
Aaron melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dirinya yang sedang berada di luar kantor karena ada pertemuan dengan klien, Aaron yang mendapatkan telepon dari Niko jika Sena di temukan pingsan di dalam toilet membuatnya panik.
Ciittttt
Dencitan ban mobil akibat rem mendadak membuat beberapa orang yang mendengar terkejut.
Aaron segera keluar dari dalam mobil, setelah mobilnya berhenti di depan lobby kantor, dirinya tidak peduli jika mobilnya menghalangi kendaraan lain, toh ini juga perusahaan miliknya.
"Pak.." Security yang bingung karena melihat bos besar nya berlari kesetanan setelah keluar dari mobil.
Aaron tidak peduli, dirinya segera menekan tombol lantai ruangan nya di lantai enam setelah masuk ke dalam lift
"Ayolah." Jantungnya berdetak dengan cepat, wajahnya yang begitu panik sangat ketara. Jangan tanyakan seberapa khawatir dan panik dirinya.
Dirinya pergi Sena dalam keadaan baik-baik saja, lalu kenapa, sekarang tiba-tiba Sena tak sadarkan diri, dan itu membuat dirinya benar-benar khawatir.
Ting
Pintu lift terbuka, Aaron segera berlari menuju ke ruangannya, beberapa karyawan yang dia lewati menyapa, tapi tidak dirinya hiraukan.
"Sena..!!" Aaron segera menghampiri sang istri yang sudah duduk bersandar di sofa dengan lemas.
"Ar.."
Aaron langsung memeluk tubuh Sena erat, menciumi bertubi-tubi.
"Mana yang sakit, kita kedokter sayang." Ucap Aaron dengan menangkup wajah Sena yang sedikit pucat, kekhawatiran Aaron tidak bisa di sembunyikan kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak ada Ar, aku hanya_"
"Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, aku tidak mau kamu sakit, lebih baik kita kerumah sakit." Aaron memotong ucapan Sena, dadanya begitu ngilu pertama kali mendengar istrinya pingsan di dalam toilet.
"Nyonya Sena tidak apa-apa pak, hanya kelelahan." Sela dokter yang tadi sudah memeriksa Sena, karena Niko segera menghubungi dokter ketika melihat istri bosnya pingsan dalam toilet.
"Ar, dengar aku tidak apa-apa." Sena bisa melihat jika suaminya begitu khawatir lewat mimik wajahnya.
"Kalo tidak apa-apa, kenapa kamu bisa pingsan." Aaron mengecup kedua tangan Sena.
"Pak nyonya hanya sedang_"
"Hanya merasa tidak enak badan." Sena menatap tajam dokter itu untuk tidak memberi tahu apa yang sebenernya terjadi. "Dan sekarang sudah baik-baik saja." Sena tersenyum untuk menyakinkan suaminya yang sempat curiga.
"Benar?" Tanya Aaron dengan tajam menatap dokter itu.
"I-iya pak, dan saya sudah memberi istri anda obat." Dokter itu sedikit gugup menadapat tatapan tajam Aaron.
"Sudah Ar, dan dokter terima kasih." Sena memeluk erat tubuh suaminya yang duduk di sampingnya.
Ehem
__ADS_1
Niko berdehem. "Baiklah, kami permisi pak." Niko segera mengantar dokter itu keluar, ketika melihat kedua pasang suami istri itu pasti akan melakukan adegan mesra seperti yang pernah dirinya lihat.
"Ck, nasib bawahan, mata gue gak bisa liat yang begituan.." Dumel Niko dalam hati.
Sena bergelayut manja di dalam dekapan sang suami, dirinya menghirup aroma tubuh Aaron dalam-dalam.
"Sayang..." Aaron merasa sesak karena Sena memeluknya erat. "Sesek napas aku." Ucap Aaron jujur.
Sena mendongak. "Aku bukan sumo, kenapa hanya memeluk kamu merasa sesak." Ucap Sena dengan wajah kesal.
Sena langsung melepas rangkulannya, dan menjauhkan duduknya dari sang suami.
"Bukan begitu, tapi kamu meluk nya erat banget, bikin aku sesek."
Aaron ingin meraih tangan Sena, tapi Sena menepisnya.
"Cih, badan aja keras, di peluk gitu aja gak bisa napas."
Sena melirik Aaron sinis dan pergi dari ruangan Aaron dengan kesal.
"Sayang...hey..mau kemana..!!" Aaron mengejar Sena yang sudah keluar dari ruangannya dengan wajah kesal.
"Yasalam, tamat riwayatku malam ini." Aaron menepuk jidatnya, nasibnya malam ini pasti tragis jika tidak bisa membuat mood istrinya kembali baik.
.
.
.
"Terima kasih Tuhan." Sena tersenyum dengan mengelus perut nya lembut, dirinya tak menyangka akan mendapatkan anugerah yang begitu indah dari Tuhan.
"Sehat-sehat sayang, lusa kita beri papa kejutan." Ucapnya lagi dengan wajah ceria. Sena sedang duduk di kursi taman yang tidak jauh dari kantor, dirinya memang ingin meminum es cendol yang di jual di taman itu.
"Ini neng, es nya." Pedagang itu memberikan satu gelas besar yang terisi penuh, Sena menerima dengan mata berbinar.
"Terima kasih pak." Sebelum di minum, Sena lebih dulu mengaduk es cendol itu, agar semua isinya menyampur.
"Ya tuhan, inikah yang di namakan nyidam." Gumamnya merasa senang.
Sena memang sengaja tidak lebih dulu memberi tahu Aaron, hanya Mama Arin dan dirinya yang lebih dulu tahu, karena Sena sudah mengetesnya pakai respect dan hasilnya positif, karena lusa adalah ulang tahun Aaron jadi Sena dan Arin sepakat untuk memberi kejutan itu di hari ulang tahun suaminya.
Meskipun usia pernikahan mereka masih di hitung bulan, tapi Sena begitu bahagia mendapatkan anugerah yang Tuhan titipkan. Apalagi suaminya pasti begitu bahagia jika tahu kabar ini.
"Besok kita buat kejutan untuk papa yah." Lagi-lagi Sena berbicara dengan perutnya yang masih rata, dadanya membuncah bahagia, begitu tahu jika dirinya benar-benar hamil setelah di periksa dokter.
Aaron berlari kesana kemari, dan setelah hampir tiga puluh menit dirinya melihat Sena yang sedang duduk dengan memegangi gelas berisi es.
Dengan perasaan lega Aaron segera menghampiri sang istri.
__ADS_1
"Sayang kamu di sini." Ucapnya yang berdiri di depan Sena.
Sena mendongak dan menatap wajah suaminya.
"Ar, kamu habis olahraga?" Tanya Sena yang melihat keringat menetes di wajah Aaron.
Aaron hanya menghela napas. "Aku cari-cari kamu kesana kemari, dan ternyata kamu di sini..!!" Ucap Aaron yang tiba-tiba meninggikan suaranya, napasnya masih memburu karena berlari membuatnya lelah.
"Kenapa harus langsung pergi, seharusnya kamu dengerin aku bicara dulu." Ucap Aaron sedikit kesal, akhir-akhir ini Sena lebih suka meninggalkannya ketika masih bicara, dan tidak mau mendengar penjelasnya, membuatnya kesal sendiri.
Mata Sena berkaca-kaca, mendengar ucapan Aaron yang seperti menyalahkannya, perasaannya menjadi sedih.
"Maaf." Cicitnya dengan wajah menunduk, Sena menjatuhkan air matanya.
Aaron yang semula berkacak pinggang membuang muka, mendengar nada lirih Sena membuatnya seketika menatap sang istri yang sedang menunduk.
"Sayang hey.." Aaron meraih dagu Sena, agar melihatnya.
Deg
Sena yang menagis membuat dada Aaron perih. "Kenapa menagis hm.." Aaron mengusap kedua pipi Sena. "Aku gak bermaksud memarahi mu, jangan menagis." Mendengar ucapan Aaron membuat Sena air mata Sena kian deras.
"Sen-sen, maaf kan aku, jangan menagis sayang." Aaron langsung merangkul kepala Sena untuk di peluk.
"Aku tidak sengaja bicara keras, maaf..aku salah." Nada suara Aaron berubah menjadi serak, keduanya menjadi tontonan pengunjung di sekitar.
Sena hanya menggelengkan kepalanya, dirinya sadar jika akhir-akhir ini mood nya tidak bisa stabil, dan itu karena kehamilan nya.
"Tidak Ar, kamu tidak salah."
Keduanya masih dalam suasana haru, bahkan Sena masih berada di dalam dekapan Aaron.
"Jangan pergi tanpa memberi tahu aku, aku takut sayang." Ucap Aaron yang sudah melepas rangkulannya.
"Hu'um, maaf.." Ucap Sena yang sudah lebih baik, setelah menangis.
Aaron tersenyum, "Tidak apa," Tangannya membenarkan anak rambut di wajah Sena. "Apa sudah selesai? tumben kamu minum es cendol seperti itu." Ucap Aaron yang baru pertama kali melihat Sena minum seperti itu.
Sena menyengir, "Hanya ingin."
Aaron mengangguk. "Ya sudah ayo kembali ke kantor." Aaron berdiri dan meraih tangan Sena.
"Ar, tunggu dulu." Cegahnya ketika Aaron akan menarik tangannya.
"Apalagi sayang." Aaron menatap Sena penuh tanya, dan Sena hanya cengar-cengir tanpa dosa.
"Aku belum bayar, bayarin yah."
"Ya tuhan Sen-sen, kalo kabur lupa semua..untung ketemu aku kan." Ucap Aaron, membuat Sena hanya tersenyum. "Bisa-bisa kamu di suruh bantuin jualan."
__ADS_1