Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

"Ar, kita akan tinggal dimana?"


Sena menatap wajah sang suami yang masih memeluknya, keduanya baru saja menyelesaikan pekerjaan yang menguras keringat dan sedang bersandar di kepala ranjang dengan saling memeluk setelah membersihkan diri dan beristirahat. Dua jam Aaron membuat Sena terbang melayang, dan Aaron baru menyerah ketika Sena sudah sangat kelehan, apalagi ini pertama kali untuk Sena. Aaron tidak mau jika Sena sampai tidak bisa berjalan.


"Terserah kamu sayang, nanti aku akan ajak kamu melihat rumah yang aku kasih sebagai mas kawin." Aaron mengecup kening Sena.


Sena menghela napas, sejujurnya dirinya ingin tinggal bersama sang papa, karena Sena yakin jika papanya merasa kesepian hanya berdua dengan Ren.


"Memangnya kamu mau tinggal di mana?" Aaron yang menyadari istrinya diam, pasti sedang berfikir sesuatu.


"Em,.tidak." Sena menggeleng.


"Katakan jika ada yang mengganggu pikiranmu, aku lebih suka kita sama-sama terbuka."


Aaron mengelus bahu Sena, dan menyuruh Sena untuk duduk.


Aaron menatap wajah Sena dengan menggenggam kedua tangannya. "Kita memang dua orang yang asing dan dipertemukan dalam sebuah pernikahan, dan kita sama-sama belum mengenal masing-masing, jadi aku harap mulai sekarang tidak ada yang kita sembunyikan apapun itu. Semua yang mengganggu pikiran kita masalah kita, aku harap kamu mau jujur dan berterus terang


" Aaron menyakinkan Sena jika dirinya tidak akan marah.


Sena menunduk. "Aku hanya kasihan dengan papa, aku yakin jika papa merasa sedih karena aku_"


"Sssttt.." Aaron menaruh jari telunjuknya di bibir Sena. "Asal kamu bahagia, apapun akan aku lakukan."


Sena menatap wajah Aaron, mencari kesungguhan dari mata pria itu, dan Sena menemukan kesungguhan di mata Aaron.


"Kamu segalanya bagiku, kebahagiaan kamu adalah terpenting bagiku."


Sena tersenyum dan memeluk tubuh suaminya.


"Terima kasih Ar." Ucapanya memeluk Aaron erat.


Aaron menyambut pelukan sang istri dengan suka cita. "Tapi ada syaratnya."


Sena melepas pelukannya. "Syarat?"


"Hm.." Aaron tersenyum penuh arti.


Sena yang melihat senyum Aaron menjadi ngeri sendiri.


"Tapi tidak sekarang, aku tahu jika disini." Aaron menyentuh area sensitif Sena. "Masih sakit." Bisik nya pelan.


Bugh


Sena memukul dada Aaron, wajahnya merona mengingat percintaan mereka beberapa jam lalu, meskipun pertama kali merasakan sakit, tapi Aaron mampu membuatnya terbang melayang.


Aaron hanya tertawa, dan merangkul kepala Sena untuk bersandar di dadanya.


"Kenapa mendapatkan mu seperti mimpi." Aaron mengecup kepala Sena.


"Jika dari awal aku tahu kamu yang di jodohkan, aku tidak perlu kabur dan harus mengejar cintamu."


Sena tersenyum mengingat Aaron yang begitu berusaha mendapatkan cintanya, apalagi pria itu rela melakukan apapun untuk bisa dekat dengannya.


"Terima kasih sudah meneprjuangkan cinta mu, meskipun pada akhirnya kita di persatuan oleh pernikahan."


"Kamu tahu, tipe pria seperti apa yang aku inginkan untuk menjadi suamiku." Sena menegakkan duduk nya, untuk bisa menatap wajah Aaron.


"Seperti apa? jangan bilang seperti pria yang waktu itu membawamu ke rumah sakit?" Aaron menaikan satu alisnya menatap Sena.


"Pria? pria siapa?" Tanya Sena yang tidak tahu pria siapa yang di maksud Aaron.

__ADS_1


"Ck, jangan bahas pria itu, bikin kesal saja." Aaron merebahkan tubuhnya terlentang.


Sena mengingat-ingat siapa pria yang Aaron maksud, dan diri nya baru ingat jika kemarin dirinya masuk rumah sakit di bawa oleh Aldrick.


Sena tersenyum menyeringai ketika melihat wajah kesal Aaron.


"Tidak usah senyum-senyum, kamu pasti sedang memikirkan pria itu." Aaron menatap Sena penuh curiga.


"Tentu saja aku mengingat pria baik hati yang sudah menolongku." Sena semakin melebarkan senyum nya.


"Ck. aku bilang tidak usah senyum-senyum." Aaron menarik Sena hingga membuat wanitanya tertawa.


"Kamu cemburu dengan abangku sendiri." Sena tertawa terbahak-bahak. "Kenapa kamu tidak menemuiku jika kamu tahu aku di rumah sakit juga karena kamu."


"Maaf, sudah membuatmu sakit." Aaron mengelus kepala Sena.


"Ya, dan karena itu aku jadi tahu jika kamu suami pencemburu dan posesif." Sena melirik Aaron.


"Tentu saja, milikku tidak akan aku biarkan di lirik orang lain, hanya aku yang boleh memilikimu."


"Emm.." Sena menyusupkan wajahnya di dada bidang Aaron.


"Apa kita akan seperti ini seharian ini."


"Memangnya kita mau apa?" Sena mendongak.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan, kita pacaran."


"Dih, kayak ABG pacaran."


Aaron melirik wajah Sena yang mengejeknya.


"Pacaran setelah menikah pasti menyenangkan sayang."


"Ayo, hari ini tuan suami akan mengabulkan semua permintaan tuan putri." Aaron tersenyum, tangannya terulur seperti pangeran menyambut tuan putri.


"Baiklah, jangan mengeluh jika tuan putri banyak mau." Dengan senang hati Sena menerima tangan Aaron.


Keduanya akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Jika Aaron sudah mengambil alih perusahaan LWS mungkin sekedar waktu untuk jalan-jalan saja tidak akan ada waktu. Namun Aaron sudah membuat pleaning waktunya untuk bersama sang istri, karena kebahagiaan Sena adalah uang utama, dan itu adalah janji Aaron pada papa mertuanya.


.


.


.


"Pah, apa kita perlu suruh kakak tinggal di sini." Ren menatap Bimo dengan rasa sedih di mana ini adalah hari kedua kakaknya itu menjadi istri pria menyebalkan bagi Ren.


"Kakak mu sudah memiliki tanggung jawab, dimana suaminya tinggal kakakmu harus ikut dengannya."


Bimo menatap langit malam dengan wajah sendu, waktu begitu cepat berlalu, Sena yang dulu selalu dia timang-timang, kini sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri.


Jika dirinya bisa Ia ingin anak-anak tidak akan cepat dewasa, karena semakin mereka dewasa maka waktu untuk menjaga mereka semakin sedikit dimana semakin lama dirinya yang semakin tua dan termakan usia. Tapi akan dia pastikan jika anak-anak akan bahagia dengan pasangannya sebelum dirinya pergi dan tidak bisa menjaga mereka lagi.


'Demi kamu sayang, aku pastikan mereka mendapat kehidupan yang bahagia, dan kita akan sama-sama melihat mereka dari atas sana.' Bimo tersenyum melihat satu bintang yang begitu terang di atas sana.


Kita tidak bisa menentukan kehidupan seseorang seperti apa. Semua orang menginginkan kebahagiaan tanpa adanya kesedihan, tapi garis takdir tidak ada yang tahu. Andai saja garis takdirnya bisa di ubah, Bimo hanya ingin hidup lama dengan sang istri dan membesarkan kedua anak mereka hingga tumbuh dewasa dan menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.


Tapi takdirnya cukup disini, Tuhan lebih sayang dengan istrinya, dan yang pasti dirinya lebih mencintai sang istri.


.

__ADS_1


.


"Ar, kenapa kamu bawa aku kesini?" Sena menatap bangunan mewah dan megah di depan nya, dengan bingung dirinya tidak tahu itu rumah siapa.


"Ayo, nanti kamu juga tahu." Aaron mengandeng tangan Sena untuk masuk ke dalam mansion mewah, kedua kalinya Sena melihat mansion yang begitu Basar.


"Selamat datang tuan dan Nyonya." Mereka di sambut dengan beberapa maid, yang berjejer didepan pintu.


"Silahkan tuan, dan nyonya."


"Kami hanya ingin melihat-lihat saja mbok." Ucap Aaron pada maid atau kepala pelayan Yanga Aaron panggil mbok, karena beliau Ia ambil dari mansion utama.


"Loh, anda." Sena nampak tak asing dengan wanita parau baya di depannya itu.


"Kita ketemu lagi nyonya muda." Mboh dirah tersenyum bahagia, bisa kembali melihat Sena di mansion.


"Bukanya?"


"Saya yang melayani anda di mansion utama."


"Mansion utama?" Tanya Aaron yang tidak tahu jika mereka saling mengenal.


"Nyonya muda pernah di bawa Kakek ke mansion."


"Apa?" Aaron menatap Sena untuk minta penjelasan.


Sena hanya menggeleng, karena dirinya tidak tahu.


"Ah ya sudah itu tidak penting." Aaron Manarik tangan Sena untuk di ajak melihat kamar utama mereka.


"Mbok siapkan makan siang untuk kami." Teriak Aaron ketika menaiki tangga untuk ke lantai dua.


"Baik Den."


"Ar, sebenarnya siapa yang tinggal di mansion utama?" Tanya Sena yang masih bingung, waktu itu ketika membuka mata dirinya sudah berada di mansion mewah dan tidak tahu siapa pemilik mansion itu.


" Mansion utama milik keluarga Lewis, pasti kakek tua Bangka itu yang sudah membuat ulah." Aaron membuka pintu kamar utama.


"Ar..ini?" Sena menatap takjub melihat desain kamar yang begitu besar, bahkan kamar itu lebih besar lima kali lipat dari kamarnya.


"Kamu menyukainya?" Aaron memeluk Sena dari belakang.


"Ini adalah rumah kamu."


"Tapi Ar ini berlebihan."


"Tidak ada yang berlebihan untuk wanita terbaik yang aku miliki." Aaron mencium kening Sena.


"Kamu bisa memilih ingin tinggal di mana, terserah yang penting kamu selalu ada dan berada di sampingku, selalu dan selamanya, karena kamu Biana Sena Bagaskara adalah hidupku dan kebahagiaan ku." Aaron mengecup kedua tangan Sena. "Seluruh hidupku hanya untukmu, aku hanya ingin hidup bahagia dan memiliki keluarga kecil bersama mu. Aku mencintaimu sayang, sangat."


Sena meneteskan air mata, sungguh dirinya tidak menyangka jika kehidupannya akan bahagia seperi ini, menemukan pria yang begitu mencintainya, Sena ingin memiliki suami seperti sang papa, setia sampai maut memisahkan mereka.


"Aku juga sangat mencintaimu Ar, terima kasih sudah meneprjuangkan cinta kita."


Sena memajukan wajahnya, dan meraih bibir suaminya lebih dulu untuk dirinya kecup.


Dengan senang hati Aaron menyambut ciuman sang istri dengan suka cita.


Berbalut cinta dalam kebagian , kini Sena telah menikah pria yang mampu membuatnya jatuh cinta, dirinya hanya meminta kebahagiaan untuk pernikahannya.


.

__ADS_1


.


The End


__ADS_2