Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part55


__ADS_3

Sepanjang jalan Alena hanya diam tanpa bicara dirinya banyak memikirkan hal, terutama Bimo. Alena yakin jika dirinya sudah keterlaluan dan menyakiti perasaan Bimo, padahal pria itu begitu baik padanya dan juga Alisa.


Alena tidak mau mengikuti ego nya sesaat dan bisa membuat keputusan yang akan menyakiti semua.


Mungkin dirinya egois, tapi Diki adalah tunangannya tidak mudah baginya memutuskan begitu saja tanpa ada alasan yang begitu kuat.


Bukti yang dikatakan Bimo tentang Diki yang selingkuh tidak terbukti, meskipun Alena seperti sudah tidak mempunyai rasa kepada Diki namun kebaikan keluarga dan Diki sedari dulu selalu menjadi pertimbangan Alena.


Meskipun Bimo juga baik padanya, namun mengenal Bimo hanya baru beberapa bulan saja, dan Alena yakin jika perasaanya juga singgah hanya sementara.


"Kamu kenapa diam saja." Tanya Diki yang melihat Alena sejak tadi hanya diam.


Keduanya berada di dalam mobil, Diki mengantar Alena pulang.


"Hem..tidak apa-apa." Ucap Alena biasa.


Diki sebenarnya masih ingin menanyakan perihal pria yang datang bersama Alena tadi, namun sepertinya Alena tidak ingin membahas masalah itu lagi.


Mobil Diki berhenti didepan rumah Alena, keadaan sekitar sepi karena sudah tengah malam.


"Kamu istirahat ya." Diki mencium kening Alena, sebelum gadis itu keluar dari mobilnya.


"Iya..Mas juga harus istirahat." Alena tersenyum meskipun hatinya terasa sesak.


"Oke.." Diki kembali melajukan mobilnya pulang kerumah.


Alena merebahkan tubuhnya di tempat tidur, Alisa berada di rumah Mbak Ratna sengaja Alena tidak membawanya pulang, karena tidak ingin melihat dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.


Alena menangis terisak, dirinya terlalu egois mementingkan perasaan orang lain. Hatinya sakit ketika melihat tatapan Bimo yang kecewa padanya, apalagi dirinya sempat menampar wajah pria itu.


Sakit tamparannya tak sebanding dengan sakit hati yang sudah Alena torehkan melalui ucapanya.


"Maaf Bim, maafin aku." Alena memeluk guling dengan wajah berlinang air mata dirinya menangis sepanjang malam hingga menjelang pagi.


.


.


.


Pagi pak?


Selamat pagi pak?


Selamat pagi pak bos?


Begitulah sapaan para karyawan pagi ini yang melihat bosnya yaitu Bimo yang memasuki lobby kantor, aura wajah Bimo semakin datar dan lebih dingin, bahkan banyak orang yang menatap Bimo semakin takut.


"Pagi Bos, Hari ini ada tamu dari perusahan Tuan Richard." Ucap Daniel yang sudah menunggu Bimo di ruang kerjanya.


Daniel sendiri merasa lain melihat bosnya pagi ini, karena wajah Bimo semakin terlihat dingin, tidak seperti biasanya yang masih ada rasa hangatnya. Apa itu?


"Hem.." Hanya deheman untuk menjawab ucapan Daniel.


"Suruh Gina membuatkan saya kopi." Ucapnya lempeng saja tanpa melihat Daniel.

__ADS_1


"Tapi yang biasa buat kan buk_"


"Jangan membantah."


Daniel menutup rapat mulutnya mendapat tatapan tajam yang membuat jantungnya ingin loncat.


"Baik t-tuan." Daniel segera keluar dan mendatangi pantry.


"Eh.. ada mbak Alena,.mbak Gina nya mana?" Tanya Daniel yang tak melihat Gina, karena memang tugas dua wanita itu berbeda.


"Sedang bersih-bersih seperti biasa pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Alena.


Daniel menggaruk kepalanya yang tak gatal, dirinya bingung karena yang bosnya minta adalah Gina bukan Alena. "Emm.. pak bos suruh buatkan kopi." Ucap Daniel dengan kikuk. "Ehh mata mbak Alena kenapa bengkak begitu?" Tanya Daniel yang baru sadar melihat mata Alena yang bengkak dan merah.


"Oh..tadi dijalan kemasukkan debu pak, jadi iritasi." Elaknya dengan menunduk.


"Oh ya sudah, jangan lupa diobati mbak, dan kopinya bilang sama mbak Gina ya." Ucap Daniel lalu pergi.


"Kenapa harus menyuruh Gina sih, inikan tugas aku." Alena tetap membuatkan kopi untuk Bimo, setidaknya dirinya bisa meminta maaf didepan pria itu.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


Alena masuk setelah mendengar sahutan dari dalam.


Berjalan pelan Alena bisa melihat jika Bimo sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Menaruh kopi di depan meja Bimo Alena mundur satu langkah.


"Ak_"


"Keruangan saya sekarang." Ucap Bimo pada sambungan telpon, dirinya kembali fokus pada berkas di atas meja.


"Iya bos ada apa?" Daniel masuk dengan tergesa-gesa.


"Bawa kopi itu keluar." Ucapnya tanpa melihat kedua orang dengan raut wajah berbeda didepanya.


"Tapi Bos_"


Menadapat tatapan tajam kedua kali membuat nyali Daniel menciut.


Daniel membawa kopi yang Alena buat keluar dari ruangan Bimo, sedangkan Alena masih berdiri dengan menatap Bimo nanar.


"Kamu keluar." Ucapnya dingin dan sama sekali tidak melirik Alena.


Dada Alena kian sesak, air matanya jatuh tanpa permisi.


Dengan cepat Alena berbalik dan keluar dengan Isak tangis.


Brak


Bimo membanting telepon yang ada dimeja nya kelantai hingga pecah berhamburan.


"Loe yang menginginkan ini Ale." Bimo mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Melihat mata Alena yang bengkak dengan wajah sembab membuat Bimo tak tega, namun perkataan Alena adalah cara untuk nya mengabulkan permintaan gadis itu.


Meskipun tidak bisa melihat namun Bimo yakin jika Alena sekarang sedang menangis di pantry.


.


.


.


"Tuan sudah menunggu." Daniel mempersilahkan wanita yang menjadi tamu bosnya siang ini.


"Terimakasih." Siera tersenyum manis pada Daniel, karena hari ini dirinya bisa bertemu dengan Bimo, meskipun harus menggunakan nama papa nya namun sudah cukup senang bagi Siera. Kerena di hari biasanya dirinya sama sekali tidak bisa menemui pria yang akan dijodohkan kepadanya itu.


"Oh..maaf apa kamu bisa buatkan saja jus , dan antar keruangan bos." Ucap Siera yang berpapasan dengan Alena.


"Baik nona." Alena segera kembali ke pantry dan membuatkan pesanan tamu bosnya.


"Hay calon suami." Siera langsung masuk dan menghampiri Bimo yang sedang duduk dikursi kebesarannya.


Bimo mengangkat wajahnya ketika mendengar suara asing ditelinga nya.


"Kamu sibuk?" Tanya Siera yang berdiri di samping Bimo.


Bimo tidak menanggapi dirinya tetap fokus pada pekerjaanya.


Siera mendudukkan boko*ng nya di pinggiran meja kerja Bimo. "Kamu kenapa dingin banget sih sama calon istri hm." Ucap Siera dengan suara manja.


Tangannya tanpa permisi menyentuh wajah tampan Bimo.


"Kalau kamu bersikap begini terus, semakin membuatku tertarik untuk memilikimu." Ucap Siera terdengar begitu seksi namun tidak bagi Bimo.


Bimo menepis tangan Siera di wajahnya, namun malah digunakan Siera untuk mencari kesempatan.


"Aahh.." Siera pura-pura limbung dan jatuh ke pelukan Bimo, bersamaan dengan Alena yang masuk membawa minuman.


Bimo hanya diam tanpa menolak sentuhan tangan Siera di dadanya.


Alena mengeratkan pegangannya pada nampan yang dirinya bawa. Sekuat tenaga agar gelas itu tidak jatuh.


"Maaf." Alena menunduk dengan menaruh gelas itu di meja, dan langsung pergi tanpa melihat dua orang yang sudah membuat hatinya hancur.


Bugh


"Auw..sakit..!!" Siera memekik ketika bokong nya menyentuh lantai dengan indah.


"Jaga batasan mu." Bimo mengibaskan jasnya dan pergi masuk kedalam kamar pribadinya.


"Siiaallaan..!!" Siera menggeram tak terima.


.


.


Ingat tinggalkan jejak kalian, kalau belum mohon balik lagi..🤣🤣

__ADS_1


Besok Author libur jangan dicari yaa..💃💃


__ADS_2