
Alexa memasuki ruangan kerjanya dengan senyum, apalagi melihat wajah Gesya melihatnya seperti ingin bertanya.
"Bumil, Are you oke?" Gesya lebih dulu bertanya, dan Mita ikut menoleh.
"Oke..oke.." Jawab Alexa masih dengan senyumnya, entah apa yang membuatnya begitu ceria bumil pagi ini.
"Apa kamu menang lotre pagi ini?" Tanya Mita berdiri dan menghampiri meja kerja Alexa yang berada di sudut pojok.
"No," Alexa meggeleng dengan melirik Gesya.
Sebelum masuk ruang kerjanya, Alexa mampir dulu ke ruang kerja Diaz, karena sejak kemarin Alexa di hantui rasa penasaran, bumil cantik itu mendatangi Diaz langsung dan bertanya perihal yang dia lihat kemarin di Mall.
"Kenapa melirikku seperti itu?" Gesya yang mendapat lirikan dari sahabatnya, memincingkan matanya waspada.
"Tidak, kamu nya saja yang perasa." Jawab Alexa tersenyum tipis.
"Sumpah Lex, wajah kamu membuatku penasaran." Mita menatap lekat wajah Alexa mencari sesuatu yang tersembunyi dibalik wajah cantik bumil itu.
"Ish, apaan sih mbak." Alexa memalingkan wajahnya.
Tadi kata Diaz jangan dulu memberi tahu teman-temannya, takut jika Gesya marah dan merasa malu. Karena mereka memiliki hubungan backstreet di kantor dan itupun atas permintaan Gesya yang tidak ingin menjadi bualan para karyawan di kantor.
Gesya yang orangnya perasa, membuat Diaz menyetujui toh di kantor juga tidak dilarang sesama pegawai menjalin hubungan.
Diaz dan Gesya dekat, karena Diaz sering melihat Gesya membeli makanan di warung yang sama dengan Diaz, dan karena sering kepergok bertemu mereka menjadi dekat. Dan perlahan Diaz membuka hatinya untuk wanita lain setelah Alexa.
"Kalau mbak Mita masih menatapku seperti itu, nanti siang tidak akan aku telaktir makan di kantin." Omel Alexa menjadi mood jutek, karena kesal ditatap seperti tersangka oleh Mita.
Gesya yang mendengarnya tertawa, sedangkan Mita langsung menegakkan tubuhnya menjaga jarak.
"Duh, bumil kalau lagi badmood galak." Mita pura-pura takut dan kembali ke kursinya lagi. Sedangkan Gesya masih dengan sisa tawanya.
Mereka kembali bekerja setelah acara mengoceh yang tidak penting, hari ini pekerjaan cukup padat karena awal Minggu setelah Weekand.
Ting
Ponsel Alexa berbunyi, pesan masuk.
__ADS_1
"Sayang, aku ada metting di luar, jangan lupa makan.. Love you."
Pesan dari suaminya membuat Alexa tersenyum.
"Ehem, mood galak udah ganti mood mesem." Sindir Mita, ibu dua anak itu suka sekali menggoda mood ibu hamil yang sensian.
"Mbak, awas gak dapet jatah makan siang enak nanti." Sindir Gesya membuat Mita mencebikkan bibirnya.
Alexa hanya tertawa.
Waktu yang di tunggu semua karyawan tiba, dimana saatnya meninggalkan pekerjaan sejenak, dan mengisi daya energi ke dalam tubuh.
Semua membubarkan diri di jam dua belas kurang lima belas menit untuk beristirahat. Begitupun ketiga Wanita yang berbeda generasi. Ketiganya masuk ke dalam lift untuk ke lantai dua kantin kantor.
Tidak hanya ada tiga wanita, tapi tiga pria yang memiliki status berbeda juga ikut makan siang di kantin, karena memang jarang makan bersama dikantin dengan adanya Alexa, apalagi jika ada Alexa mereka mendapat kehidupan menu makanan spesial sekelas dengan para petinggi kantor. Karena di kantin ada banyak menyediakan beberapa menu khusus untuk petinggi, dan mereka yang sebagai staf ke bawah tidak rela satu bulan uang makan mereka membengkak, jadi mereka memilih makan yang sesuai budget. Karena setiap bulan gaji mereka di potong untuk uang makan.
Jika tidak makan di kantin, makan uang makan mereka akan utuh tanpa potongan. Begitulah peraturan dikantor Bagaskara.
"Disana, kalian duduk saja aku yang memesan. Ucap Mita menyuruh Alexa duduk di bangku yang kosong kebetulan masih ada dua bangku berjejer jadi cukup untuk mereka semua.
"Pokoknya, beres ada Nyonya Bagaskara." Bisik Mita cekikikan, meskipun mereka semua mendengarnya.
Alexa dan Gesya hanya geleng kepala.
Alexa mengedarkan pandangannya, sebenarnya sejak dirinya masuk kantin telinganya sudah risih dengan cibiran kasak kusuk para penggosip. Hanya saja Alexa memilih mengabaikannya.
"Kak Diaz." Alexa memanggil Diaz yang baru saja masuk kantin bersama rekannya, dan Diaz pun menoleh lalu tersenyum menghampiri Alexa, lebih tepatnya menghampiri kekasihnya Gesya, namun hanya Gesya dan Alexa yang tahu.
Gesya melirik Alexa yang terseyum dirinya merasa khawatir, namun tetap menunjukan wajah santainya.
"Hay, sudah lama." Zian langsung mengambil duduk di samping Gesya, pria itu tersenyum pada Gesya.
"Tanyanya sama siapa nih." Sindir Alexa membuat Gesya menoleh. "Soalnya bukan hanya aku yang disini, tar kalau aku yang jawab taunya kak Diaz tanya sama Gesya." Alexa masih gencar membuat Gesya duduk gelisah tak nyaman, apalagi mendengar ucapan Alexa seperti menyindirnya.
"Siapa saja, yang mau jawab." Zian memilih tengahnya saja.
"Oh," Alexa hanya membulatkan bibir nya.
__ADS_1
Gesya duduk dengan diam, sedangkan Diaz sejak tadi memeperhatikan kekasihnya dari samping. Tangan Diaz yang berada di bawah meja terulur untuk menggenggam tangan Gesya, membuat Gesya kaget dan menoleh ke arah Diaz.
"Jangan melamun di sini banyak penghuninya." Ucap Diaz sambil tersenyum.
"Penghuni yang terlihat." Sambar Mita yang baru tiba, Wanita itu langsung duduk di samping Alexa.
"Parah mereka, kuping gue sampe panas dengerin ocehan mereka yang gak bermutu." Mita mengegrutu kesal dan marah sendiri.
Ketika memesan makanan, para wanita bergosip membicarakan Alexa yang sudah terlihat berbeda dua, apalagi banyak yang belum tahu jika Alexa sudah lama menikah dengan bos mereka.
"Dih, emang kenyataanya seperti itu, lu aja yang buta masih mau menutupi aib nya." Tanpa di duga di belakang Mita dan Alexa duduk, berdiri tiga wanita yang sejak tadi menyindir Alexa di dekat Mita dan membuat Mita panas.
"Eh, kalau punya mulut dijaga ya, Lo gak tau yang sebenarnya, urus aja diri lo sendiri." Mita yang sudah tersulut emosi sejak tadi, langsung berdiri ngegas di depan tiga wanita yang dari dulu suka mengkritik orang lain dan mereka terkenal julid lambe lumrah.
"Dih, kenapa Lo yang sewot di bayar berapa sama tu jal*ng yang udah melendung dengan status ngak jelas. Jangan-jangan dia masih disini karena_" Wanita yang di kenal dengan nama Vita itu melirik Alexa sinis dari atas sampai bawah. "Tubuhnya sebagai jaminan, makanya dia hamil." Lanjutnya dengan tertawa sinis, diikuti ketika rekannya yang menatap Alexa remeh.
"Lo ya..!!" Mita yang geram mengangkat tangan untuk menampar Vita, namun di cegah oleh Alexa. Semua orang di kantin menatap mereka yang sedang bertengkar, ada pula yang memvidiokan untuk di bagikan kegrub.
"Sudah mbak, jangan diladeni mereka," Alexa menenangkan Mita meskipun hatinya juga sesak, mendapat tudingan seperti itu, namun dirinya tetap tenang tidak ingin membuat malu nama suaminya.
"Udah mbak." Gesya ikut berdiri di samping Mita.
"Gak bisa dibiarin mereka tidak tahu siapa Alexa.." Mita menatap tajam Vita.
"Siapa? jal*ng?" Vita melirik Alexa remeh.
"Gak level berada di kantor Bagaskara." Vita mendorong bahu Alexa membuat Alexa terduduk di kursi sedikit keras, karena tidak seimbang.
"Auuwss." Alexa merasakan perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Lexa..!" Diaz menghampiri Alexa, sejak tadi dia diam karena malas bertengkar dengan wanita, tapi mereka sudah keterlauan.
"Kalian, jangan harap bisa mendapatkan ampunan, tunggu apa yang akan kalian dapatkan." Diaz langsung menggendong Alexa keluar kantin, karena Alexa meringis kesakitan memegangi perutnya dan Diaz akan membawa Alexa kerumah sakit diikuti Gesya yang juga panik.
"Kalian akan menyesal." Mita menujuk wajah mereka dengan penuh kemarahan, lalu pergi mengikuti Diaz yang lebih dulu pergi, tidak jadi makan enak mereka malah cemas dengan keadaan Alexa.
"Cih, kalianlah yang akan rugi." Gumam Vita menatap kepergian Mita dengan tersenyum licik.
__ADS_1