
Ting...Tong...Ting..Tong..
Bel apartemen Aaron terus berbunyi, dan penghuninya masih bergelung di bawah selimut.
Jam menunjukan pukul enam pagi, tapi kebisingan suara bel sudah mengusik tidurnya.
"Hiss..siapa sih pagi-pagi udah bikin orang emosi." Aaron yang kesal segera bangkit untuk memarahi siapa pagi-pagi yang sudah mainan bel pintu
Ceklek.
"Bisa gak sih, gak usah mainan bel pin_tu." Aaron menelan ludah kasar, ketika melihat wanita speak bidadari cantik berdiri di depannya.
"Se_Sena.." Aaron mengucek kedua matanya, apakah dirinya tidak salah lihat.
"Bagus, jam segini masih molor, buru siap-siap hari ini aku akan mengumpulkan semua karyawan pabrik, dan aku butuh teman seperti kamu untuk membantuku." Ucap Sena dengan senyum. Dimana membuat hati Aaron awalnya senang menjadi layu mendengar kalimat 'teman'.
"Ayolah Ar, kenapa kamu malah bengong." Sena mendorong pria yang berdiri di depan pintu itu hingga masuk kedalam. Sebenarnya jantung Sena tidak kuat melihat Aaron yang tidak menggunakan baju, Aaron bertelanjang dada dengan memakai celana pendek, dan rambut pria itu sangat acak-acakan malah membuat Aaron semakin tampan di mata Sena.
"Ini masih pagi sayang..." Aaron mengacak-acak rambutnya.
Sena menghela napas. "Bisakah kau merubah panggilan mu itu." Ucap Sena yang duduk di sofa matanya menatap layar ponsel, tidak mau melihat Aaron yang berdiri di depannya ketika bicara.
"Kenapa? memangnya ada yang salah?" Aaron menatap Sena yang asik main ponsel.
"Ar, aku tidak nyaman." Sena memberanikan diri mengangkat kepalanya, matanya hanya menatap wajah Aaron tidak berani melirik leher Aaron kebawah, apalagi dada bidang pria itu.
"Ck. alasan." Aaron pergi meninggalkan Sena yang merasa sedih, biasanya pria itu akan mengganggunya lebih dulu dan tidak dengan mudah menyerah dan pergi.
.
.
.
Dua mobil mewah dengan harga fantastis terparkir epik di parkiran khusu presedir. Sena yang sengaja memakai mobil yang di titipkan di rumah Kemal, dan kini dirinya datang dengan penampilan berbeda.
Kaca mata hitam bertengger di atas hidung mancungnya, Sena keluar dari dalam mobil mahalnya Bugatti Chiron. Jika Aaron memiliki warna hitam makan mobil Sena berwarna merah. Aaron pertama melihat Sena membawa mobil yang setara denganya terkejut, tapi dirinya berfikir mungkin saja Sena mendapatkan nya dari calon suami, dan hal itu membuat dada Aaron merasa sakit.
Karyawan yang baru datang, dan ada juga yang masih duduk diatas motor mereka melihat Dua mobil mewah itu dengan mata melotot apalagi ketika dua pemilik mobil itu keluar membuat bola mata mereka ingin lepas.
"Itu kan Ryan dan Bu Sena, gila mereka ternyata hokay.."
"Iya juga, duh pasti mereka datang untuk mengklarifikasi Vidio mereka kemarin."
"Gila, kalau penampilannya begitu sih mereka berdua emang cocok."
Mereka semua tak percaya melihat penampilan dua pemeran video syur itu ternyata orang kaya, apalagi Aaron atau yang di kenal Ryan, biasanya hanya memakai pakaian biasa dan motor besarnya yang dimiliki sejuta umat. Kini Aaron datang dengan penampilan berkelas, Aaron sudah seperti Ceo-ceo di dunia Entun begitulah halu mereka seperti Author.
Kini jam sudah menunjukan pukul delapan pagi, semua karyawan di minta berkumpul di aula, karena ada hal penting yang akan di umumkan.
Para karyawan semua berbisik-bisik, mereka menduga-duga apa yang akan di umumkan. Padahal kasus staf dan karyawan sedang melakukan adegan syur masih trending di kalangan karyawan pabrik, dan mungkin karena masalah itu mereka semua di suruh berkumpul.
__ADS_1
Seseorang yang mendengar kasak kusuk di sekitar menjadi kesal sendiri, bukanya mendapat asumsi buruk tapi mereka malah memuji kedua orang itu.
'Sialan.'
Tak lama pintu besar aula terbuka, dan masuk lah lima orang yang mereka kenal di antara ketiganya dimana ada Yuda, Kemal dan staf tangan kanan direktur mereka, tapi ada yang aneh dari jajaran baris jalan mereka, dimana yang biasanya Kemal berada di belakang presedir mereka. Kini Sena lah yang berjalan di belakang Presedir, dan di belakang Sena ada Aaron.
Ehem
" Mohon perhatian nya semua.." Ucap Yuda di depan para karyawan berdiri di atas panggung yang telah di siapkan dan berbicara dengan menggunakan mic. "Sengaja kami kumpulkan kalian semua di sini bukan untuk sekedar duduk santai, tapi ada suatu hal penting yang harus kalian ketahui." Yuda menatap semua karyawan yang duduk di depan. "Mengenai Vidio yang beredar kemarin kami sangat menyayangkan atas kejadian itu, karena kejadian itu kami jadi tahu, di balik motif pemerasan kepada saudara Sena dan kini ada motif lain untuk menjatuhkan harga diri dan di gunakan untuk mencari keuntungan, dan kami akan menidaklanjuti kasus ini, agar tidak ada kejadian hal serupa untuk kedepannya."
Sebuah gambar besar berisikan pesan beserta gambar foto-foto yang sudah dikirim oleh seseorang, dan di pesan itu jelas tersangka mengancam dan memeras sejumlah uang kepada Sena.
Melihat gambar besar yang di sorot lewat proyektor itu, mereka mengetahui nomor yang mengirimkan pesan, dan nomor itu seperti tidak asing di grub mereka. Dan semua mulai berbisik-bisik membuat ruangan itu sedikit ramai.
"Di mohon tenang..!! Saya selaku presedir pengganti disini juga akan mengumumkan siapa pemilik asli pabrik ini, dimana beliau sudah berdiri di hadapan kalian semua, mungkin kalian sudah ada yang bisa menebak." Yuda masih sempat bercanda, padahal pelaku di bawah sana sudah berkeringat dingin.
"Ya, Biana Sena Bagaskara adalah pemilik asli pabrik. Atau yang kalian tahu staf di bagian pengemasan yaitu ibu Sena adalah pemilik asli pabrik ini, beliau adalah putri pertama dari pemilik pabrik ini yaitu bapak Bimo Bagaskara."
Semua karyawan melongo tak percaya jika wanita speak bidadari yang berhasil menggeser kedudukan bidadari pertama adalah pemilik pabrik.
Aaron menatap Sena dari samping, dirinya juga tidak percaya jika Sena adalah pemilik pabrik, sayangnya dia tidak mencerna baik-baik siapa orang tua Sena.
Sena maju selangkah ke depan, bersanding dengan Yuda.
"Baiklah saya akan konfirmasi mengenai Vidio yang tersebar di semua kalangan karyawan pabrik." Ucap Sena di depan para karyawan. "Mungkin bagi orang yang sudah berhasil membuat Vidio itu sudah bisa membuat reputasi saya hancur, dan mungkin saya bisa di pecat dari pekerjaan saya." Sena menatap semua yang hanya diam. "Vidio itu memang saya dan saudara Aaron Ryan." Sena memang belum tahu nama belakang Aaron. "Dia memang karyawan yang sudah saya bayar, agar saya tahu siapa saja orang-orang yang memiliki niatan busuk di pabrik ini, karena dari masalah ini kemungkinan besar orang itu pasti akan berbuat hal yang lebih dari merekam Vidio yang beredar, dan saya pastikan pabrik ini akan lebih baik jika tidak ada orang-orang yang memiliki pikiran licik ataupun dendam, kalian ada masalah bisa kalian selesaikan baik-baik, tidak perlu melakukan hal yang akan merugikan diri kalian sendiri."
Dan semua membenarkan perkataan Sena, di mana kehancuran di mulai dalam diri kita sendiri, yaitu memiliki sifat iri dan dendam.
"Baiklah, setelah ini kalian akan tahu siapa orang yang sudah berbuat curang di dalam pabrik ini, yang kalian pikir mungkin orang itu adalah orang paling baik dan cantik ataupun paling tampan disini." Sena mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. "Dilarang untuk beranjak dari tempat ini sedikit pun..!!" Ucap Sena lantang, ketika melihat seseorang berdiri dan hendak keluar dari dalam ruangan aula itu.
"Tolong hargai saya berbicara." Sena menatap tajam orang itu dari kejauhan.
Hanya menekan satu tombol panggil dan tak lama suara bunyi ponsel berdering nyaring di dalam aula yang sunyi itu.
"Silahkan berdiri yang merasa ponselnya berbunyi." Kemal menggantikan Sena berbicara.
"Lah kok bunyinya dari ponsel lu Has..?"
"Jangan-jangan.."Semua mata menatap gadis yang sudah berwajah pucat. Hasna menatap teman-temannya yang mulai menggunjingnya.
Dirinya tidak sampai berfikir akan terjadi seperti ini, ketahuan di depan semua karyawan pabrik, apalagi yang membuatnya syok adalah Sena sang pemilik pabrik, jika seperti ini lebih baik dirinya bungkam.
"Ya tuhan ternyata speak bidadari yang menjadi tersangka, untung si Ryan kagak mau jadian sama dia." Ucap Dadang pada Asep yang berada di sampingnya.
"Mane teh gelis, tapi hatinya teh kaya ****** busuk." Ucap Asep yang masih didengar oleh Hasna karena posisi duduk mereka tidak jauh.
Dua orang security mendekati Harna. "Mbak Hasna sebaiknya anda ikut kami." Ucap security itu.
Hasna menangis dan menggeleng, "Ngak pak saya gak salah." Ucap Harna memberontak ketika security itu membawa paksa dirinya.
Hasna mendapat sorakan dan cemoohan para karyawan membuatnya merasa hina dan malu.
__ADS_1
"Mas Ryan, tolong aku mas..aku tidak salah, aku tidak melakukan hal itu..!!" Hasna berteriak dan menoleh ke belakang berharap Ryan mau membelanya, dan Ryan hanya menatap datar dari kejauhan.
Mereka semua menyoraki Hasna yang sudah keluar di bawa oleh security, dimana aula itu kembali ramai.
"Dengan kajadian ini semoga kalian semua tidak ada yang berbuat kejahatan seperti itu, karena di sini kita adalah keluarga, dimana tempat untuk mencari rezeki untuk keluarga, istri dan anak kita di rumah, maka saya harap kalian bisa mengambil hal baik dari kejadian ini." Terang Yuda kepada semua karyawan nya.
"Dan ada hal satu lagi, mungkin berita bahagia ataupun sebagian dari kalian mungkin berita sedih atau patah hati." Yuda menjeda dengan menarik napas. "Lusa adalah pernikahan pemilik pabrik ini, dan kalian semua di undang untuk hadir di acara resepsi Nona Biana Sena Bagaskara, untuk transportasi pabrik akan menyiapkan semua." Yuda bertepuk tangan dan di ikuti semua karyawan.
Sena sendiri terkejut karena Yuda mengumumkan acara pernikahannya, apalagi semua karyawan di undang.
"Om.." Sena menatap Yuda tak percaya.
"Om hanya melaksanakan mandat papamu." Yuda merangkul bahu Sena. "Seharusnya kamu bahagia, masa wajah kalian sama-sama terkejut." Ucap Yuda yang melirik Aaron sekilas, tapi Sena tidak melihat itu.
Dan Sena juga tidak mencerna ucapan Yuda karena masih syok.
Aaron mengepalkan tangannya, apalagi melihat rekan kerjanya semua bahagia menyambut pernikahan Sena.
"Duh Sep, lihat di atas sana ada raja singa yang sedang marah." Ucap Dadang yang melihat Aaron menahan kekesalannya.
"Bukan jodoh Dang, si Ryan kalah cepet."
Sena melirik Aaron yang diam di belakangnya, tatapan pria itu terlihat dingin.
.
.
.
Di lain kota, Lima orang yang sedang melakukan pertemuan keluarga tertawa melihat wajah Aaron yang menahan kesal dan amarah.
"Saya tidak sabar melihat wajah pria tengil itu jika tahu calon suami Sena adalah dia sendiri." Arthur papa Aaron sudah sampai di Jakarta malam hari, dan siangnya mereka mengadakan pertemuan dengan calon besan yaitu Bimo Bagaskara.
"Duh, kasian anak Mama Pah, lihat wajahnya sampe merah gitu, apalagi calon mantu Mama yang wajahnya sampe bingung." Arin menatap sendu putranya.
"Biarkan saja, Ar memang harus di beri pelajaran." Ucap kakek Lewis yang tertawa.
Mereka melihat acara live dari anak buah kakek Lewis yang sengaja mengambil acara mereka di pabrik.
Dan mereka tertawa sendiri, sejauh ini rencana mengerjai mereka berhasil.
.
.
Jariku kriting gaessðŸ˜... kirimlah hadiah kalian..jangan pelit yaa🤣🤣
"Mataku Mas" 🙈🙈🙈
__ADS_1