
Ren berlari mencari keberadaan Alexa, matanya mengedar mencari sosok Isterinya yang baru saja pergi tapi sudah tak terlihat.
"Ck, Alexa." Ren pun menggeram, dan kembali mencari Alexa disekitar sana, pasti istrinya belum jauh.
Meskipun sempet kesal karena uleh Alexa tapi sekarang Ren mulai takut karena Alexa menghilang dari pandangannya. Ren terus mencari Alexa sudah jauh dirinya mencari dari restoran yang dia masuki tadi dan Ren tidak melihat Alexa.
"Alexa Dimana kamu." Wajah Ren mulai panik, Mall memang ramai dan dia kesulitan untuk mencari istrinya.
Ren kembali ke tampat tadi, ketika Alexa keluar. Jika tadi Ren berlari ke arah kiri, sekarang Ren mencari Alexa ke arah kanan, disana adalah tempat banyak stan makanan mungkin saja Alexa di sana.
"Wah Tante terima kasih, eskrimnya." Ucap anak kecil perempuan dengan wajah bahagia.
"Iya sayang, lain kali kalau kita ketemu lagi Tante akan telaktir kalian lagu." Alexa tersenyum melihat enam anak laki dan perempuan sedang memegangi eskrim masing-masing dikedua tangannya.
"Asiikk, semoga kita bertemu lagi Tante baik." Mereka pun senang dan menciumi pipi Alexa ketika Alexa menunduk.
Ren yang melihat itu merasa lega dan tersenyum, kekhawatiran nya hilang seketika.
__ADS_1
"Ternayata kamu disini." Ren berdiri dibelakang Alexa yang melambaikan tangan nya pada anak-anak tadi yang sudah pergi.
"Mbak totalnya Seratus lima puluh ribu " Ucap penjual itu dengan memberikan satu cup mangkuk eskrim pada Alexa.
"Iya pak," Alexa pun berbalik menatap suaminya. "Mas bayarin." Ucapnya dengan nada ketus.
Ren hanya geleng kepala, dirinya mengeluarkan dompet dan memberikan uang yang disebutkan penjual tadi.
"Sudah ayo kita pulang." Ren menyentuh tangan Alexa, menggandengnya seperti anak kecil.
"Oke." Ren mengalah, yang penting tidak membuat istrinya ngambek lagi.
Sepertinya setelah ini dirinya akan ektra berkerja keras untuk meluluhkan hati istrinya, Karena mood ibu hamil memang berubah-ubah.
.
.
__ADS_1
"Terima kasih Mas." Wanita cantik dengan memakai pakaian muslim tersenyum manis kepada pria yang berdiri didepannya, pria yang sudah banyak membantunya.
"Sama-sama Nis." Bimo tersenyum tipis, lalu duduk dikursi teras yang mengarah ke halaman luas disekitar.
"Kata bunda, mas Bimo jangan terlalu sering memanjakan anak-anak disini, nanti mereka selalu mengharapkan mas membawa apapun kalau datang kesini." Nisa memberi tahu Bimo, karena bundanya sering melarang Bimo tapi tidak di hiraukan oleh pria yang sudah hampir kepala lima itu, tapi masih bugar diusianya yang semakin matang.
"Tidak apa-apa itu hanya sebagian kecil yang aku berikan."
"Tapi mereka selalu menanyakan Mas kalau tidak datang, dan aku harus menasehati mereka semua." Ucap Nisa dengan wajah sedikit di buat memelas.
Bimo terkekeh, itu tugas kamu sebagai pengurus mereka." Bimo meraih cangkir teh hangat. "Bilang saja kalau aku lagi sibuk jika belum bisa kesini."
Nisa hanya tersenyum dan mengangguk.
Nisa adalah putri dari pemilik panti asuhan yang sering Bimo datangin untuk memberi santunan ataupun memberikan hadiah-hadiah untuk anak-anak di panti, Nisa baru saja pulang dari negeri Jiran untuk menyelesaikan sekolahnya, Usia Nisa memang tak lagi muda wanita cantik sholehah itu berusia kepala tiga namun belum ingin membina rumah tangga, meskipun banyak pria yang datang melamarnya tapi Nisa belum mau entah apa yang membuatnya belum bisa menerima padahal usianya sudah cukup dewasa bagi seorang Wanita.
Bertemu dengan Bimo pun baru beberapa bulan, setelah Nisa tahu jika pria matang yang dia tahu seorang duda dan memiliki dua anak bahkan sudah memiliki cucu. Dan Nisa mulai akrab dengan Bimo karena pria itu sering datang ke panti yang bunda Aisyah dirikan.
__ADS_1