
Sena terlelap setelah pergumulan panas yang mereka lakukan, tidak tahu suaminya itu berhenti di jam berapa, karena dirinya sudah merasa lelah dan lemas, dan Sena tertidur pulas setelah Aaron beberapa kali mendapatkan pelepasan.
Sena membuka matanya, ketika perutnya terasa bergejolak, seperti di aduk-aduk membuatnya mual dan ingin muntah.
Berlari ke dalam kamar mandi dengan selimut melilit tubuhnya yang masih polos, Sena memuntahkan isi perutnya.
Huek...huek...
Aaron yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah pulang dari membeli makanan kesukaan sang istri yaitu bebek goreng, tidak melihat Sena di atas ranjang dan mendengar suara orang muntah di dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Aaron memijat pelan tengkuk Sena, dan memegangi rambut Sena yang panjang ke belakang agar tidak terkena muntahan.
"Ar...hoek..hoek.." Sena kembali memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar sana sekali.
"Kamu sakit?" Tanya Aaron yang panik dan khawatir. Dirinya tidak pernah melihat Sena seperti ini menjadi takut, apalagi wajah pucat Sena mengingatkan ketika Sena sakit di apartemen hanya seorang diri, beruntung dirinya datang waktu itu, sehingga bisa merawatnya.
Sena hanya menggeleng. "Tidak, hanya merasa mual." mencuci wajahnya Sena lupa jika selimut yang melilit tubuhnya jatuh meluncur ketika tangannya untuk membasuh wajahnya.
Aaron menelan ludahnya kasar, melihat tubuh sang istri yang polos dan memperlihatkan banyak tanda kismark di setiap inci tubuh Sena yang berwarna merah keunguan itu.
"Sayang, jangan memancingku lagi."
Sena menatap wajah sang suami dengan heran, bisa-bisanya Aaron berkata seperti itu, disaat dirinya dalam keadaan sehabis muntah.
Aaron menunduk dan mengambil selimut yang tergorok di lantai. "Untuk sekarang aku bisa menahannya, tapi tidak jika keadaan mu baik-baik saja." Aaron tersenyum smirik ketika melihat wajah istrinya yang syok.
Sena membulatkan kedua matanya, dirinya tidak sadar jika tubuhnya polos dan hanya terlilit selimut, dan itupun jatuh ketika dirinya membasuh wajah.
"Ar..kau itu pria mesum sialan." Sena yang kesal bercampur malu, meninggalkan Aaron yang tertawa keras.
"Dasar pria mesum menyebalkan, awas aja kalau minta jatah lagi." Sena menggerutu dengan kaki melangkah masuk ke kamar.
Sampai kamar dirinya melihat bungkusan yang terletak di atas meja dan bau nya sepertinya sangat menggoda perutnya yang kosong setelah muntah-muntah tadi.
"Bebek goreng." Ucap Sena dengan mata berbinar, melihat sepotong paha bebek goreng yang masih panas.
__ADS_1
Sena langsung mengambil duduk dengan bersila di atas karpet, dirinya tidak peduli jika harus makan dengan satu tangan memegangi selimut di tubuhnya agar tidak jatuh, yang penting perut nya segera terisi dengan makanan kesukaannya itu mulai sekarang, semenjak tinggal di suka bumi.
Aaron yang baru keluar dari dalam kamar mandi, tertegun ketika melihat Sena yang duduk bersila di karpet dengan makanan yang berada di atas meja, wanitanya itu makan tanpa membersihkan diri dan duduk rapi seperti biasanya.
"Sayang kamu ngapain?" Tanya Aaron yang melihat Sena lahap memakan makanan yang dia beli tadi.
"Tidur, ya makanlah, memangnya apa yang kamu lihat." Jawab Sena dengan melirik Aaron sinis, karena dirinya masih kesal.
Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, iya..maksud aku kamu tidak biasanya makan dalam keadaan belum mandi seperti itu." Ucap Aaron lagi melirik selimut yang melilit tubuh istrinya.
Sena yang biasa menyukai kebersihan membuat Aaron heran, biasanya Sena tidak akan makan sebelum membersihkan diri ataupun sudah berpakaian rapi.
"Ck. Bawel kamu, aku masih kesal." Tanpa memperdulikan suaminya yang heran Sena, kembali mengambil jatah Aaron, karena miliknya sudah habis tinggal tulang.
"Sen, apa kamu baik-baik saja." Aaron yang melihat cara makan istri nya tidak biasa membuatnya takut, sekaligus khawatir.
Sena menghentikan makannya, dan menatap Aaron sengit.
"Bilang kalau tidak rela bebek punyamu aku makan." Sena mendengus kesal, dan berdiri dengan wajah marah langsung pergi meninggalkan Aaron yang bingung dan panik karena melihat istrinya yang marah hanya karena ucapanya.
Brak
Aaron memejamkan matanya ketika pintu kamar mandi tertutup keras tepat di depan wajahnya.
"Untung rem nya cakram, kalau tidak habis wajah tampanku." Gumamnya dengan mengelus dada.
"Ck, dia ini kenapa sih, PMs kali ya.." Pikir Aaron, mungkin Sena sedang akan kedatangan tamu bulanannya.
Aaron memilih duduk di sofa memakan makanan yang Sena tidak habiskan, Aaron terlalu terbiasa dengan semua tentang sang istri, hingga dirinya tidak merasa canggung ataupun jijik jika hanya memakan makanan yang Sena sentuh meskipun hanya sedikit.
Dan Aaron mencintai Sena apa adanya kekurangan dan kelebihan Sena Aaron terima dengan senang senang hati.
.
.
__ADS_1
.
"Pah, anak kamu keterlaluan." Arin yang kesal karena menunggu Aaron dan Sena di mansion utama untuk makan malam menjadi kesuh dan dongkol.
Pasalnya hari ini Arin sengaja memasak makanan kesukaan menantu dan putranya itu, setelah pulang dari Mall, karena Minggu ini jatah Sena menginap di mansion. Dan Arin kesal karena dipastikan putranya itu menguasai Sena di dalam kamar.
"Memangnya kenapa?" Tanya kakek Lewis yang juga sudah menyelesaikan makan malamnya, mereka bertiga masih duduk di meja makan untuk menikmati buah pencuci mulut.
"Tadi siang saja Ar, menyusul kita ke Mall, dan Mama ditinggalkan begitu saja oleh anak nakal itu, padahal Mama masih ingin membeli banyak barang untuk Sena." Arin bercerita dengan hati kesal dan dongkol.
"Mama kayak ngak tau aja kalau pengantin baru maunya gimana?" Ucap Arthur yang menimpali ucapan sang istri.
Dirinya yang pernah muda dan merasakan pengantin baru masih ingat bagaimana dulu selalu ingin berduaan dengan Arin dan mengurung wanitanya di dalam kamar saja sampai puas.
"Ya, tapikan Mama juga ingin bersama menantu Mama Pah," Ucap Arin dengan wajah lesu.
Dirinya yang dulu ingin memiliki seorang putri, tapi Tuhan berkehendak lain karena ketika masih dalam kandungan berusia tujuh bulan bayi yang berjenis kelamin perempuan itu di nyatakan meninggal setelah dirinya mengalami kecelakaan sebuah motor yang menabraknya. Dan karena kejadian itu, Arin tidak bisa memiliki anak lagi, beruntung mereka sudah memiliki putra yaitu Aaron Ryan Lewis.
"Sabar mah, pasti menantu kita akan segera mengasih kita cucu, papa harap mereka memiliki anak kembar." Arthur membesarkan hati sang istri, agar tidak kembali sedih mengingat bayi mereka dulu yang sudah tidak bisa di selamatkan didalam perutnya.
"Eh...kok Mama gak kepikiran tanya Sena sih, padahal mereka sudah dua bulan menikah dan Mama lihat seharian tadi sepertinya Sena bertambah gemuk." Ucap Arin yang baru ingat, dimana dirinya melihat tubuh Sena yang sedikit berisi di bagian tertentu.
"Biarkan saja mah, tidak usah menanyakan hal itu..jika sudah waktunya pasti menantu kita akan kasih kabar." Ucap Arthur memperingati istrinya, agar tidak terlalu menuntut untuk mendapatkan cucu. "Karena anak adalah rezeki dari Tuhan, kita tidak bisa memperkirakan kapan rezeki itu hadir, yang penting kita selalu support dan kasih mereka semangat dan dukungan dan kita sebagai orang tua cukup mendoakan saja." Arthur bicara panjang lebar, agar sang istri tidak salah berucap, dan bisa menjaga perasaan Sena.
"Iya pah, Mama tidak akan melakukan hal itu." Arin pun menyadari bagaimana jika dirinya melakukan hal itu, pasti Sena akan tertekan dan selalu kepikiran, dan hal itu malah membuat Sena stres.
"Bagaimana jika adakan liburan bersama keluarga, anggap saja sebagai hadiah pernikahan mereka, kota ajak juga Besan." Usul kakek Lewis pada putra dan putrinya.
"Ide bagus Pah, anggap saja kita liburan dan mereka sekalian bulan madu." Ucap Arin semangat.
"Dih, itu sih mau nya Mama yang pengen healing dan belanja." Cibir Arthur pada sang istri, yang memang suka jalan-jalan.
"Ish..papa bisa gak sih jangan buka aib mama, didepan Papa mertua malu tau."
Kakek Lewis hanya tertawa, meskipun begitu Arin adalah menantu yang baik dan pengertian, semenjak ada Arin kakek Lewis terawat dan selalu hidup sehat dengan makanan yang sehat.
__ADS_1