
Keduanya larut dalam cumbuan yang begitu menghanyutkan, kerinduan mendalam membuat keduanya cukup lama untuk saling memangut bibir.
Napas Alena terengah-engah ketika Bimo melepas cumbuannya.
Tidak ada ucapan hanya tatapan keduanya yang saling mengunci untuk mencari tindakan apa yang tepat untuk mereka lakukan.
"Jangan membuat Mama bersedih dan merasa kehilangan kamu Mas, sampai kapan pun kamu adalah anaknya, yang harus hormat kepada ibu yang sudah melahirkan kamu." Alena menatap Bimo dengan wajah sendu, Matanya menunjukan kecemasan yang begitu berarti.
"Tapi kamu adalah tanggung jawabku sayang, seorang suami tidak mungkin menelantarkan istrinya demi keegoisan mereka, apalagi kamu sedang mengandung darah daging ku." Bimo berucap dengan pelan namun mengandung ketegasan dalam nada bicaranya.
"Aku tidak mau kamu di anggap anak durhaka karena memiliki istri seperti aku." Alena menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terasa panas.
"Hey.."Tangannya meraih dagu Alena. "Apa kamu mau menjadi istri durhaka karena membantah suamimu hm.." Bimo menatap mata Alena yang sudah berkaca-kaca. "Aku rasa kamu lebih tahu bagaiman seorang istri mendapatkan ridho suami."
Alena hanya diam tanpa bicara.
__ADS_1
"Dengar, jika suami adalah surga dan neraka bagi wanita, maka seorang wanita atau istri hendaknya berusaha keras untuk dapat membahagiakan suami."
"Jadi menurutlah jika ingin mendapat ridho suami." Bimo tersenyum, dirinya tidak menyangka akan di hadapkan dengan masalah seperti ini.
Menarik Alena agar duduk di pangkuannya Bimo memeluk Alena dengan perutnya yang besar.
"Tidak aku ijinkan kamu pergi lagi membawa anak-anak kita, sudah cukup waktu tujuh bulan untukmu bersembunyi dariku." Ucapnya dengan senyum.
Alena merasa terharu mendengar ucapan Bimo.
"Mas.." Kulit Alena merasa merinding karena sudah lama tidak bersentuhan intens dengan suaminya.
Bimo yang mengajaknya bicara tidak membuat Alena sadar jika tangannya berusaha membuka kancing baju yang Alena kenakan, karena Alena menggunakan model baju tunik berkancing depan.
"Apa kamu tidak mengalami kesulitan di waktu pertama mengandung mereka."
__ADS_1
"Tentu saja pernah, semua ibu hamil pasti mengalami kesulitan." Ucap Alena jujur, karena di awal kehamilannya dirinya mengalami morning Sickness setiap pagi dan sore selam hampir dua bulan.
"Maaf sayang, aku tidak ada disaat kamu mengalami kesulitan." Wajah Bimo begitu merasa bersalah.
"Hm..bahkan untuk makan pun aku harus memilih yang benar-benar bisa masuk kedalam perut ku, jika tidak makan aku kan mengalami muntah seharian." Ucap Alena menjawab pertanyaan suaminya, tanpa dirinya sadari membuat hati Bimo begitu teriris dan ngilu.
"Bahkan aku pernah di rawat di klinik selama tiga hari karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutku, dan itu di awal kehamilan."
Bimo langsung memeluk Alena erat. "Maafkan suamimu yang tak berguna ini, aku memang bukan ayah yang baik." Suara Bimo bergetar dan terdengar berat.
"Hey..kamu kenapa?" Alena yang menyadari suara Bimo terisak mengangkat kepalanya yang berada di dadanya.
Benar saja, Bimo menangis. "Sayang, kamu kenapa menangis?" Tanya Alena polos.
"Jangan benci aku karena tidak ada di samping mu saat kamu mengalami kesulitan."Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Alena. Entah mengapa dirinya merasa menjadi pria tak berguna ketika istrinya mengalami kesusahan di kehamilan nya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku benci kamu, kamu adalah pria dan calon ayah terbaik untuk kita." Alena tersenyum geli, dirinya yang baru sadar jika Bimo menangis karena mendegar ceritanya.