Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Ngidam aneh Sena


__ADS_3

Birendra menatap rumah sederhana yang sudah lima bulan ini dia datangi.


Keluar dari mobil Ren berjalan mendekati rumah itu dan berdiri di depan pintu.


Tok...Tok...tok..


"Sebentar..!!" Seruan dari dalam dan diikuti suara kunci di putar, Ren mundur satu langkah.


"Eh..ada nak Ren.." Ucap wanita paruh baya, dengan wajah sedikit pucat dan memakai syal di lehernya.


"Malam Bu, apa Jihan dirumah." Tanya Ren tho the poin, karena pesan dan juga teleponnya tidak di blas ataupun di angkat oleh Jihan.


"Tidak ada nak, ibu kira pergi sama kamu." Tanya balik ibu Jihan dengan wajah yang bingung.


Memang bukan pertama kali Jihan belum pulang di malam hari, tapi semenjak lima bulan terkahir Jihan sudah jarang keluar rumah jika bukan bersama Ren.


"Tidak Bu, kalau begitu Ren pamit." Ren menyalami ibu Jihan dan mencium tangannya.


"Tidak mau menunggu Jihan di dalam?" Tawar ibu Jihan yang merasa kasihan dengan Ren, wajah pria itu nampak begitu lelah.


"Terima kasih, Ren pamit saja." Tolaknya halus dan tersenyum, Ren segera pergi dari rumah Jihan kembali memasuki mobilnya.


"Ck. Kenapa tidak di angkat sih." Ren kembali menghubungi nomor Jihan tapi tetap tidak ada di angkat.


Dengan kesal Ren membanting ponselnya di kursi samping dan menambah kecepatan laju mobilnya.


Di lain tempat, malam ini Alexa beserta ketiga teman nya harus lembur, setelah metting dan mendapatkan proyek baru untuk membuat program pembuatan data, agar lebih mudah di akses dan mereka semua bekerja sama dengan tim.


"Akhirnya, lelah juga ternayata." Ucap Keke sebelah meja Alexa.


"Iya mbak, untung dikasih waktu lumayan lama jadi kita tidak terlalu buru-buru." Jawab Alexa yang menggerakkan jari-jari karena pegal.


"Untung ada kamu Lex, kamu memang bisa di andalkan." Ucap atasan mereka yaitu Tia.


Sebenarnya di bagian administrasi keuangan itu ada tiga karyawan dan satu lagi atasan mereka yaitu Tia, tapi rekan kerja satu lagi belum masuk dan masih ijin.

__ADS_1


"Enek banget si Gilang, masih cuti jadi gak kebagian pusingnya." Ucap Keke yang mengingat rekan kerjanya bernama Gilang.


"Besok dia susah masuk, kasian ibunya masih sakit." Ucap Tia, meskipun Tia atasan mereka tapi Tia tidak membedakan dan memberi jarak pada bawahnya yang terpenting mereka sebagai satu tim harus kompak dan solid dan itu terbukti mereka semakin kompak apalagi bertambah nya anggota baru seperti Alexa, yang ternyata memiliki otak yang cerdas.


"Yasudah ayo kita pulang, sudah jam delapan." Ucap Tia pada Keke dan Alexa.


Mereka bertiga keluar dari gedung BGS di jam delapan malam.


Beruntung arah pulang mereka satu arah, dan disini Alexa yang menebeng pada mobil Keke.


.


.


Birendra memasuki rumah nya dengan wajah lelah, hari ini dirinya cukup banyak pekerjaan setelah bertemu dengan sang papa, apalagi kantor pusat membuatnya tak banyak waktu bisa bersantai semenjak menjadi CEO utama di sana, dan sang ayah memutuskan untuk bergambung di BGS, hanya untuk membuang kebosanannya saja.


"Ya salam, kenapa mereka itu tidak tahu tempat sih." Ren mengusap wajahnya kasar, ketika melihat dua orang sedang bercumbu bibir.


Ehem


Ren berdehem keras, setelah sampai di ruang tengah, dimana kedua kakak nya sedang asik bermesraan.


Aaron yang mendengar suara Ren tidak peduli, dirinya tetap memeluk tubuh sang istri dari samping.


"Ren kamu baru pulang?" Tanya Sena yang melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.


"Ya, dan di sambut dengan perbuatan mesum kalian." Ucap Ren dengan melepas dasinya kasar. Tubuhnya memang sangat lelah dan pikirnya entah kemana.


"Ar, berhenti." Sena mencegah tangan Aaron yang bergeliriya di kedua dadanya.


"Ck. kita pindah sayang." Ucap Aaron dengan wajah memelas, sejak tadi dirinya sudah menahan sesuatu yang membuatnya merasa sesak di bawah sana.


"Kalian itu benar-benar Keterlaluan." Ren segera bangkit dan pergi dari tempat lucnat itu, dimana kakak iparnya itu tidak punya rasa malu sama sekali meskipun ada dirinya.


"Sok polos, ntar lu bakal ngerasain dan liat aja bakalan parah dari gue." Ledek Aaron yang melihat wajah adik iparnya kesal.

__ADS_1


"Ar.." Sena memukul lengan suaminya, Aaron dan memang suka saling meledek dan terkadang membuatnya emosi sendiri.


"Kita pindah yuk?" Rayu Aaron agar Sena mau diajaknya ke kamar.


"Ck, nanti aku masih mau liat film itu." Sena kembali fokus pada layar besar di depannya menampilkan film dewasa yang baru saja mulai.


"Kita bisa lihat di kamar sayang, disini takut Ren ataupun papa melihat." Bisik Aaron dengan sengaja meniup telinga Sena, karena Aaron tahu kelemahan Sena.


"Arrr.."Sena merengek dengan wajah gemasnya.


Tanpa persetujuan Aaron segera mengajak tubuh istrinya yang sudah mulai berisi.


"Kenapa? aku berat ya." Tanya Sena yang melihat Aaron sepertinya kesusahan menggendongnya.


"Tidak, buktinya aku masih kuat menggendong kalian bertiga, kalian adalah hidupku jadi tidak akan membuatku kesulitan." Aaron berjalan menggendong Sena, menaiki tangga untuk menuju kamarnya, tidak lupa mematikan tv sebelum meninggalkan nya.


Usia kehamilan Sena sudah memasuki bulan ke lima, dimana Sena sedang mengandung bayi kembar.


Bukan hanya Aaron saja yang merasa bahagia, tapi semua keluarga besar mereka ikut bahagia apalagi Arin yang begitu antusias menyambut kedatangan cucu kembar nya.


"Ar..aku ingin menonton film tadi." Ucap Sena merengek ketika Aaron menaruhnya di atas ranjang.


"Kita lihat dari sini." Aaron membenarkan posisi Sena dan berjalan mengambil remote untuk menghidupkan tv.


"Kenapa kamu suka sekali menonton film dewasa." Tanya Aaron yang sudah ikut berbaring di samping sang istri dengan setengah duduk bersandar di bahu ranjang.


"Tidak tahu, hanya ingin saja." Ucap Sena yang sudah mencari posisi nyaman, berada di pelukan dada bidang Aaron.


Pasalnya ketika usia kehamilan Sena menginjak lima bulan, Sena lebih suka nonton film dewasa. Dan itu membuat Aaron senang sekaligus tersiksa. Senang karena dirinya bisa membuat sang istri menginginkan nya dan dengan senang hati Aaron mengabulkan.


Sedihnya jika Sena sedang dalam mood buruk, ketika Aaron sudah terbawa suasana dan Sena sedang tidak mau dia sentuh dan itu membuat Aaron tersiksa di dalam kamar mandi sendiri.


Bukan hanya sekali hal itu terjadi, tapi sudah beberapa kali terjadi, dan itu tidak membuat Aaron kapok, karena ngidam sang istri yang cukup aneh. Ngidam kok suka nonton film b*k*p.


Setelah membersihkan diri Ren kembali melihat ponselnya, dan ternayata masih sama tidak ada pesan atau pun panggilan tak terjawab dari Jihan.

__ADS_1


Bukanya khawatir Ren malah kesal dan malas untuk menguhungi Jihan lagi.


Akhir-akhir ini dirinya memang sibuk, dan waktunya memang berkurang untuk bertemu Jihan, tapi seharusnya kekasihnya itu mengerti akan posisinya sebagai CEO utama Bagaskara Grub, dan Ren tidak melihat jika Jihan mengerti kesibukannya, dan Ren sering meninggalkan pekerjaannya ketika Jihan membutuhkan dirinya. Dan sekarang dirinya merasa lelah.


__ADS_2