
Bimo datang ke pantry untuk menyuruh istrinya membuatkan kopi dan mengantarkannya ke ruangnya.
Padahal Bimo bisa menghubungi pantry lewat sambungan telepon, tapi dasarnya saja dirinya yang aneh.
"Emph..." Alena hampir saja tersedak ketika Bimo menekan kepalanya lebih dalam.
"Engh..sshh sayang ugh." Wajahnya mendongak dengan mata terpejam, meskipun untuk pertama kalinya mereka melakukan ini, namun Alena cukup baik dalam melakukannya.
Bimo semakin merancau ketika bibir tipis Alena menyesap ujung miliknya semakin membuat miliknya berkedut.
"Shh..sayang ahh.." Tangannya meraup rambut Alena dan membantu menekan kepala nya maju mundur.
posisi Bimo yang duduk di pinggiran ranjang, dan Alena yang berjongkok di depannya.
Niatnya hanya ingin pemanasan bibir saja, namun karena terbawa suasana mereka terbakar hasrat sendiri terutama Bimo, sekuat tenaga dirinya menahan gejolak yang selalu hadir ketika bersama istrinya, dan berakhir seperti ini.
Meskipun Bimo sempat menolak istrinya untuk melakukan hal itu, bukanya menurut Alena malah semakin menggodanya dan berakhir Alena yang harus bertanggung jawab.
"Egh.." Alena mempercepat kocokan di tangannya mulutnya terasa kaku dan kram.
"Uhh...sayang..ahh..ahh.." Bimo menggeram dalam ketika miliknya menyembur lahar panas di tangan istrinya.
__ADS_1
Napasnya menderu naik turun bibir sedikit terbuka, peluh membasahi wajah tampannya.
"Hm.." Alena berdiri dari jongkoknya dan mendekati wajah suaminya.
Cup
Kecupan dibibir dan sedikit kulumman Ia berikan di bibir tebal suaminya yang masih mengatur napas.
"Kamu nakal sayang." Bimo tersenyum menatap wajah Alena yang hanya beberapa senti didepanya wajahnya, keduanya bisa merasakan hembusan napas hangat menyentuh permukaan kulit wajah mereka.
Bibir Alena melengkung membentuk senyum manis, dada nya pun bergemuruh berdetak cepat. Ini adalah pengalaman pertama memuaskan suami dengan cara sehat.
Bimo menghela napas dan tersenyum kedua tangannya bertopang kebelakang badannya.
"Hari ini kamu mendapatkan pelayanan eksklusif heh." Arah matanya tertuju pada miliknya di bawah sana yang sudah merasa puas setelah menuntaskan hasratnya.
.
.
"Aku keluar dulu ya, udah lama disini sama kamu." Alena membenahi baju atasnya setelah dari kamar mandi, karena ulah suaminya dirinya hanya bertelanjang dada.
__ADS_1
"Hm..tidak mau istirahat disini." Ucap Bimo yang berdiri dengan wajah segar, karena habis mandi.
"Tidak." Alena menggeleng dan mendekati suaminya.
Cup "Jangan galau terus, masih ada lima hari lagi." Ucap Alena dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum genit.
"Kamu semakin berani sayang." Bimo menatap Alena tak percaya dengan tingkah istrinya yang menjadi lebih berani menggodanya sejak kemarin.
"Hm..dan kamu semakin suka sayang." Alena tertawa dan keluar dari kamar pribadi Bimo.
"Ck. Dasar Ale-Ale." Bimo tersenyum entah mengapa hatinya merasa hangat dan sepertinya dirinya bertambah mencintai istrinya itu.
"Cih, ternyata kamu bekerja hanya untuk melakukan percintaan di kantor anak ku." Leina menatap Alena sinis yang baru keluar dari kamar pribadi Bimo.
Deg
Alena yang tidak tahu jika Mama Bimo datang pun terkejut.
"Tidak heran kenapa putraku bisa terjebak dengan wanita sepertimu, ternyata kamu menggunakan tubuhmu untuk mengikatnya." Leina semakin menatap tajam Alena yang hanya diam mematung.
Leina berniat datang mengunjungi putranya untuk mengajaknya makan siang, namun ketika sampai diruangan Bimo dirinya tidak melihat keberadaan anaknya dan malah mendengar suara erotis dan dalam kamar pribadi Bimo. Sudah pasti mereka sedang melakukan hubungan int*m berdua, membuat Leina kesal dan geram.
__ADS_1