
Satu bulan kemudian....
Aaron keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Bibirnya tersenyum melihat pakaian yang yang sudah istrinya siapkan di atas tempat tidur.
Setelah menikah menikah Sena selalu menyiapkan pakaian kerjanya sebelum dia berangkat, bahkan Sena juga membuatnya bekal setiap hari karena dirinya sendiri yang minta, sungguh masakan Sena membuatnya tak bisa berpaling, Aaron bahkan tiga kali sehari memakan masakan Sena terus, kecuali jika ada pertemuan penting bersama klien di luar.
Aaron yang sudah rapi dengan penampilannya, berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Sudah tiga Minggu ini dirinya kembali ke perusahaan LWS, dimana dirinya akan mengemban amanah sebagai cucu pewaris tunggal.
Memang pekerjaannya sebagai pemilik LWS banyak menyita waktu nya dengan sang istri, dan Aaron pun tak kehabisan akal untuk membuat sang istri selalu dekat dan terlihat dari jangkauan matanya Aaron meminta Sena untuk menjadi sekretaris pribadinya.
Meskipun Aaron sudah memiliki sekertaris sendiri dan asisten pribadi, dengan kekuasaan yang dia miliki Aaron membawa Sena bersamanya.
Dasar laron posesif...
"Sayang.." Aaron menuruni anak tangga terakhir dan melihat sang istri sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Ar.." Sena tersenyum menoleh ke arah sang suami.
Kedua orang yang sudah duduk hanya diam saja, kecuali Ren yang memutar kedua matanya malas, dirinya malas melihat keromantisan sepasang suami istri itu.
"Awas kamu nanti kualat." Aaron menepuk pundak Ren, ketika melintasinya dan menghampiri sang istri untuk memberikan dasi yang belum dia pakai.
"Cih, bucin aja bangga." Ren mendengus dan mencibir pasangan bucin itu.
"Begini kalau belum pernah kena karma, liat aja gue sumpahin lu bakalan lebih bucin dari gue." Aaron tertawa.
"Ar.." Sena menggeleng, suami dan adiknya itu suka sekali adu cekcok dengan hal yang tidak penting.
Aaron tersenyum menatap wajah Sena yang berdiri di depannya, dengan memegangi pinggang Sena agar tidak jatuh, karena tinggi Sena yang sebatas dadanya, jadi Sena perlu berjinjit untuk memakai kan dasi.
"Sudah.." Sena tersenyum melihat hasilnya yang sudah rapi.
"Terima kasih sayang.." Aaron mengecup kening Sena.
"Teross...teross... pagi-pagi udah kayak nonton dracin." Ren menatap kakak iparnya sengit.
__ADS_1
"Pah, apa Ren anak pungut, kenapa sifatnya jauh sekali dengan Sena?" Aaron bertanya pada Bimo, hanya untuk meledek dan membuat adik iparnya itu bertambah kesal.
"Sialan kamu kak." Ren meninju bahu Aaron, dan Aaron hanya tertawa.
"Dia seperti itu, tapi lihat saja jika sudah bertemu pawangnya, kamu saja bakalan kalah." Bimo juga ikut meledek putranya, dimana membuat Ren bertambah kesal.
"Kalau begini caranya mending aku tinggal di apartemen lah, sumpah." Ren menatap kedua orang di depannya sinis.
"Gitu aja ngambek dasar." Aaron masih tertawa.
Begitulah Susana pagi di meja makan, suasana yang biasa hangat kini bertambah ramai semenjak kedatangan anggota baru yaitu Aaron.
Ren dan Aaron yang selalu bercekcok dan saling meledek, membuat meja makan itu ramai.
Bimo sangat senang ketika sang putri datang setelah satu Minggu menikah, dan memutuskan untuk tinggal bersamanya, dengan catatan dalam satu bulan Sena akan tinggal di mansion utama Lewis satu Minggu.
Aaron yang sebelumnya merasa kikuk dan sungkan kepada Bimo, kini dirinya bisa membuat papa mertua itu bersikap hangat kepadanya, dan itu membuat Aaron menjadi nyaman tinggal bersama mereka.
Dan dirinya tidak perlu segan dan malu-malu mengumbar kemesraan nya bersama sang istri, hanya saja mulut lemes Ren yang suka menyebalkan.
Sena tidak keberatan tentang hal itu, dirinya juga bersyukur dan beruntung memiliki mertua yang sangat perhatian dan menyayanginya.
Setelah selesai dengan sarapan mereka, masing-masing memasuki mobil yang akan membawa mereka ke kantor.
"Pah kami berangkat." Sena mencium tangan Bimo, dan kedua pipi sang papa.
"Hati-hati sayang." Bimo mencium kening Sena, itu adalah rutinitas mereka ketika ingin pergi, dan Aaron hanya bisa diam saja tanpa bisa melarang sang istri disentuh seorang pria, karena pria itu adalah ayahnya sendiri.
"Hati-hati Ren jangan ngebut."
"Beres kak." Ren ingin memeluk Sena dan mencium kepala sang kakak, tapi dengan cepat Sena di tarik oleh Aaron.
"Terkecuali kamu." Ucap Aaron menatap tajam Ren yang suka membuatnya kesal karena kejailannya.
"Ish..posesif kok kebangetan." Ren hanya geleng kepala dan masuk ke dalam mobil.
"Kalian ini bikin ribut terus kalau ada." Bimo hanya geleng kepala.
__ADS_1
"Hati-hati Pah." Aaron mencium tangan Bimo dan membukakan pintu mobil untuk papa mertuanya.
"Terima kasih Ar, kalian juga hati-hati." Bimo melambaikan tangan pada Sena, dan Sena membalasnya dengan hal yang sama.
Mobil Ren lebih dulu pergi, dan di ikuti Aaron dari belakang, arah kantor mereka memang berbeda arah.
"Sayang, apa hari ada metting penting?" Tanya Aaron dengan mata fokus kedepan, dimana pagi jalanan lumayan lenggang.
Sena melihat daftar kegiatan Aaron hari ini, "Hanya ada dua pertemuan di luar, dengan klien dari Amerika jam sepuluh pagi, dan klien dari pengembang proyek di kota J jam tiga sore." Sena membacakan agenda suaminya hati ini.
"Oke."
Sena memang hanya bertugas untuk mengatur jadwal pertemuan ataupun metting dengan klien nya, dan memeriksa berkas yang masuk keruangan nya dari sekertaris nya sebelum Aaron menerima harus Sena lebih dulu yang menerima.
Bimo juga tidak keberatan jika sang putri ikut bekerja dengan Aaron jika Sena sendiri mau dan tidak membuatnya tertekan, dan Sena sangat senang jika dirinya memiliki kesibukan. Karena untuk kembali ke Sukabumi baik Aaron ataupun Bimo tidak mengijinkan nya.
Pabrik di Sukabumi sudah Bimo percayakan pada Yuda dan putranya, Sena dan Aaron boleh berkunjung tanpa harus bekerja di sana, dan bagian staf yang Sena tempati kini di gantikan oleh Dadang, dan Asep menjadi anak buah Dadang.
Bukan tanpa alasan Sena menempatkan Dadang menggantikan tempatnya, Dadang termasuk memiliki wawasan dan kepintaran, tapi karena Ekonomi Dadang hanya lulusan sekolah menengah atas, dan tidak sampai ke perguruan tinggi.
Aaron memakirkan mobilnya di basemen, setelah hampir tiga puluh menit berkendara.
"Sayang.." Aaron mengulurkan tangannya, pada Sena untuk membantunya keluar dari mobil, semua karyawan di gedung LWS sudah tahu jika CEO mereka membawa sang istri bekerja untuk menjadi sekretaris pribadi.
Dimana membaut semua karyawan wanita iri dan sangat mengagumi sosok pengantin baru itu.
.
.
.
Minalaizin walfaizin..mohon maaf lahir batin teman online Mak otor semua..🙏🙏
Maaf jika Mak otor hilaf dalam berkata ataupun tulisan...🙏🙏
Apakah masih ada yang mau baca kisah Birendra mendapatkan jodoh, jika Mak otor sambung si sini? Karena mungkin kalian ingin melihat kedua anak kembar Mas Bimo bahagia??
__ADS_1