Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Somai


__ADS_3

Cinta memang tidak bisa dipaksakan oleh karena itu jika mencintai seseorang maka kita harus rela dan ikhlas melihat orang itu bahagia dengan pilihanya sendiri, karena cinta tidak harus memiliki dan kerena cinta pula banyak orang yang tersakiti. Dunia ini hidup sudah ada pasangannya masing-masing, jadi ki**ta hanya perlu berikhtiar untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, dan ikhlaskan jika memang itu tidak bisa kita raih.


Setelah berkunjung ke panti dan melihat Anisa dilamar oleh pria yang mencintainya, Bimo bernapas lega karena Anisa menerima kenyataan dengan lapang dada, beruntung gadis itu bisa menerima kenyataan jika dirinya tidak bisa menerima perasaan yang Anisa miliki.


"Cinta memang tidak bisa dipaksakan, maka dari itu aku tidak bisa memaksakan perasaanku hanya untuk berpura-pura." Bimo tersenyum tipis, mengingat dirinya yang memang bahagia dengan keadaanya yang sekarang. Jika dirinya menerima Anisa karena kasihan maka dirinya lebih merasa bersalah karena membiarkan Anisa masuk kedalam hidupnya yang tidak bisa menerima kehadiran orang lain.


"Maka dari itu aku sangat mencintaimu." Bimo menoleh dan tersenyum.


"Emm, gombal." Alena tersenyum dengan manis, senyum yang selalu membuat Bimo tidak bisa berpaling.


"Bukan hanya rayuan sayang, tapi kenyataan."


Alena semakin melebarkan senyumnya, dan memeluk lengan yang membuatnya merasa nyaman.


Mobil Bimo berhenti di sebuah toko bunga yang biasa dia membeli bunga, bahkan Riko bunga itu sudah hafal dengan Bimo dan bunga apa yang Bimo beli.


"Sore pak."Ucap pelayan yang biasa melayaninya.


"Berikan saya dua seperti biasa."


"Baik pak." Pelayan itu segera membuatkan pesanan yang Bimo minta, tanpa menyebut nama bunganya, mereka sudah tau.


"Silahkan pak." Tak lama pelayan itu memberikan dua buket bunga untuk Bimo.


"Terima kasih," Bimo mengambilnya, dan membayar


Lalu pergi menuju mobilnya kembali.


"Bunga Cantik untuk bidadariku yang cantik." Bimo mengulurkan satu buket untuk Alena yang berbinar menerima bunga dari sumainya.


"Terima kasih sayang." Alena semakin tersenyum lebar.


Perjalananya kembali berlanjut, tadi Bimo mendapatkan pesan jika Alisa berserta yang lain menunggu Bimo di tempat biasa, dan Bimo segera melaju kesana setelah pulang dari panti asuhan bunda Aisya.

__ADS_1


Tak lama mobilnya sampai di depan pemakaman umum, disana sudah ada Alisa beserta anak dan juga suaminya, juga Birendra dengan Alexa dan Sena dengan Aaron, namun si kembar di titipkan pada pengasuhnya, karena tidak mungkin kedua bayi kembar itu di bawa.


Bimo memakai kaca mata hitamnya, dan mengambil buket bunga satu lagi yang dia taruh dikursi belakang.


Keluar dari mobil untuk menjumpai keluarga yang sudah berkumpul, Bimo menangkup kebelakang disana Alena berdiri di samping mobil dengan senyum manis dan melambaikan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri memeluk bunga yang Bimo kasih.


Bimo ikut tersenyum dengan rupawan.


"Papa dari mana?" Sena yang lebih dulu bersuara.


"Em, tadi ada urusan sebentar ucap Bimo yang berdiri di depan mereka yang menunggu.


"Ayo." Ajak Bimo yang lebih dulu berjalan dan dikuti oleh yang lain, kali ini dirinya tidak sendiri mendatangi rumah sang istri, Bimo membawa adik serta anak-anaknya untuk mengunjungi Istrinya.


Sesampainya didepan pusara Alena Bimo lebih dulu berjongkok dan menaruh buket bunga mawar putih yang tadi dia bawa, sedangkan Alisa, Gio dan Glen duduk berjongkok di sebrang makam Alena.


Di samping Bimo ada Sena dan Alexa, sedangkan Ren dan Aaron berdiri dibelakang wanitanya.


Alisa sudah menangis di pelukan Gio, wanita yang masih cantik diusianya yang sudah kepala tiga.


"Semoga kakak bahagia disana, kami disini selalu merindukan kakak." Alisa tidak bisa membendung tangisnya, dia begitu merindukan sosok kakak yang menyayangi dirinya, Alisa tidak memiliki siapa-siapa ketika Alena pergi meninggalkannya di usia yang masih kecil. Bersyukur dirinya memiliki kakak ipar seperti Bimo yang mau merawat dan membesarkannya dengan kasih sayang yang melimpah.


Sena hanya diam tanpa bisa mengeluarkan air matanya, baginya air mata tidak bisa membuatnya baik-baik saja. Sena tidak merasakan kasih sayang seorang ibu dari dia dan sang adik masih bayi, karena Tuhan lebih sayang pada Mamanya.


Cukup lama mereka berada di sana, dalam hati mereka mendoakan Alena yang sudah bahagia di sisi-Nya.


"Kak kita mau melihat rumah baru yang akan kami tempati." Ucap Gio ketika mereka semua sudah berada di samping mobil masing-masing.


"Iya kak, lagi pula Glen juga akan mendaftar sekolah dan mas Gio juga mau masuk bekerja." Alisa ikut menimpali.


"Baiklah, tapi malam ini kalian masih pulangkan?"


"Masih, kami hanya ingin melihat dulu, jika sudah beres untuk ditempati mungkin besok kami baru pindah." Jawab Alisa, yang hanya mendapat anggukan dari Bimo.

__ADS_1


"Oke. kalian hati-hati."


Dan mereka pun berpisah disana, Bimo kembali mengendarai mobilnya sendiri, karena kedua anaknya membawa mobil masing-masing. Dan ketiga mobil itu beriringan bersama-sama.


"Sayang, kamu tadi lihat ekspresi papa ketika baru datang?" Tanya Sena kepada Aaron yang fokus menyetir.


Aaron menatap Sena sekilas. "Memangnya ada apa?"


"Entahlah, terkadang aku merasa jika papa tersenyum sendiri, seperti ada seseorang yang sedang papa perhatikan, tapi tidak ada siapa-siapa." Ucap Sena mengungkapkan kegundahan hatinya, Sena memang sering memperhatikan papanya.


"Kamu hanya khawatir sayang, makanya kamu sering parno sendiri." Aaron tersenyum, dan mengelus kepala Sena.


Sena hanya bergumam, menanggapi ucapan Aaron.


"Mas, aku mau makan itu." Tunjuk Alexa pada gerobak penjual somai dipinggir jalan.


Ren yang melihat langsung meminggirkan mobilnya setelah melihat jarak aman dari kaca spion.


"Kenapa kamu suka sekali makan- makanan yang dijual dipinggir jalan." Ucap Ren dengan mengehela napas. Pasalnya sejak Alexa hamil, Istrinya itu belum pernah meminta makanan yang dijual di restoran ataupun makanan yang mahal.


"Bukan mauku mas, tapi twins yang meminta." Ucap Alexa sambil mengelus perutnya.


Jika sudah mendengar nama twins, Ren hanya bisa pasrah menuruti.


"Tunggulah di sini, aku akan belikan." Ren segera keluar untuk membelikan makanan yang Istrinya minta. Padahal makanan di restoran atau cafe di jamin lebih enak dan higenis, tapi Istrinya selalu minta makanan yang di jual di pinggir jalan.


"Mang mau somainya dua porsi, yang satu pedas yang satu tidak." Ucap Ren yang langsung memesan dua, biarkan istrinya yang memilih mau makan yang mana.


"Tunggu sebentar mas." Jawab penjual yang masih melayani pembeli sebelum Ren datang. Disana cukup ramai hingga Ren yang berdiri di samping gerobak itu menjadi pusat perhatian. Situasi seperti ini yang Ren tidak sukai ketika mengantri, dirinya risih menjadi pusat perhatian.


"Ren.."


Ren yang di panggil pun menoleh. "Siska."

__ADS_1


__ADS_2