Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Perasaan Gilang


__ADS_3

Gilang sudah kembali ke meja rekan-rekannya dan dirinya merasa kikuk ketika tatapan mereka mengarah kepadanya dengan wajah yang membuatnya risih.


"Kalian kenapa sih, liatin aku kayak gitu?" Tanya Gilang dengan heran, pasalnya wajah Keke dan Tia membuatnya merasa aneh, sedangkan Alexa hanya biasa saja.


"Lang, kami pulang dulu ya, pak suami dari tadi udah calling melulu." Ucap Tia tanpa menjawab ucapan Gilang.


"Iya Lang, aku juga mungkin anakku rewel." Ucap Keke yang ikut berkemas dan berdiri ingin pergi.


"Loh mbak, masa udah mau balik sih?" Tanya Alexa dengan wajah kesal.


"Sorry Lex, kami kan udah ada pawang dirumah jadi tidak bisa sebebas kalian." Ucap Keke dengan cengiran. Tia juga mengangguk setuju.


"Yaudah deh aku ikut pulang kalau begitu." Ucap Alexa yang juga ikut berdiri, tapi di cegah oleh Keke dan Tia.


"Eh..ngak usah Lex, kalian nikmati saja dulu makananya sayang kan punya kalian belum habis." Ucap Tia yang mencoba menahan Alexa.


Alexa melihat makananya yang memang belum habis apalagi punya Gilang yang belum di sentuh, hanya punya mereka berdua yang sudah habis.


"Sayangkan Lex, kalau makanan mahal mubazir." Timpal Keke.


"Udah deh kalian havefun aja, kami duluan yah, sampai ketemu besok." Ucap Tia dengan melambaikan tangan berjalan menjauhi Alexa dan Gilang.


"Eh..mbak aku mau bicara dulu." Ucapan Alexa tidak didengar oleh kedua nya, kedua wanita itu sudah jauh dari jangkauannya.


"Padahal ini kan juga untuk perpisahan kita." Gumam Alexa yang masih di dengar oleh Gilang.


"Perpisahan?" Ucap Gilang, membuat Alexa menatapnya.


"Em..iya, karena besok aku sudah pindah tugas di kantor pusat." Ucap Alexa tersenyum tipis.


"Kantor pusat?" Tanya Gilang lagi yang tak percaya.


Alexa menghela napas dan mengangguk. "Awalnya aku ingin mengajukan surat risaign, tapi malah aku mendapat surat pemindahan pekerjaan." Tutur Alexa jujur.


Meskipun Gilang baru di kenalnya tapi hanya bercerita tentang pekerjaan menurutnya tak masalah.


"Risaign? kenapa?" Lagi-lagi Gilang menjadi terkejut.


"Tidak apa, hanya ada problem sedikit, tapi bukan dengan kalian kok." Alexa menyesap minumannya.


"Jadi ini adalah pertemuan terakhir kita?" Tanya Gilang dengan wajah sendu.


Dirinya memang memiliki rasa kepada Alexa, meskipun baru sebentar mengenal Alexa tapi hati Gilang sudah memiliki sinyal untuk Alexa. Alexa wanita cantik dan penuh semangat yang Gilang lihat, dan Alexa juga wanita baik dengan semua orang.


"Lain kali kita bisa kumpul bareng jika ada waktu luang, pasti aku bakalan merindukan kalian semua di tim kita." Ucap Alexa dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


Gilang hanya diam, selama ini dirinya belum bisa mengungkapkan perasaanya pada Alexa karena takut Alexa merasa risih, tapi jika dirinya menunda mungkin akan sulit untuk waktu yang pas seperti ini.


"Lexa." Gilang meraih tangan Alexa yang berada di atas meja. "Mungkin ini terlalu cepat untuk kita yang baru kenal, tapi aku tidak bisa mencegah hati ini untuk siapa." Gilang menatap wajah cantik Alexa seksama, menatapnya dalam penuh perasaan. "Aku menyukaimu Alexa, dan mungkin aku juga sudah jatuh cinta sama kamu." Ucap Gilang dengan menatap kedua bola mata Alexa intens.


Alexa membeku, menelan ludahnya kasar dirinya tidak tahu harus bagaimana. Meskipun tadi dirinya sudah mendengar gosip sari kedua rekannya tapi dirinya tidak menyangka jika Gilang benar-benar menyukainya dan mengatakan perasaanya sekarang.


"Lang aku_"


"Mungkin aku yang terlalu cepat mengatakan nya Lex, maaf." Gilang menarik tangannya, dirinya menyadari tatapan bingung Alexa yang tidak memiliki perasaan apapun padanya.


"Lang, maaf mungkin lebih baik kita berteman, karena sejujurnya aku lebih nyaman bersama teman ataupun sahabat karena pasti akan abadi, tapi jika kita pacaran pasti akan ada konflik dan rasa canggung ketika kita putus ataupun memiliki masalah." Alexa mencoba bicara tanpa menyinggung perasaan Gilang, dirinya juga tidak tega melihat wajah Gilang yang merasa kecewa, tapi jika hatinya sama sekali tidak menginginkan lebih baik bicara di awal dan terus terang.


Gilang hanya tersenyum dan mengangguk. "Ya, kamu benar..jadi lebih baik kita berteman. Jika kita berjodoh tuhan pasti kasih jalanya." Ucap Gilang dengan senyum ikhlas.


Dirinya tidak bisa memaksa Alexa untuk menyukai ataupun menerima dirinya, berteman juga sudah lebih baik untuk mereka yang baru saking mengenal.


"Ya, itu lebih baik." Alexa ikut tersenyum lega, beruntung Gilang bukan tipe pria pemaksa, tidak seperti pria gila itu.


'Eh..kenapa jadi inget dia.' Alexa menggelengkan kepalanya untuk menghalau pikirnya dari pria menyebalkan itu.


.


.


Sena yang sedang duduk bersandar di samping Aaron dengan mangkuk ditangannya berisikan buah segar untuk cemilan. Sedangkan Aaron bertugas untuk menyuapi tuan putri yang asik menonton siaran tv.


Bimo sendiri memilih membaca koran dan majalah bisnis.


"Malam semua." Sapa Ren dengan langsung duduk di samping Kakak nya dan merebut mangkuk berisikan buah milik Sena.


"Ren..!!" Sena menarik kembali mangkuk milikinya, ketika Ren mencomot potongan buah nya.


"Ck, pelit." Ucap Ren melirik sinis ibu hamil itu.


"Sayang, lihat adik ipar kamu jahil banget." Ucap Sena yang mengadu pada Aaron.


Aaron menatap Ren penuh ancaman, jangan bilang jika nanti dirinya kena imbasnya jika tidak bisa membuat sang istri dalam mood baik.


"Apa, cuma gitu aja ngadu, dasar pelit." Lagi-lagi Ren memancing kesabaran Aaron.


"Yanggg.." Sena merengek seperti ingin menangis ketika di ejek oleh adiknya.


"Ren, pilih pergi secara teratur atau pergi dengan_"


"Apa, palingan juga tidur sana gue lagi." Ucap Ren santai, karena tahu kelemahan kakak iparnya, jika Sena kesal maka Aaron akan diusir dari kamar dan berakhir tidur diluar.

__ADS_1


"Ren kamu benar-benar adik durhaka ya." Aaron melempar bantal kecil tepat mengenai kepala Ren.


"Siap, kepala gue difitrahin woy." Kesal Ren yang tidak sempat menghindar.


"Kalian ini tidak bisa diam apa.!!" Bimo bersuara tegas, membuat kedua orang yang seperti anjing dan kucing itu diam seketika.


"Pah, lebih baik papa suruh si Ren tinggal di apartemen, kayaknya dia butuh pawang untuk menghilangkan sifat menyebalkan nya itu." Ucap Aaron melirik Ren sinis.


"Cih, pawang-pawang udah kaya sirkuit aja butuh pawang." Ren menatap Aaron kesal.


Bimo hanya menghela napas, mereka sudah dewasa bahkan ada yang sebentar lagi memiliki anak, tapi kelakuan mereka masih seperti bocah yang suka rebutan mainan.


"Ren mulai besok ada_"


"Besok Ren mau pindah tugas di perusahaan papa, karena Ren memiliki misi khusus." Ucap Ren dengan senyum penuh arti.


Bimo yang mendengarnya, mengernyitkan keningnya. "Pindah? kenapa?"


"Papa tidak perlu tahu, yang pasti BGS akan mengalami peningkatan jika Ren sidah turun tangan." Ucapanya dengan penuh percaya diri.


"Dan papa sementara bisa beristirahat dirumah, karena aku yang akan menghandle pekerjaan papa dan kantor pusat."


Ren begitu yakin dengan keputusannya, otaknya sudah memikirkan banyak rencana untuk gadis seperti Alexa yang sudah membuatnya merasa kesal.


'Cih, jangan harap kalian bisa bermesraan di kantor, mulai besok aku pastikan kalian tidak akan memiliki kesempatan untuk berduaan.' Ren menyeringai dalan hati, dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi esok ketika wanita yang sudah membuatnya memiliki ide brilian tidak ada di tempatnya.


'Hahaaa..kalian pasti tidak akan percaya dengan peraturan baru yang aku buat.' Tanpa sadar Ren tersenyum puas sendiri. Dan ketiga orang disana hanya menatap Ren dengan perasaan takut.


"Sayang, ayo pindah kayaknya si Ren sudah ketularan sana Mbah dok." Ucap Aaron yang langsung menggendong Sena untuk pindah ke kamar.


Sedangkan Bimo hanya menghela napas melihat kelakuan putranya.


"Apa kita juga harus pindah sayang." Ucap wanita yang sejak tadi duduk di bahu kursi dengan merangkul pundak sang suami.


"Hm..kamu lihat, sepertinya putra kita sudah merasakan jatuh cinta dengan seseorang." Ucap Bimo dengan menyentuh tangan yang berada di bahunya.


"Ya, aku setuju dengan jika putra kita dengan gadis itu."


Bimo hanya mengangguk, dan mencium punggung tangan wanitanya.


"Kalau begitu ayo kita ke kamar, jangan buat reader lama-lama merindukanmu dan menagis." Bimo melirik author yang jarinya menari indah di atas keyboard.


"Hm, tidak apa mereka pasti merindukan aku berduaan dengan kamu." Alena mencium pipi Bimo.


"Duh, beneran nih author bikin jantung aku gak karuan." Bimo langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Ren yang asik dengan khayalan nya.

__ADS_1


__ADS_2