Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Di Jakarta Bimo di temani putranya, Ren. Sedang bertemu dengan klien di sebuah restoran hotel.


Bimo Memeng sudah berumur kepala empat tapi aura ketampanannya semakin kuat dan matang, apalagi pria itu masih rutin berolah raga, dan menjaga pola makan yang sehat, sehingga di usianya yang sekarang membuatnya terlihat masih segar bugar.


"Pah, mungkin mereka tidak jadi datang. Kita sudah hampir satu jam menunggu." Ucap Ren, yang sudah mulai kesal dan bosan.


Klien yang mereka tunggu tidak datang-datang, padahal mereka yang membuat janji, dan malah membuatnya menunggu.


Bimo melihat jam yang melingkar di tangan nya, sekarang sudah hampir jam dua belas siang.


"Baiklah kita pergi." Ucapnya yang langsung berdiri.


"Maaf Tuan saya terlambat." Ucap seseorang dengan suara ngos-ngosan napas wanita itu tak beraturan. Karena berlari.


Ren menatap malas wanita yang berdiri di depannya, dengan dada naik turun, bahkan keringat wanita itu muncul di permukaan wajahnya.


"Saya sudah lama menunggu apa anda_"


"Ren.." Bimo mengangkat tangannya agar Ren berhenti bicara.


"Maaf nona, anda sudah sangat terlambat, dan kami sudah tidak mentolerir." Ucap Bimo santai tapi terdengar tegas.


Ren hanya tersenyum smirik, papanya tau bagaimana memberi pelajaran wanita didepanya yang melotot dan terkejut. 'Mampus'.


"Ta_tapi tuan, saya terlambat karena memiliki alasan." Wanita itu mencoba meminta pengertian dan menjelaskan apa yang terjadi hingga dirinya sampai terlambat.


"Mobil saya mogok, dan saya yang kebetulan tidak membawa dom_"


Ucapan wanita itu terhenti ketika melihat dua orang pria di depannya pergi tanpa mendengar penjelasannya. "Tuan..!! Tunggu dulu tuan..!!" Wanita itu mengejar langkah lebar mereka.


Bruk


Kerena rem kakinya tidak cakram, wanita itu menabrak dada Ren, ketika Ren berbalik.


"Aakkh..." Memejamkan mata, wanita itu tidak merasakan apa-apa. 'kenapa tidak terasa sakit.'


Membuka matanya, pandanganya jatuh pada bibir pria yang sedang menahan tubuhnya.


Ehem


Bimo berdehem ketika melihat putranya dan seorang wanita beradu pandang, meskipun kecelakaan tapi mampu membuat keduanya bertatap wajah dengan jarak yang begitu dekat.


Ren segera tersadar, dan melepas rangkulannya pada pinggang gadis itu.


"E..m_maaf tuan." Wanita itu salah tingkah, dirinya merasa malu, dan jantungnya berdebar tak karuan.


Ren bersikap biasa saja, tetap cool meskipun sedikit merasa malu dengan sang ayah.


"Lain kali kita bahas kerja sama itu lagi." Ucap Bimo sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.


"Eh..tap_"


"Masih untung mendapat kesempatan, lain kali tidak usah membuat janji. Jika suka melanggar." Ucap Birendra ketus.


Wanita itu menatap punggung dua orang yang semakin menjauh.


"Karir gue." Dengan hati kecewa dan sedih Alexa merutuki kebodohannya.


Kesempatan nya kali ini gagal, padahal kerja sama ini sangat menguntungkan bagi karirnya yang akan di promosikan jabatan di kantornya, tapi karena insiden mobilnya yang mogok, dan karena buru-buru Alexa sama sekali tidak membawa uang, dirinya rela berlarian demi bisa sampai di tempat ini.


"Apes kamu Lexa." Ucapnya dengan lemas.


.

__ADS_1


.


"Wanita tadi cukup cantik." Ucap Bimo melirik sang putra yang fokus menyetir.


Ren menaikkan satu alisnya. "Sejak kapan Papa suka daun muda?"


Plak


"Ngaco kamu." Bimo menggeplak lengan Ren.


"Lah, papa bilang wanita tadi cantik, berarti Papa naksir dong." Ren mengelus lengannya yang lumayan panas.


"Kamu mau, memiliki Mama muda seperti dia." Kata Bimo dengan nada serius.


Kali ini kedua alis Ren menukik tajam, mendengar ucapan papanya.


"Kamu mau, memilki ibu sambung hm." Kali ini suara Bimo menggoda.


"Ck. boleh saja asal papa bahagia, dan wanita itu benar-benar baik dengan papa." Ucapnya pasrah, karena kebahagiaan paparnya lebih penting, meskipun dalam hati sedikit tak rela.


"Baiklah jika kamu setuju, nanti papa tinggal bilang sama kakak kamu tentang masalah ini."


Bimo mengulum senyum, melihat wajah putranya yang kecewa.


.


.


"Sen Om akan pergi bertemu klien di luar kota dengan kemal, kamu hendel pekerjaan disini untuk tiga hari kedepan ya." Ucap Yuda ketika mereka selesai metting dengan para staf bagian.


"Em.. keluar kota kemana om?" Tanya Sena.


"Ke kota B, dan setelahnya ada pertemuan juga dengan klien yang ingin berinvestasi di kota J."


"Om percaya sama kamu, nanti Om akan suruh staf yang sudah ahlinya untuk membantu kamu jika kamu mengalami kesulitan oke." Yuda menepuk pundak Sena.


"Baik Om." Sena tersenyum.


"Aku yakin kakak bisa, karena kak Sena adalah pemilik pabrik ini." Ucap Kemal.


"Tapi masih perlu banyak belajar Mal."


Kemal pun mengangguk.


Ketiganya keluar dari ruang metting dan kembali ke tempat kerja masing-masing.


"Dih cewek gatel, nempel sana nempel sini." Ucap seseorang wanita ketika Sena melewatinya.


"Eh..mbak kalau mau cari cowok ganteng, tajir gak disini tempatnya noh di kelab ujung gang, banyak cowok yang suka modelan mbak." Wanita itu menatap sinis Sena.


Sena menghentikan langkah kakinya dan menatap tiga wanita yang tidak pernah dia lihat. Meskipun bekerja di pabriknya.


"Kamu bicara dengan saya?" Ucap Sena datar menatap tiga wanita itu satu persatu.


"Siapa lagi staf cewek yang menjadi trending topik yang mendekati dua cowok tampan dan yang satu tajir di pabrik ini kalau bukan situ." Mawar menatap Sena sengit, sejak tadi dirinya memeperhatikan Sena berbicara dan dekat dengan Kemal, membuatnya geram dan panas.


Apalagi tadi pagi beredar foto dan gosip lambe lamis di grub WhatsApp.


Sena menaikkan satu alisnya. "Kamu ada masalah dengan saya." Tanya Sena lagi, dirinya tidak tahu maksud ucapan wanita itu, yang mengatainya mendekati dua pria.


"Asal kamu tau ya, Pak Kemal itu milik saya, dan Mas Rian milik teman saya, jadi kamu tidak usah tebar pesona dan sok ganjen dengan mereka." Mawar berkacak pinggang dengan mata melotot.


Sena malah tertawa lucu. Membuat mawar dan dua temannya menatap bingung.

__ADS_1


"Sinting kaki ya dia." Bisik mereka.


"Kamu terlalu menghayal mbak." Wajah Sena berubah serius. "Hati-hati takutnya menghayal nya terlalu tinggi dan jatuh..aww sakit." Sena mencolek dagu mawar dengan senyum sinis, berlaku pergi setelah membuat ketiganya kesal.


"Isss..dasar cewek murahan..!!" Umpat Mawar yang tidak terima di hina.


Bruk


"Kalau jalan pake mata dong." Sena mengambil map yang jatuh, tanpa melihat siapa yang sudah Ia tabrak.


Pria itu berkacak pinggang. "Kalau jalan pake kaki sayang, mata untuk melihat." Ucap Aaron dengan tersenyum lebar.


Wajah Sena mendongak, melihat siapa dan ternyata Aaron yang dengan sengaja menabraknya.


Sena kembali berdiri dan melanjutkan jalanya, memasuki ruangannya. "Kenapa kamu seperti ekor yang nempel terus sih." Sena menatap tajam Arron kesal.


"Sudah jam makan siang, apa kamu tidak lapar?" Aaron duduk di pinggiran meja Sena, jarak mereka lumayan dekat. Sedangkan Sena sudah duduk di kursi kerjanya.


Sena melihat jam, dan benar sudah jam makan siang, dirinya sampai tidak sadar. Pantas saja tadi sepi, hanya ada tiga ulet gatel sebagai pengganggu.


"Sen.." Aaron menarik tangan Sena yang akan membuka laptopnya.


"Apa sih.." Ucapnya kesal, dengan menatap Aaron. Sena terpaku melihat wajah Aaron yang begitu dekat dengan wajahnya, karena Aaron sedang menunduk.


"Makan dulu, kamu baru sembuh dari sakit." Mata Aaron menatap lekat wajah Sena yang begitu dekat.


"Aku belum lapar." Ucap Sena pelan, karena matanya fokus pada wajah Aaron yang begitu dekat, bahkan napas hangat Aaron dia bisa merasakannya.


Aaron tidak menjawab melainkan semakin memajukan wajahnya. "Apa mau memakan yang lain dulu." Bisik nya didepan wajah Sena. Tanpa sadar kepala Sena mengangguk, Sena sudah tidak bisa fokus ketika melihat bibir Aaron yang beberapa kali sudah mengajarinya menjadi sedikit lihai dalam berciuman.


Cup


Aaron mellumat bibir Sena dengan lembut, mata Sena terpejam perlahan ketika merasakan benda kenyal itu kembali membuat nya merasakan hal aneh dalam hati.


Tangan Aaron menahan kepala Sena, untuk memperdalam ciuman mereka ketika Sena membalas ciuman itu.


"Emph.." Sena meleguh ketika lidahnya disesap dan bibir nya digigit pelan oleh Aaron.


Keduanya larut dalam rasa, rasa yang belum pernah Sena rasakan, hingga membuatnya selalu penasaran dengan hatinya. Apakah dirinya juga mencintai Aaron?


Tanpa mereka sadari seseorang dengan sengaja merekam kejadian itu dari bilik jendela kaca besar.


"Pasti akan menjadi ladang uang" Ucap orang itu dengan senyum puas melihat Vidio yang sudah dia rekam.


"Ar.." Sena mendorong kepala Aaron, ketika bibir pria itu sudah tak terkendali sampai menyusuri lehernya.


"Engh.." Aaron menjauhkan kepalanya dengan wajah sayu menahan hasrat.


"Ini di pabrik." Ucap Sena, membuat Aaron mengusap wajahnya kasar.


"Maaf.." Aaron yang lupa dan tidak sadar dirinya terbuat suasana dan melupakan mereka ada dimana.


"Ayo.." Aaron berdiri dan menarik tangan Sena, setelah Sena merapikan penampilannya dan melihat lipstik di bibirnya sedikit berantakan lalu merapikannya.


"Kemana?"


"Kita cari tempat yang aman." Celetuk Aaron kelewat santai.


.


.


Jangan bosan ya reader, sebentar lagi END kok🤭

__ADS_1


__ADS_2