
Makanan yang belum Alena makan berhamburan di lantai, para pengunjung yang sedang menikmati makan siang di cafe itu pun mengalihkan pandangan mereka ke asal suara.
Alena menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan ibu mertuanya.
"Kau tidak pantas berada di antara kami, lebih baik kau pergi.!!" Leina menatap tajam Alena.
Siera yang melihat hal itu tersenyum kemenangan dalam hati, tanpa harus bertindak semua akan menjadi seperti yang Ia inginkan.
"Pergi sebelum saya berbuat nekat." Leina menatap Alena penuh kebencian.
Alena menatap ibu mertuanya dengan tersenyum, senyum luka yang dia rasakan. "Maaf Mah, jika Alena mempunyai salah, maaf jika Alena sudah membuat Mama tidak senang dengan keberadaan Alena." Tetesan air mata nya tak bisa lagi Ia bendung.
Dada Leina bergemuruh ada rasa yang mengganjal di hatinya ketika menatap kedua mata Alena yang begitu tulus dengan ucapanya.
"Sudah Tante, biarkan saja dia pergi." Siera bicara dan memegangi lengan Alena, dirinya yang melihat sedikit rasa iba di wajah Leina terhadap Alena segera mendekati dan melancarkan aksinya.
Alena menatap sendu dengan wajah basah air mata, dirinya berbalik dan berjalan keluar dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Leina menatap punggung Alena yang semakin tak terlihat dengan perasaan tak menentu, hatinya merasa sedih namun pikiranya tidak demikian.
"Tante jangan terpengaruh dengan wajah polosnya, aku yakin jika dia memiliki rencana agar Bimo semakin jauh dari jangkauan Tante." Siera bicara dengan nada menyakinkan, dirinya tidak ingin usahanya untuk mewujudkan keinginannya menjadi berantakan.
__ADS_1
Leina hanya diam dan melanjutkan makannya setelah menyuruh pelayan membersihkan kekacauan.
Bimo kembali ke meja dimana dia meninggalkan istrinya dan dirinya tidak melihat jika Alena masih disana.
"Sayang kamu sudah selesai." Leina langsung menyapa Bimo ketika berdiri di sebelahnya.
"Makan dulu Bim, pesanan kamu sudah datang." Siera menunjuk makanan yang sempat Bimo pesan sebelum pergi ketoilet.
"Alena mana Mah?" Tanyanya yang tak melihat istrinya, bahkan sisa makan istrinya sudah tidak ada.
"Dia tadi bertemu dengan temanya, dan ikut dengannya." Ucap Siera. karena Leina hanya diam.
Bimo menatap Siera datar akan butuh penjelasan dengan ucapanya.
"Duduklah nak, makan dulu..kamu tidak perlu memikirkan wanita itu." Leina menarik tangan Bimo untuk duduk kembali.
Bimo yang mendengar ucapan Siera menjadi kesal, siapa yang bertemu dengan Alena hingga membuat dia ikut dengan teman pria nya itu, setahunya Alena tidak memiliki teman seorang pria.
"Maaf.." Siera mengulurkan tangannya dan mengusap sudut bibir Bimo menggunakan tisu.
Bimo tertegun dengan reflek kepalanya mundur kebelakang.
__ADS_1
"Jangan kaku gitu dong Bim." Leina tersenyum senang melihat kejadian yang menurut nya sangat manis.
Bimo hanya diam dan kembali memakan makanannya dan setelah selesai dirinya langsung pergi tanpa mendengar ucapan mamanya maupun panggilan dari Siera.
"Ale.." Bimo menghubungi nomor istrinya tapi tak mendapat jawaban.
Mobilnya bergerak menuju kantor dan Alena pasti sudah berada di kantor mengingat jam kerja sudah mulai sejak tiga puluh menit yang lalu.
Sampai nya di lobby Bimo memberikan kunci mobilnya pada satpam yang berjaga untuk memakirkan mobilnya.
Menaiki lift menuju di mana lantai ruangan nya Bimo langsung menuju ke pantry untuk mencari keberadaan istrinya.
"Alena.." Suara Bimo mengagetkan Gina yang sedang membuatkan minum untuk Daniel dan sindy yang memintanya.
"Pak bos."
"Dimana Alena?" tanya Bimo yang tidak melihat keberadaan istrinya di pantry.
"Alena? tidak ada." Ucap Gina yang juga merasa bingung.
"Si*Al." Bimo mengumpat dan memukul dinding di sampingnya.
__ADS_1
"Ehh..kok ngamuk."