
Menyesal, marah tentu saja Ren merasakannya.
Menyesal telah membiarkan istrinya sendiri tanpa pengawasan, marah kepada diri sendiri yang tidak bisa menjaga Alexa di tambah ternayata isterinya mengandung dirinya tidak tahu. Suami macam apa dirinya ini? membiarkan istri nya terluka bahkan calon anaknya pun menjadi korban sebelum mereka tahu.
Ren menatap sendu wajah Alexa, sejak tadi dirinya tidak beranjak dari samping sang istri, waktu sudah pukul sepuluh malam tapi Alexa belum juga membuka matanya.
Ren memang tidak memberi tahu keluarganya, dirinya tidak ingin membuat repot mereka terutama sang kakak pasti dia akan sangat merasa bersalah.
"Kenapa kamu tidur lama sekali, kamu tidak merindukan aku." Tangan kanan Ren setia mengelus kepala sang istri, tangan kirinya untuk menggenggam tangan Alexa untuk Ia kecup.
Entah apa yang harus dia katakan pada Alexa ketika wanitanya nanti bangun. Tapi ini lah garis takdir, Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang indah untuk keluarga kecil mereka dan mereka harus ikhlas untuk menerimanya.
Ren beranjak dari duduknya ingin ke kamar mandi, dirinya beranjak hanya ketika menunaikan kewajiban dan ke kamar mandi. Selain itu Ren sama sekali tidak melakukan apapun, bahkan untuk makan saja dirinya sama sekali tidak bisa.
Ceklek
Keluar dari kamar mandi Ren menoleh ke ranjang sang istri, ternayata Alexa sudah membuka matanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun." Ren segera menghampiri Alexa, mencium kening sang Istri dengan penuh kasih sayang, bahkan Ren terbitkan senyum menawanya untuk sang istri.
"M-Mas." Suara Alexa serak.
"Mau minum?" Alexa hanya menganggukkan kepala.
Ren mengambilkan gelas berisi air di atas nakas, dan membantu Alexa untuk meminumnya, dengan sedikit membatu nya duduk.
"Sudah." Alexa kembali mengangguk.
Lima menit, sepuluh menit. Ren hanya diam dan menciumi pucuk kepala Alexa.
"Mas maaf, aku tidak bisa menjaga diriku sendiri." Ucap Alexa lirih dengan memeluk tubuh suaminya, Alexa merindukan dada bidang suaminya meskipun hanya sebentar saja.
"Hm.." Ren hanya berdehem untuk menanggapinya.
Mendengar suara Alexa dirinya menahan rasa yang bergemuruh di dada, sebisa mungkin Ren tetap tenang dan memejamkan mata.
__ADS_1
Alexa kembali diam, tidak biasanya suaminya itu irit bicara, tapi Alexa mencoba untuk memahaminya mungkin suaminya itu marah.
"Kamu marah." Wajah Alexa mendongak, sehingga membuat Ren mengangkatnya dagunya yang awalnya berada di atas kepala Alexa.
Mata keduanya bertemu saling tatap, namun melihat mata Ren Alexa tahu jika suaminya memendam sesuatu. "Maaf jika aku membuatmu marah, tapi aku hanya menolo_"
"Jangan lakukan itu lagi." Ren buru-buru memotong ucapan Alexa, pelukan nya semakin erat, bersamaan dengan deru napas yang semakin berat.
Alexa merasakan suaminya menyimpan sesuatu, Ren tidak biasa seperti ini meskipun dirinya sakit.
Alexa tahu jika suaminya memendam amarah, tapi Alexa tidak tahu karena apa. Membiarkan Ren sebentar itulah yang Alexa lakukan agar pria itu bisa lebih tenang.
Alexa mengecup dada bidang Ren di balik kemeja yang dia pakai, Alexa tahu jika suaminya belum berganti pakaian karena Ren masih menggunakan pakaian yang dia siapkan tadi pagi.
Ren memejamkan mata, merasakan bibir Alexa menyentuh dadanya, meskipun di balik kain tapi Ren bisa merasakannya.
"Apa ada yang kamu ingin sampaikan?"
__ADS_1