
Sudah Empat hari mereka berada di negara romantis itu, dengan melewati hari-hari yang menyenangkan.
Alena selalu ingin keluar untuk melihat keindahan negara romantis itu setiap hari, karena esok mereka akan kembali ke tanah air, sudah pasti tidak akan pernah lagi merasakan hari-hari bebas sekarang, karena ketika di tanah air, mereka pasti akan disibukkan dengan banyak pekerjaan.
Hari ini adalah hari terakhirnya untuk mereka menghabiskan waktu di kota Paris. Bimo mengajak Alena berbelanja oleh-oleh untuk kerabat dan sahabat di tanah air.
Memasuki toko pakaian brand ternama, Alena hanya menggeleng kepala.
"Kenapa hanya beli baju saja dari Paris, sedangkan di Jakarta banyak juga yang menjualnya." Alena berbicara dengan santai, sedang kan sang suami hanya mengangguk dan menghela napas.
Selesai di toko pakaian Bimo menyuruh Alena untuk memasuki toko tas ternama.
"Tidak usah sayang, lagian aku juga bisa beli di Jakarta, jika beli disini hanya akan banyak membawa barang bawaan."
Kedua kali Alena menolak untuk dibelikan barang mewah dan mahal.
Mungkin jika wanita yang Bimo bawa adalah kaum kita emak-emak penggila shopping pasti kalian akan kalap jika di suruh memilih. Canda yeee😘
Bimo masih diam dan hanya menggelengkan kepalanya, semenjak datang mereka belum mendapatkan barang apa-apa bahkan sudah keluar masuk toko yang mempunyai brand ternama. Tapi Alena sama sekali tidak tertarik untuk membelinya.
Entah apa yang membuat Alena demikian padahal dirinya cukup mampu untuk membelikan istrinya itu barang mahal yang Alena inginkan tanpa terkecuali.
Kini Bimo mengikuti langkah istrinya kemanapun berpijak, meskipun hanya sekedar melihat dan memegang, sehabis itu Alena mengajaknya pergi lagi.
"Sayang kita belikan oleh-oleh untuk Mama, tapi aku tidak tahu kesukaan mama itu apa?" Alena menatap suaminya untuk meminta pendapat.
"Kita belikan parfum saja, Mama menyukai parfum brand dari Paris." Bimo menunjuk toko yang menjual parfum bermerek.
Alena mengikuti langkah suaminya yang membawanya untuk masuk kedalam toko yang menjual parfum itu.
"Pilihlah yang menurutmu cocok untuk Mama." Bimo menyuruh Alena memilih, dirinya ingin istrinya yang memilih sendiri agar Mamanya berkesan kepada Alena.
Alena melihat-lihat dan meminta pelayan toko untuk mengeluarkan beberapa parfum pilihannya.
"Wanginya begitu lembut dan segar." Alena menyukai bau wangi itu.
"Ambillah jika kamu suka." Bimo mengelus kepala Alena dengan senyum khasnya.
Alena tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya.
"Cobain baunya, cocok untuk Mama." Ucap Alena yang mendekatkan tangannya yang sudah Ia semprotkan parfum pilihan untuk mertuanya.
"Hem..Mama pasti menyukai nya."
Dan akhirnya Alena memilih dua parfum untuk dirinya dan ibu mertuanya.
Alena memilih beberapa pernak pernik dan barang lainya untuk di berikan kepada Alisa dan mbak Mirna beserta suami, Gina juga tidak ketinggalan.
Mereka kembali ke apartment setelah berbelanja dan makan siang.
__ADS_1
"Sayang aku ada urusan sebentar di luar, kamu tunggu disini dulu ya." Bimo mengecup kening Alena dan pergi untuk urusan nya.
"Ck, kemana lagi dia itu." Alena berjalan menuju kamarnya dengan membawa beberapa paperbag yang berisikan belanjaannya.
"Semoga Mama menyukai parfum yang aku pilihkan." Alena menatap kotak berisikan parfum yang Ia Pilih tadi, berharap ibu mertuanya menyukai pilihannya setidaknya bisa membuat hati mamanya perlahan luluh.
"Mandi dulu lah, mumpung Bimo sedang keluar." Alena segera melepas pakaian yang melekat di tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi, niatnya ingin berendam setelah hampir seharian berada diluar.
Jika ada suaminya sudah pasti dirinya akan terkurung di kamar mandi dan bukanya mandi tapi malah bermandikan keringat.
Alena berendam di dalam balthub dengan busa yang menutupi semua badan nya dan hanya kepalanya saja yang terlihat bersandar di kepala balthub.
"Emph.." Alena membuka matanya ketika merasakan bibirnya di kecup.
"Kamu sudah kembali." Alena menatap suaminya dengan wajah terkejut karena ketika membuka mata wajah Bimo berada tepat di depan wajahnya.
"Hm..Cukup lama melihat kamu menutup mata disini." Bimo melepas semua pakaian yang Ia kenakan di depan istrinya.
"Eh.. kamu mau apa?" Alena seketika memalingkan wajahnya melihat suaminya tanpa malu membuka semua pakaian di depan dirinya.
"Mandi, memangnya apa lagi." Bimo berjalan dan ikut masuk ke dalam balthub dan air bisa itupun seketika meluap tumpah ketika dua insan berada di dalam balthub bersama.
"Egh." Jantung Alena berdebar ketika melihat suaminya sudah berada di depannya dengan duduk di sela-sela kakinya.
Tangan Bimo sengaja menyentuh tombol kran air untuk mengisi balthub agar busanya bersih.
"Aku sudah selesai Mas." Kepala Alena sudah berdering tanda alarm sinyal bahaya.
"Aku bantu untuk menggosok punggung mu sayang." Bimo tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja, ketika gairahnya sudah membuat adik kecilnya bereaksi.
"Emph." Alena tidak bisa berkutik ketika tangan Bimo sudah menariknya untuk mendekat kearah nya.
"Berbalik lah."
Alena hanya menurut dan membalikkan tubuhnya memunggungi Bimo.
"Kamu dari mana Mas." Alena memejamkan mata ketika bibir Bimo mengecup tengkuk lehernya.
"Hanya menyelesaikan masalah kecil."
Air di balthub terus mengalir keluar, hingga busa di dalamnya semakin habis dan berganti air bening.
"Mas." Alena menegakkan tubuhnya ketika tangan Bimo merayap kedepan dadanya dan merematnya pelan.
"Hm." Bimo menyusuri leher bagian belakang Alena dengan bibirnya.
Alena hanya diam dengan mata terpejam, awalnya memang dirinya menolak, namun ketika mendapat sentuhan dari suaminya, Alena selalu terpancing gairahnya begitu saja.
"Engh..shh.." Alena mendesis dengan kedua tangannya mencekram erat pinggiran balthub ketika Bimo berhasil memasukinya di bawah sana.
__ADS_1
"Kegiatan sebelum kita kembali ke tanah air." Suara Bimo begitu berat dan serak menahan gelora yang selalu muncul dengan gairahnya yang berkobar.
Air meriak-riak ketika tubuh Alena bergerak maju mundur di atas pangkuan sang suami yang berada di belakangnya. Keduanya kembali mereguk nikmat yang tak pernah merasa lelah dan bosan.
.
.
"Siera, maaf ya Tante telat." Leina menghampiri Siera yang sedang berada di cafe yang sudah mereka janjikan.
"Iya Tante, Siera juga baru sampai." Siera berdiri dan menyambut pelukan dan cipika-cipiki Leina.
"Tante mau pesan apa?" Siera memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Seperti biasa saja sayang." Leina duduk didepan siera.
Siera memesankan makanan yang biasa Leina makan dan dengan dirinya.
"Ada apa sayang, tumben sekali sore begini kamu mengajak Tante ketemuan." Leina bertanya langsung kepada Siera, karena tadi dirinya mendapat pesan dari Siera ingin bertemu sore ini juga.
"Apa Tante tahu kalau Bimo pergi ke Paris bersama istrinya untuk berbulan madu." Siera menatap Leina dengan serius.
"Bulan madu?" Leina nampak mengerutkan keningnya meminta Siera bicara dengan jelas.
"Iya Tante, Ternyata Bimo ke Paris untuk berbulan madu, bukan untuk proyek pekerjaannya."
Wajah Siera begitu serius menatap Leina yang mendengarkannya ucapnya.
Leina membulatkan kedua matanya. "Jadi mereka membohongiku jika sedang menjalankan proyek besar, tapi malah untuk berbulan madu."
Siera mengangguk dengan mantap. "Jadi Tante yang sebagai ibunya di bohongi hanya karena Bimo membawa istrinya untuk berbulan madu, pasti istrinya lah yang menyuruh Bimo untuk tidak memberi tahu Tante." Wajah Siera di buat sesedih mungkin menatap kasian kepada Leina.
"Kurang aj*ar mereka." Leina dengan tatapan tajam memperlihatkan betapa dirinya begitu marah dengan kebohongan suaminya.
"Mereka pasti bersenang- senang disana dan menertawakan Tante yang mereka bohongi terutama istri Bimo." Lagi-lagi Siera menyiram bensin di atas api yang berkobar.
Leina yang memang tak menyukai Alena bertambah kesal dan benci ketika mendengar mereka pergi untuk berbulan madu, bahkan dirinya tidak tahu menahu.
"Tante jangan marah sama Bimo, Siera yakin jika ini semua atas ide istrinya itu agar Bimo menjauhi Tante."
"Ya, kamu benar sayang, Bimo tidak mungkin membantah ucapan Tante, dan Tante pastikan mereka tidak akan pernah Tante restui."
Siera tersenyum lebar dalam hati, 'bagus, ternyata wanita bodoh ini tidak menyadari sepak terjang anaknya yang terkenal itu' Leina menyunggingkan senyum efilnya.
.
.
Maaf reader setia otor, hari ini Up nya ngaret🤭
__ADS_1