
Bimo keluar dari kamar setelah membersihkan diri, berjalan menuju meja makan melihat Alena yang sedang membuat makanan untuk dirinya.
Setelah bicara maksud Alena mendatangi apartemen Bimo, Alena akan melakukan apa saja jika Bimo mau membantunya, dan Bimo tidak mennyia-nyiakan hal itu, setelah dirinya mendapat kabar jika Alisa sudah selesai operasi dengan berjalan lancar.
Bimo meminta Alena untuk tetap menjadi pembantunya di apartemen, dan akan mengabulkan permintaan Alena jika pagi ini dirinya harus membaut sarapan lebih dulu untuknya.
Alena yang tidak punya pilihan lain pun pasrah, meskipun dirinya sangat ingin pergi kerumah sakit sekarang juga, namun demi Alisa dirinya menuruti permintaan Bimo.
Alena tidak tahu saja jika itu hanya akal-akalan Bimo.
"Kamu masak apa?" Bimo berdiri di belakang Alena, dagunya Ia letakkan di pundak gadis itu.
Alena hanya diam tanpa menjawab ucapan Bimo.
"Kamu marah?" Bimo melingkarkan tangannya di perut Alena.
Dirinya ingin menolak, tapi entah mengapa perasaan begitu senang melihat Bimo kembali menunjukan rasa sayang nya lagi, dari sebelumnya yang terlihat membencinya dan Alena merindukan saat seperti ini.
"Bagaimana apa aku sudah boleh pergi?" Tanya Alena yang sudah menaruh nasi goreng untuk Bimo.
"Kamu tidak mau makan bersamaku?" Tanya Bimo, tanpa menjawab ucapan Alena.
"Bim-Bim aku harus kerumah sakit." Alena mendesah lelah, melihat Bimo yang menyebalkan.
"Hanya makan, tidak akan lama." Ucap Bimo yang menarik tangan Alena untuk duduk dikursi sebelahnya.
Mau tidak mau Alena mengikuti ucapan Bimo. dirinya ikut makan sebelum kerumah sakit.
.
.
__ADS_1
Jam sepuluh Alena baru sampai dirumah sakit tentu saja dengan Bimo.
Memasuki lift Bimo menekan angka lima untuk menuju keruangan Alisa dirawat.
"Kenapa lantai lima, Alisa di lantai tiga." Ucap Alena yang memang tidak tahu jika adiknya sudah selesai operasi.
"Diam lah." Tangan Bimo meraih bahu Alena untuk di rangkul, dan tangan satunya Ia masukkan kedalam saku celana.
Alena hanya diam tanpa menjawab, dirinya terlalu malas untuk berdebat.
Ting
Pintu lift terbuka, Alena menatap Bimo. "Ini khusus ruangan VVIP, ngapain kita disini." Tanya Alena yang memperhatikan sekitar.
"Tentu saja menemui Alisa memang apa lagi." Ucap Bimo datar.
"Ck. Kamu ngawur Bim." Ucap Alena lagi.
"Kakak.." Suara gadis kecil terdengar memanggil dan Alena melongo melihat Alisa yang berada disana.
"Alis.." Alena mendekati Alisa yang sedang duduk bersandar dan memegang sebuah boneka dengan senyum khasnya.
"Alis.." Alena memeluk Alisa dengan menangis, melihat kondisi Alisa yang terlihat lebih baik.
"Kamu dari mana Lena, kami mengkhawatirkan mu." Tanya Mirna yang berdiri dibelakang Alena, tangannya mengelus rambut Alena.
Bimo hanya berdiri tidak jauh dari ranjang Alisa memperhatikan keduanya.
"Mbak kenapa bisa pindah ruangan, Alisa juga kan harus segera operasi." Tanya Alena beruntun pada Mirna.
"Kamu mbak telpon dari semalam tidak bisa, mbak kira kamu kemana?" Tanya Mirna tanpa menjawab pertanyaan Alena.
__ADS_1
"Maaf mbak aku..?" Alena menoleh ke arah Bimo. "Aku ke apartemen Bimo untuk minta bantuan." Ucapnya lirih.
"Lalu dapat?" Mirna hanya mengulum senyum melihat wajah sedih Alena, dirinya hanya ingin memberi kejutan kepada Alena.
Alena mengangguk. "Nanti akan dia urus." Ucapnya lagi.
"Kakak Bimo, terimakasih bonekanya Alisa suka." Ucap Alisa yang tak sabaran untuk berterima kasih.
Bimo berjalan mendekati Alisa duduk di samping Alisa sebelah kiri, karena Alena berada di sebelah kanan.
"Sama-sama Alis, gimana sakit tidak kakinya?" Tanya Bimo sambil mengelus rambut Alisa.
"Kata pak dokter, Alis akan segera bisa sembuh, jika Alis rajin minum obat dan makan banyak." Ucap gadis kecil itu dengan senyum bahagia.
"Wah..berarti nanti kalo udah bisa jalan mau dong Kak Bimo ajak jalan-jalan lagi." Bimo begitu senang melihat senyum Alisa lagi.
"Mau..mau.." Alisa mengangguk riang.
"Mbak?" Alena yang bingung pun minta penjelasan pada Mirna.
"Tadi malam Bimo langsung kesini begitu pulang dari luar kota, dan Alisa juga sudah di operasi tadi pagi jam enam..semua sudah di tanggung oleh Bimo." Ucap Mirna, membuat Alena menatap Bimo tak percaya.
Pria itu masih asik berceloteh dengan Alisa, melihat tawa Alisa dan senyum Bimo entah mengapa membuat perasaan Alena ikut bahagia, apalagi mendengar apa yang pria itu sudah lakukan, sebelum dirinya meminta.
Sementara itu Alena melupakan seseorang yang seharusnya berada di posisi Bimo sekarang, tapi malah tidak tahu dimana keberadaanya.
.
.
Hilaf..yang disengaja..😌
__ADS_1