
Alena mengerjapkan matanya ketika silau cahaya matahari menerpa wajahnya, membuka mata ternyata hari sudah siang. gorden jendela terbuka lebar itu berarti suaminya sudah bangun.
Melihat jam menunjukan pukul sembilan pagi. "Bimo sudah berangkat." Gumamnya lalu bangun dan duduk bersandar di bahu ranjang dengan tubuhnya yang masih polos. Mengusap rambutnya kebelakang Alena melirik kesamping.
Tangannya meraih kertas kecil yang berada di bawah ponsel nya.
Maaf aku tidak membangunkan mu, karena sepertinya kamu sangat lelah karena aktifitas kita tadi malam...
Tidak usah bekerja hari ini, temani Mama dirumah dan semoga kamu bisa meluluhkan hati mama...
Semangat sayang....I love you Ale-Ale..
Alena mendengus kasar, gara-gara percintaan panas mereka tadi malam membuatnya lelah dan berakhir kesiangan. Bagaimana tidak lelah jika Bimo menyerah setelah dirinya merengek untuk menyudahi kegiatan mereka dan alhasil selesai di jam hampir pagi.
Alena tidak menyangka jika suaminya memiliki stamina yang kuat, bahkan dirinya yang melayaninya harus memiliki tenaga ektra kalau tidak pasti dia sudah pingsan.
Setelah membaca kertas yang ditinggalkan suaminya, Alena bangun untuk membersihkan diri, mengingat jika Mama mertuanya tinggal di rumah ini pasti akan tidak baik jika dirinya kesiangan apalagi suaminya berangkat kerja dirinya tidak tahu.
.
.
Menuruni tangga Alena bisa melihat jika Mama mertuanya sedang duduk di depan ruang keluarga dengan menonton tv.
"Jadi selama ini seperti ini kelakuan kamu dirumah." Belum sempat Alena menyapa suara Leina lebih dulu terdengar. "Istri macam apa kamu yang suaminya berangkat kerja malah enak-enakan masih tidur." Leina berdiri dan menatap Alena sinis yang berdiri di sampingnya. "Bimo bilang kamu adalah istri pilihan terbaiknya, tapi nyatanya." Leina melirik remeh Alena. "Kamu hanya ingin menikmati hidup enak tanpa mau melayani keperluan suamimu."
Alena hanya diam dengan wajah menunduk, hati nya mencolos mendengar ucapan mertuanya yang begitu menggores luka.
"Maaf Mah." Hanya itu yang keluar dari bibir Alena, tidak mungkin jika dirinya menjelaskan kenapa dirinya bangun terlambat.
"Oke... kata suamimu masakan kamu enak, sekarang kamu masak yang banyak karena teman-teman saya akan datang kemari untuk mengadakan arisan nanti siang." Leina tersenyum sinis.
"Sekarang tidak ada kata nanti." Ucap Leina yang melihat bibir Alena ingin mengatakan sesuatu.
"Baik Mah." Alena tersenyum dan pergi menuju dapur, sudah di pastikan jika jam segini mbak Mirna berada di sekolah Alisa dan akan menemani Alisa untuk les hingga sore nanti.
__ADS_1
Alena menghela napas ketika melihat bahan sayuran dan beberapa daging yang sudah Ia keluarkan dari lemari pendingin siap untuk menjadi olahan tangannya.
"Semangat Lena, ingat ini adalah ujian kamu untuk mendapatkan restu dari Mama Bimo." Alena menyemangati dirinya sendiri, biarlah perutnya yang keroncongan karena titah mama mertuanya lebih penting demi untuk mendapat restu.
Leina hanya menatap punggung Alena yang cekatan di depan kompor, dirinya tersenyum puas dengan apa yang Ia lakukan.
"Jangan harap wanita sepertimu mendapatkan putraku dengan mudah."
Alena berkutat di dalam dapur sudah lebih dari satu jam, dan masakan yang Ia buat sudah hampir selesai, meski keringat dingin membasahi keningnya.
"Sebentar lagi selesai Len." Alena merasa tubuhnya lemas dan sedikit bergetar.
Semalam tenaganya habis terkuras di atas ranjang dan sekarang hampir jam dua belas siang, perutnya belum sama sekali terisi makanan.
Dua jam kemudian Alena sudah menyelesaikan masakannya, yang banyak macam hingga mampu membuat dessert dan kue untuk tamu mamanya.
Alena hanya ingin membuat Mama mertuanya senang dan memuji nya karena itu sudah cukup membuat hatinya senang.
"Sudah selesai, karena tamu saya sebentar lagi sampai." Leina yang tiba-tiba masuk ke dapur melihat semua aneka makanan tersaji di atas meja begitu banyak, dan seperti nya semua enak dan lezat.
Apalagi ada dessert kesukaannya dan cake red Velvet juga kesukaannya. Leina ingin tersenyum lebar, tapi dirinya masih sadar jika ada Alena di ruangan itu.
"Bagus, sekarang pergilah, jangan sampai para tamu saya melihat wajahmu itu di sini." Leina dengan tidak punya perasaan mengusir Alena tanpa mengucapkan kata terima kasih.
Lagi-lagi Alena merasa hatinya mencolos, pikirnya mama mertuanya akan memuji masakannya dan mengucapkan terima kasih, tapi ternyata tidak sama sekali, Alena tersenyum getir.
.
.
Merebahkan tubuhnya di atas kasur Alena memejamkan kan mata, padahal selesai memasak dirinya ingin makan lebih dulu untuk mengisi perutnya yang kosong, apalagi dirinya memiliki asam lambung.
"Shh..." Alena merintih ketika perutnya mulai terasa sakit dan perih.
Matanya terpejam, dengan posisi miring dan memeluk perutnya sendiri.
__ADS_1
.
.
"Bos hari ini anda harus bertemu klien di kota B." Ucap Daniel ketika memasuki ruang kerja Bimo.
"Kota B, Bukanya hari ini ada pertemuan penting dengan Investor dari Amerika?"
"Benar, dan kebetulan klien dari Amerika tidak bisa datang, dan di gantikan dengan anaknya yang berada di kota B." Ucap Daniel menjelaskan.
"Jadi kita harus menemui anak Mr. Culen di kota B."
Daniel hanya mengangguk. Entah mengapa hari ini sepertinya bos mudanya itu banyak pikiran, sehingga lambat untuk mencerna ucapnya.
Bimo mengusap wajahnya kasar, padahal dirinya ingin segera pulang setelah pertemuan nya dengan klien dari Amerika itu, tapi niatnya harus di urungkan karena harus pergi keluar kota sekarang.
"Yasudah siapkan semuanya, kita berangkat setengah jam lagi." Ucapnya setelah melihat jam tangannya, sekarang pukul sebelas siang dan pertemuan mereka pukul dua siang, masih ada waktu tiga jam untuk mereka bersiap, karena perjalan ke kota B memakan waktu kurang lebih dua jam.
"Kenapa tidak angkat telpon sih." Bimo mencoba kembali menelpon nomor istrinya, tapi sejak tadi tidak di angkat.
"Mama.." Bimo langsung mendial nomor ibunya ketika ingat jika ibunya berada dirumahnya.
"Hallo Bim?"
"Hallo mah, apa Alena bersama Mama? tanya Bimo to the poin.
"Istri kamu ada, dia sedang membuat kue untuk Mama, ada apa?"
"Ohh...tidak apa mah, Bimo menghubungi Alena tapi tidak di angkat." Bimo menghela napas lega ternyata Alena sedang membuat kue untuk mamanya, itu berarti mereka berdua sudah ada kemajuan bisa lebih dekat. Bimo yakin jika wanita seperti Alena pasti mampu meluluhkan hati mamanya dengan kebaikan dan ketulusan nya, apalagi Alena yang pintar memasak pasti mamanya sangat senang mengingat Leina tidak bisa memasak sama sekali.
"Sepertinya istrimu tidak membawa ponselnya, ada apa biar mama sampaikan."
"Bimo hari ini pulang telat, karena harus keluar kota untuk bertemu klien, tolong sampaikan pada Alena Mah."
"Baiklah, nanti mama sampaikan."
__ADS_1
Bimo pun mengakhiri panggilannya setelah berucap terima kasih.
Dan pada akhirnya Leina pun tak memberi tahu pada Alena jika Bimo pergi keluar kota.