
Sena mengerjapkan kedua matanya dengan pelan, tubuhnya terasa remuk setelah melayani sang suami, sungguh Sena merasakan seperti malam pertama mereka, tumbuhnya yang lemas dan remuk redam.
Duduk dengan memeluk selimut Sena tidak melihat Aaron di sebelahnya dan dilamar pun tidak ada.
"Apa dia pergi lagi." Gumam Sena yang melihat jam sudah setengah enam, dan dia tidak di bangunkan. Sena bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, ketika ingat sudah meninggalkan sikembar cukup lama.
Di luar Aaron sedang bermain dengan putranya yang berusia dua bulan lebih, dia begitu senang ketika bicara kedua putranya tertawa seperti mengerti apa yang papanya ucapkan.
"Ar, Dimana Sena?" Tanya Bimo yang baru saja keluar dari kamar setelah membersihkan diri. Biasanya Sena yang akan menjaga baby A, dan Aaron belum pulang, tapi hari ini Arron lebih dulu pulang darinya.
"Masih di kamar pah, mungkin sedang mandi." Jawab Aaron hanya menebak, dirinya tidak mungkin kan jika bilang Sena sedang kelelahan.
"Oh, tumben kamu sudah pulang." Ucap Bimo sambil menoel-noel pipi Ameer, lalu mengangkatnya untuk di gendong.
"Em, tadi ada urusan di luar jadi bisa pulang cepat." Jawab Aaron jujur, tapi tidak dengan kejujuran yang selanjutnya.
Bimo hanya mengangguk dan bermain dengan kedua cucunya. "Pah titip kembar sebentar, aku mau melihat Sena." Aaron menaruh Amaar di ayunan seperti kursi.
__ADS_1
"Hm.." Bimo hanya bergumam, dirinya asik menimang Amaar yang tertawa, sedangkan Ameer anteng dengan mainannya.
Ceklek
Aaron masuk kedalam kamar namun tidak melihat Sena di sana, perlahan langkah kakinya mendekati kamar mandi, dan terdengar bunyi gemericik air.
Aaron menunggu Sena dengan duduk disisi ranjang dan memainkan ponselnya, untuk melihat perkembangan saham Richard yang dikerjai botak.
Aaron tersenyum tipis melihat laporan yang botak kirim, saham Richard turun drastis dalam waktu kurang satu jam, dan sebentar lagi akan koleb.
"Itulah akibatnya jika kalian bermain-main denganku." Aaron tersenyum puas.
"Tidak, hanya soal pekerjaan." Ucap Aaron lalu berdiri untuk meraih handuk kecil yang Sena pegang mengusap rambutnya yang basah.
"Kamu belum bercerita, tentang kejadian tadi." Tanya Sena menatap Aaron dengan keingintahuan.
Aaron menyuruh Sena untuk duduk didepan meja rias, dia tangannya mengusap rambut wanitanya yang basah dengan handuk.
__ADS_1
"Hanya karena bisnis sayang, mereka tidak terima dengan apa yang aku dapatkan, lalu mereka menggunakan cara licik untuk me jatuhkan ku." Aaron masih mengusak rambut Sena hingga setengah kering.
"Sayang, apa itu tidak berbahaya, aku takut jika_"
"Ssttt," Aaron menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Sena. "Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan melindungi kalian." Aaron mengecup bibir Sena sekilas. "Mereka sudah menerima balasannya karena sudah mencari lawan yang salah." Aaron tersenyum, dan mengecup kening Sena.
"Bersiaplah, papa sudah menunggu kita di bawah, jangan sampai aku mengurungmu lagi di kam_Auwwss, sayang sakit." Aaron mengusap lenganya yang terasa panas karena mendapat cubitan pedas dari Sena.
"Libur satu Minggu, kamu sudah membuatku susah berjalan." Sungut Sena dengan menatap tajam suaminya.
"Eh, jangan dong mah, masa papa libur seminggu, satu hati aja deh ya..ya..plis." Aaron merengek seperti anak-anak.
"Tidak, itu hukuman untuk kamu yang sudah membuatku terkapar."
Brak
Sena menutup pintu kamar kuat, tepat di wajah Aaron yang mengikutinya.
__ADS_1
"Apes nasibmu jeki." Aaron menunduk menatap miliknya bernasib naas.