
Aaron membuka pintu dan mendapati Sena sedang berbaring di ranjang, tidur siang.
"Ck, gue mikirin dia sampe gak mood kerja, dianya malah enak-enakan tidur pules." Aaron melepas sepatu dan jas yang Ia kenakan, menggulung kemeja panjangnya sampai ke siku dengan dua kancing atas terbuka, sehingga sedikit memeprlihatkan dadanya yang bidang.
Mendekati Sena dengan duduk di samping ranjang, Aaron mengelus kening Sena.
"Kenapa marah mu lama sekali." Jarinya merapikan anak rambut di kening Sena. "Padahal biasanya akulah yang suka merajuk." Aaron mencium kening Sena.
Akhir-akhir ini Sena memang suka sekali kesal dan marah, tapi dengan Aaron merayunya Sena pasti sudah luluh, dan sekarang Aaron tidak tahu kenapa Sena begitu lama marah padanya.
"Engh.." Sena mengerjapkan matanya ketika merasakan keningnya di elus.
"Ar, kamu sudah pulang?" Sena tersenyum, menyapa Aaron.
Aaron yang melihat senyum Sena ikut tersenyum, "Hm..aku merindukanmu." Ucapnya dengan mengecup sekilas bibir Sena, tapi ketika Aaron ingin melepaskannya justru kepalanya di tarik oleh Sena.
Mendapat keberuntungan, Aaron dengan senang hati menuruti sang istri, keduanya saling membelit lidah dan bertukar saliva.
"Mphh.." Sena meleguh, ketika Aaron menyesap lidahnya kuat, membuat aliran darahnya seperti berhenti seketika.
"Kamu sudah tidak marah." Ucap Aaron setelah melepas cumbuannya, karena keduanya sudah kehabisan napas.
__ADS_1
Sena hanya menggeleng, dadanya naik turun mengatur napas. "Ar.." Sena menatap wajah Aaron penuh minat, bahkan Sena mengigit bibir bawahnya sendiri.
"Jangan di gigit sayang, biarkan aku yang menggigitnya." Aaron kembali memajukan wajahnya, dan meraih bibir candunya itu kembali dengan cumbuan penuh tuntunan.
Bunyi decapan, terdengar jelas di telinga keduanya membuat Aaron dan Sena semakin bersemangat dan terbakar gairah.
"Ar, aku ingin." Ucap Sena dengan senyum malu-malu, dirinya belum pernah meminta lebih dulu pada Aaron.
Aaron melebarkan senyumnya, dirinya merasa senang ketika Sena menginginkannya. "Igive it to you baby." Aaron melepas pakaian yang Ia kenakan, begitupun juga dengan Sena.
"Ar.." Sena mendongak menatap wajah Aaron yang akan mendekatinya. "Aku ingin memimpin."
Aaron merebahkan dirinya dengan kepala setengah bersandar pada bahu ranjang, dan membantu Sena untuk duduk di atas tubuhnya.
"Aku sudah tak tahan sayang." Ucap Aaron dengan tangan yang sudah aktif di atas kedua benda favorit nya, dan bibirnya mengulumnya bergantian.
"Ah..Ar.." Sena mendesahh ketika merasakan geli dan nikmat secara bersamaan.
"Ahh.." Sena kembali mendesahh ketika milik Aaron memasukinya.
"Kamu menyukainya." Aaron tersenyum menyeringai, ketika Sena hanya menggigit bibirnya dan mengangguk.
__ADS_1
"Bergeraklah." Tangan Aaron membantu pinggul Sena bergerak naik turun.
Jika keduanya sedang melakukan aktifitas panas yang menggelora, lain halnya dengan Arin yang baru saja bercerita kepada kakek dan Arthur tentang dirinya yang mengerjai Aaron dengan tespeck.
"Aku yakin sayang, jika menantu kita sedang hamil." Ucap Arin pada Arthur.
Tadi setelah Sena memakan cake, dan tak lama Sena merasakan mual dan muntah, dan suhu tubuhnya pun normal dan biasa saja, apalagi Arin melihat perubahan di tubuh Sena yang semakin berisi.
"Semoga Mama benar, dan kita akan mendapatkan cucu." Ucap Arthur merangkul bahu istrinya.
"Dan sebentar lagi aku akan mendapatkan cicit." Kakek Lewis tersenyum lebar. Usianya yang tak lagi muda hanya mengharapkan kebahagiaan di dalam keluarga besarnya.
"Jika anak mereka kembar laki-laki, maka akan kakek wariskan kekayaan kakek yang ada di LN untuk kedua cicit kakek." Ucap kakek Lewis dengan serius.
"Ck. papa curang, padahal aku yang mengelola di sana tapi malah anak-anak Aaron yang mendapatkannya."
Arthur melirik sinis papanya.
"Ck, kamu sudah tua, kita hanya tinggal menikmati hasilnya, biarkan anak cucu kita yang melanjutkan." Kakek Lewis menyeruput teh hijau kesukaannya.
"Iya juga sih." Arthur melirik istrinya yang hanya nyengir dengan mengacungkan jempolnya.
__ADS_1