutupi bahu Alexa yang terbuka agar tidak terkena angin malam.


"Terimakasih kak." Meskipun hanya perlakuan sederhana tapi sebagai wanita Alexa merasa terharu.


"Sama-sama." Diaz membukakan pintu mobil untuk Alexa, dan setelahnya dirinya ikut masuk.


Mereka yang sedang kasmaran tidak tahu jika ada hati yang sakit dan panas melihat hal itu, dan orang itu adalah Birendra.


Ren yang melihat Diaz mengajak Alexa pergi membuatnya mengikuti kemana kedua orang itu, dan dirinya tidak menyangka jika alexa di bawa ke rooftop gadung kantor, dan disana Diaz menembak Alexa untuk menjadi kekasihnya dan Alexa menerima pria itu.


Hati Ren begitu panas melihat senyum bahagia di wajah Alexa, senyum yang tidak pernah Alexa perlihatkan untuk dirinya dan Ren merasa kesal dan marah.


"Sial...!!" Umpatnya dengan menginjak pedal gas lebih dalam, dirinya tidak pernah merasakan hal seperti hati, hatinya terasa sakit dan marah menjadi satu. Dan dirinya tidak bisa mencegah mereka untuk tidak jadian, rasanya Ren ingin sekali memukuli wajah pria yang sudah berani mengatakan perasaannya pada Alexa.


Ren semakin menambah kecepatan mobilnya dia melajukan mobilnya menuju apartemen pribadinya.


Prang


Suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring, remuknya kaca berceceran di lantai, dan darah segar mengalir di punggung tangannya.


Napas Ren memburu dengan perasaan amarah yang membuncah, dirinya tidak akan membiarkan Alexa dimiliki oleh pria lain selain dirinya.


.


.


.


"Pagi pak?"


"Pagi pak Ren."


Pagi ini tidak ada balasan sapaan untuk mereka yang menyapanya, wajah Ren yang dingin dan datar sangat jelas terlihat, seperti orang yang sedang menahan amarah.


Ting


Pintu lift terbuka, Ren segera masuk dan ketika membalikkan tubuhnya didepan sana dirinya melihat Alexa dan Diaz sedang berjalan bersama dengan tertawa, apalagi wajah Alexa begitu bahagia membuat tangan Ren mengepal kuat.


Sesampainya di atas Ren memanggil Juno asisten nya.


"Ada apa pak?" Tanya Juno yang sudah berdiri didepan meja bosnya.


"Berikan pengumuman baru di kantor ini, jika antara karyawan Bagaskara Grub tidak ada yang boleh memiliki hubungan, dan jika ketahuan ada yang sembunyi-sembunyi maka mereka harus mengundurkan diri." Ucap Ren tegas menatap Juno.


Juno yang mendengarnya hanya mengernyitkan kening. "Bukankah peraturan itu tidak boleh di buat pak, dan itu sudah keputusan pak Bimo." Jawab Juno mengingatkan Ren.


Ren menatap Juno tajam. "Sekarang aku yang memimpin perusahaan ini, dan aku yang berhak untuk membuat keputusan apapun." Ucap Ren dengan tegas.


Juno Hanya menghela napas, ada apa dengan bosnya itu.


"Baik pak, saya akan melaksanakannya." Juno menunduk hormat dan pergi.


Ren menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, dirinya merasa kesal, "Bahkan aku bisa membuat kalian keluar dari perusahaan ini." Gumamnya dengan tersenyum menyeringai.


Tidak peduli dengan apa yang sudah di tetapkan oleh sang papa selama menjalankan perusahaan, yang sekarang adalah dirinya yang menjadi pemimpin, jadi apapun yang dia katakan sudah menjadi keputusanya.


Susana kantor pagi ini menjadi heboh karena beredar surat pengumuman baru yang dibuat langsung oleh pemimpinan mereka.


Banyak karyawan yang merasa kesal dan dongkol dengan keputusan yang bos mereka umumkan. Karena jika mengingat kebelakang pengumam yang dulu tidak ada larangan untuk sesama keryawan memiliki hubungan. Dan sekarang pengumuman itu berubah.


Bagi yang sudah terlanjur memiliki hubungan, kekasih ataupun suami istri, dan hubungan mereka sudah di ketahui khalayak umum, maka dengan terpaksa mereka mengundurkan diri.


"Peraturan apa ini, selama di pimpin pak Bimo tidak ada peraturan seperti ini." Mita yang notabennya memiliki suami yang bekerja di gedung yang sama, tapi suaminya di bagian staf marketing membuatnya gusar. Dirinya butuh biaya hidup untuk keluarga mereka, apalagi ibu mertua sedang sakit keras. Dia dan suami sedang berbagi tugas dengan penghasilan dari gaji mereka.


"Iya, apa alasan pimpinan kita membuat pengumuman seperti ini, padahal pak Bimo dulu juga menjalin kasih dengan OB di kantor ini bahkan sampai menikah." Ucap Hendra yang juga protes dengan aturan baru itu.

__ADS_1


Alexa hanya diam membaca surat yang tertera, dirinya tidak tahu jika aturan baru seperti ini karena dirinya.


"Apa kita perlu menghadap atasan mbak." Ucap Alexa pada Mita yang notabennya memiliki suami yang berkerja di kantor yang sama.


"Tidak tahu Lex, tapi rasanya tidak mungkin kita melakukan itu." Ucap Mita dengan wajah sedih.


Mereka semua nampak diam dengan pikiran masing-masing, kesal dan juga tidak terima dengan peraturan yang dibuat pemimpin mereka.


Alexa beranjak dari duduknya untuk menemui seseorang, dirinya tidak memikirkan hubungan yang baru saja terjalin dengan Diaz, melainkan memikirkan karyawan lain seperti Mita.


Alexa yakin jika di kantor ini banyak karyawan yang memiliki hubungan satu sama lain, tapi dirinya tidak mengerti kenapa Birendra bisa membuat keputusan seperti itu.


Ting


Pintu lift terbuka, Alexa sampai di lantai sepuluh. "Mbak pak Birendra nya ada?" Tanya Alexa pada Angel.


"Ada mbak masuk saja." Jawab Angel yang memang bos nya ada di dalam.


Alexa mengetuk pintu besar itu, dan setelah mendapat sahutan dirinya mendorong pintu untuk masuk.


"Maaf pak, mengganggu." Ucap Alexa tetap sopan. Dirinya bisa menempatkan diri jika sedang berhadapan formal dengan bosnya.


Kepala Ren mendongak, menatap Alexa yang juga menatapnya. "Saya tidak memanggil mu, untuk apa kamu kesini." Ucapnya ketus dan kembali pada kesibukannya.


"Maaf pak, tapi ada yang perlu saya bicarakan." Alexa masih berdiri, dengan jarak dua meter dari Ren duduk.


"Saya tidak punya waktu, lebih baik kamu keluar." Ren tidak peduli dengan apa yang akan Alexa bicarakan, yang jelas dirinya masih kesal dengan Alexa.


"Apa bapak tidak memikirkan nasib orang setiap mengambil keputusan? apa bapak tidak pernah melihat kesedihan pada orang yang anda rugikan? apa salahnya memiliki hubungan pribadi di kantor yang sama, jika mereka masih tetap baik pada kinerja mereka, apa bapak tidak pernah berfikir jika kehidupan mereka sangat bergantung pada perusahaan ini, lalu bagaimana nasib mereka yang biasa bekerja dua orang dan yang satu mengundurkan diri hanya karena peraturan yang anda putuskan sendiri." Alexa bicara tanpa rasa takut, dirinya tidak perduli jika setelah ini dirinya yang akan di pecat.


Ren berdiri dan mendakati dimana Alexa sedang berdiri dengan wajah kesalnya.


"Lalu apa urusannya dengan kamu," Ren berhenti dengan jarak dua langkah dari Alexa. "Apa kamu juga ingin menyelamatkan hubungan mu dengan dalih membawa nama mereka?" Ren manatap Alexa remeh. "Jika Ia maka kamu seharusnya sadar, dan mulai memikirkan untuk mengundurkan di_"


"Apa anda melakukan ini karena hubungan saya." Alexa balik bertanya, dirinya bisa menebak dari ucapan Ren yang membawa hubungannya, padahal tidak ada orang yang tahu jika dirinya memiliki hubungan dengan Diaz.


"Cih, percaya diri sekali." Ren berjalan memutari tubuh Alexa. "Jika kamu ingin aku membatalkan peraturan itu, maka ada syaratnya." Ren berhenti tepat didepan wajah Alexa, jarak mereka sangat tipis, hingga keduanya saling tatap dengan jarak dekat.


"Jika itu mau anda maka maaf, saya tidak peduli dengan syarat anda, lebih baik saya mengundurkan diri." Alexa ingin berbalik, dengan cepat Ren menarik tangannya kuat. "Lepas..!!" Alexa menyentak tangan Ren kuat, tapi tak bisa.


"Kamu..!!" Mata Ren penuh amarah menatap Alexa. "Jangan pikir kamu bisa pergi dengan mudah." Tangannya menarik pinggang Alexa, membuat tubuh Alexa merapat tanpa jarak. "Apa pria itu sangat berarti untukmu, apa dia lebih segalanya dari aku hah..!!" Suara Ren meninggi membuat Alexa memejamkan matanya. "Aku beri kamu gaun, tapi kamu tidak memakainya, padahal aku ingin melihat kamu memakai gaun yang aku pilih sendiri khusu untuk mu, dan apa yang aku lihat dan dengar, kamu menerima cinta pria sialan itu dengan mudah.!!" Ren bicara dengan nada penuh penekanan, tangannya mencekram erat pinggang Alexa membuat wanita itu menahan rasa ngilu.


Dada Ren bergemuruh ketika mengingat bayangan Alexa tersenyum bahagia ketika menerima cinta dari pria lain, sedangkan dirinya yang meminta Alexa untuk menikah dengannya mendapat penolakan. Sungguh Ren merasa sakit hati, dirinya merasa harga dirinya di jatuhkan oleh Alexa.


"Bukan urusan anda, memangnya anda siapa? anda tidak berhak mencampuri kehidupan saya." Ucap Alexa sengit, sebisa mungkin dirinya menghilangkan rasa takutnya ketika melihat tatapan kemarahan yang begitu besar di mata Ren.


Ren tersenyum smirik, "Baiklah akan aku tunjukan siapa aku." Dengan gerakan cepat, Ren mengendong tubuh Alexa seperti karung beras.


"Sialan, lepaskan aku.!!" Alexa berteriak dan memukul-mukul punggung Ren, tapi tak dihiraukan oleh pria itu. Beruntung ruangan Ren kedap suara sehingga Alexa berteriak tidak ada orang yang mendengar.


Bugh


Ren menjatuhkan tubuh Alexa kasar di atas ranjang ruang pribadinya.


Alexa menatap takut sekeliling, apalagi Ren sudah melepaskan jas dan juga kemejanya, membuat dada bidang Ren terekspose bebas.


Glek


Alexa menelan ludah kasar, melihat pria bertelanjang dada untuk pertama kali didepan matanya.


"Mau apa kau..!!" Ucapnya dengan penuh amarah.


Ren perlahan mendekati Alexa yang sudah tak berkutik. "Turuti syarat ku, maka semua akan kembali seperti semula." Tangan Ren ingin menyentuh wajah Alexa, tapi ditepis kuat olehnya.


"Jangan sentuh aku." Alexa memeluk kedua kakinya dengan perasaan takut, dirinya tidak mau berakhir dengan pria brengsek seperti Birendra.


"Lalu siapa yang boleh menyentuhmu hm.." Ren semakin merapatkan tubuhnya, meraih dagu Alexa. "Aku akan membayar mu mahal untuk ini, lebih dari yang mereka berikan padamu." Ren mengecup bibir Alexa sekilas.

__ADS_1


"Breng_ Emph." Alexa tak bisa menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah lebih dulu di lumatt oleh Ren, dengan tubuhnya yang terkunci.


Ren melumatt bibir ranum Alexa penuh perasaan, dengan menyesap dan melumatt nya lembut untuk membuat Alexa terbuai.


Alexa yang mendapat kecupan lembut membuatnya tak bisa berpikir, dirinya ingin memberontak tapi buaian bibir Ren begitu memanjakan dirinya.


"Engh.." Alexa meleguh dan kesempatan itu di gunakan Ren untuk menyiapkan lidah nya masuk, mengapsen setiap gigi dan rongga di didalam sana, merasai rasa manis yang membuatnya kian terbakar api gairah.


Merasakan Alexa sudah menerima sentuhannya nya, tangan Ren merayap ke punggung, mengelus punggung Alexa naik turun.


Suara decapan dua bibir yang saling bertautan membuat gairah keduanya semakin berkobar, siapa yang tak terlena jika mendapat cumbuan yang mematikan syaraf otaknya, Alexa tak berdaya ketika sentuhan bibir Ren menguasainya.


"Ah.." Alexa mengeluarkan suara indahnya, ketika tangan Ren meremas lembut kedua buah dadanya dari balik pakaian yang masih Ia kenakan, dan bibir basah Ren menyusuri rahang hingga lehernya.


Ren semakin bersemangat untuk melakukan hal yang sudah membuatnya merasa tersiksa, tubuhnya merespon cepat ketika bersentuhan dengan Alexa.


Srekk


Dengan napas yang memburu, Ren merobek kemeja yang Alexa pakai, hingga langsung lepas dari tubuh Alexa.


"Tidak." Alexa yang tersadar menggeleng dan menutup dadanya dengan menyilangkan tangannya.


"Jangan lakukan itu." Alexa menjatuhkan air matanya ketika Ren menurunkan celana yang dia pakai dan masih menyusahkan ****** ***** pendek.


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan, kita akan menghabiskan waktu bersama." Ren menarik kedua kaki Alexa agar terlentang.


"Tidak, jangan lakukan itu aku mohon." Alexa memohon dengan wajah memelas, air matanya sudah bercucuran.


Ren yang tidak mendegar sama sekali, menarik rok span Alexa agar terlepas, dan kini hanya tersisa dalaman yang masih menempel di tubuhnya.


Tanpa perasaan Ren kembali melumatt kasar bibir Alexa, dirinya sudah diliputi oleh napsu gairah membuatnya tak bisa mengontrol akal sehatnya. Baginya memiliki Alexa dengan cara seperti ini adalah yang terbaik, jika dengan cara biasa Alexa tidak bisa Ia miliki.


Jahat dan egois itulah Ren sekarang, karena rasa yang dia miliki tak bisa ia gapai maka dirinya menggunakan cara lain untuk bisa menjerat Alexa menjadi miliknya.


"Akh..sakit." Alexa mencekram kuat kain sprei, air matanya kian mengalir deras ketika dirinya sadar telah dinodai.


Ren dengan napas berkejaran menatap ke bawah, Dimana miliknya yang pertama kali mendapatkan Alexa, kepalanya berganti mendongak, menatap wajah Alexa yang sedang memejamkan matanya dengan membuang wajah.


"Maaf.." Ren mencium kening Alexa dengan dalam, kali ini dirinya benar-benar mendapatkan Wanita yang dia inginkan.


Dengan perlahan Ren melakukan gerakan, membuat ruangan pribadinya menjadi panas dan suara erotis saling bersahutan.


Ren yang lebih mendominasi pergumulan mereka, karena Alexa hanya diam dan pasrah seperti patung, bahkan wanita itu tidak mau melihat wajah Ren sama sekali, dan membuat dada Ren panas berakhir dirinya yang mengauli Alexa secara brutal untuk melampiaskan kekesalannya.


Hampir satu jam Ren berpacu mengejar kenikmatan, dirinya tidak peduli Alexa yang sudah lemas dan merintih kesakitan, yang jelas dirinya setelah ini bisa memiliki Alexa sepenuhnya.


"Arghh.." Lolongan panjang dan geraman rendah terdengar begitu indah, ketika Ren mencapai puncak nya, dengan menyemburkan benihnya ke dalam rahim Alexa, dan tubuhnya ambruk di atas tubuh Alexa.


Ren menggeser tubuhnya kesamping, dan Alexa langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Ren. Tidak ada Isak tangis ataupun kata-kata yang keluar dari bibir Alexa, wanita itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Maaf, dan terima kasih." Ren menyelimuti tubuh keduanya yang polos dan memeluk tubuh Alexa dari belakang.


"Aku akan bertanggung jawab." Ren mencium kepala Alexa.


Alexa hanya diam dan memejamkan matanya, Ia harap ini hanya mimpi, dan ketika dirinya bangun dirinya tidak dalam keadaan seperti ini.


Ren ikut memejamkan matanya menyusul Alexa yang sudah berada di alam mimpi, sungguh kejadian yang baru dia alami barusan membuat dadanya bahagia, ternyata dirinya adalah orang pertama untuk Alexa, dan Ren tidak akan pernah melepaskan Alexa pada siapapun. Masalah kedepannya akan dia hadapi kalau-kalau Alexa hamil anaknya, dan Ren akan dengan senang hati menerima nya.


.


.


.


"Mit, kamu lihat Alexa." Tanya Diaz yang masuk keruangan bawahannya.


"Tidak pak, dari tadi Alexa pergi dan belum kembali." Jawab Mita dengan jujur.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih." Diaz mencoba menghubungi nomor Alexa tapi tidak di angkat.


Sebentar lagi jam makan siang, dan Diaz ingin membahas pertautan yang baru saja beredar kepada kekasihnya yaitu Alexa, tapi dirinya sejak tadi menghubungi Alexa tidak bisa, dan rekan-rekannya pun tidak tahu Alexa pergi kemana.


__ADS_2