Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Musuh2


__ADS_3

Sirin polisi terus di jalan yang sepi, Aaron nampak menahan luka dilengan tangannya dengan menekan mengunakan tangan kanan.


"Lebih cepat pak." Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Sena, dijalan sepi seperti ini, karena sudah jelas jarang ada yang lewat sini.


Polisi yang mengemudi menambah kecepatan laju mobilnya, dan di depan sana lampunya menyorot seseorang yang sedang duduk dipinggir jalan.


"Pak apa itu istri anda." Ucap supir itu yang melihatnya dari jarak lumayan jauh.


Aaron menajamkan penglihatannya. "Ya itu istri saya." Jawabnya dengan yakin.


Tak lama mobil polisi itu berhenti, membuat Sena langsung berdiri.


"Sayang.." Aaron langsung keluar dari mobil dan berlari memeluk Sena yang berdiri mematung. "Kamu tidak apa-apa, tidak ada yang terluka." Kedua tangan Aaron menyentuh bahu Sena dan memutar tubuh Istrinya. Aaron melihat kening Sena yang berdarah. "Maaf." Aaron kembali memeluk Sena setelah mencium seluruh wajah Sena. Antara merasa lega dan juga merasakan sakit, semakin mengeratkan pelukannya ketik terdengar suara tangis Sena.

__ADS_1


"Ar, aku takut terjadi sesuatu sama kamu." Sena menangis dalam pelukan suaminya, memeluk sama eratnya merasakan lega dalam hati.


"Tidak akan, aku tidak akan kenapa-kenapa." Aaron melepaskan pelukannya, dan menangkup kedua sisi wajah Sena. Suasana malam dan dua orang polisi tidak Aaron perdulikan yang terpenting istrinya selamat dan bisa melihat senyumnya kembali.


Sena tersenyum tangannya juga menyentuh wajah suaminya yang basah oleh keringat. "Ar, wajah kamu_"


"Tidak ap_"


Sena yang tidak mengerti menoleh ke kiri, dan alangkah terkejutnya dirinya melihat lengan Aaron yang berdarah, Sena menutup mulutnya menggunakan tangan. "Ar, kamu terluka." Tangan Sena gemetar untuk menyentuh luka itu, namun Aaron dengan cepat menahan tangan Sena. "Tidak apa, ayo kita obati lukamu." Aaron merangkul tubuh istrinya, yang sebenarnya untuk menopang tubuhnya, ketika pandanganya sudah mulai mengabur.


"Ar, kemarilah." Sena menyentuh kepala Aaron yang bersandar di kursi mobil, Sena membaringkannya di pangkuan. "Bertahanlah." Ucap nya sambil me jatuhkan air mata, Sena menangis. Sungguh dirinya merasa takut, meskipun suaminya berkata tidak apa-apa, tapi Sena begitu takut melihat luka tembakan di lengan suaminya.


"Jangan menagis." Ibu jari Aaron mengusap pipi Sena yang basah dan tersenyum. "Aku ingin istrirahat sebentar." Ucap Aaron yang sudah merasa lemas, sudah melihat Sena baik-baik saja membuatnya senang luka yang dia rasa tidak ada apa-apanya di banding dengan ketakutannya pada sang istri.

__ADS_1


Tiga puluh menit lebih, mobil yang mereka tumpangi dengan polisi sampai di parkiran rumah sakit terdekat.


Mereka langsung di hadang oleh suster dan dokter, setelah sebelumnya polisi tadi menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan tindakan langsung kepada Aaron, dan ketika sampai sana Aaron segera di tangani.


"Nyonya tunggu diluar, kami akan melakukan tindakan pada pasien." Ucap suster yang mendorong ranjang pasien masuk ke UGD, Sena menghentikan langkahnya. "Tolong selamatkan suami saya." Pinta Sena dengan berlinang air mata.


"Baik, kami akan melakukan yang terbaik."


Brak


Pintu UGD tertutup rapat, Sena terduduk lemas.


Dua polisi menghubungi keluarga Lewis dan Bagaskara, mengabarkan jika anak dan menantu mereka sedang mengalami kecelakaan dan berada dirumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2