Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Setelah kondisinya membaik dan sembuh Sena diperbolehkan pulang saat itu juga, hanya sehari dirinya berada di rumah sakit.


Sejak kecil Sena memang seperti itu, dimana ketika sakit dirinya hanya butuh waktu sehari berada di rumah sakit


"Jangan main air hujan lagi, kalau nyatanya kamu masih bisa sakit." Ucap Aldrick ketika akan pamit pulang. Dirinya yang mengantarkan Sena sampai rumah, karena Bimo dan Ren ada undangan makan malam penting dengan seseorang.


Sena hanya mengangguk Dan tersenyum tanpa menjawab ucapan Aldrick.


"Ya sudah aku pulang dulu," Aldrick menatap Sena dengan senyum. "Jaga diri baik-baik ya." Katanya lagi dengan mengusap kepala Sena.


"Hati-hati bang." Sena pun melambaikan tangannya ketika Aldrick ingin masuk ke dalam mobil.


Pria berumur 29tahun itu tersenyum.


Sena hanya hanya menghela napas, semoga Aldrick tidak akan berubah.


Melihat kendaraan Aldrick sudah menghilang dari pintu gerbang, Sena ingin masuk ke dalam dan beristirahat tapi belum sampai masuk dirinya mendengar suara mobil yang kembali masuk ke perkarangan rumahnya.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam yang mengkilap, bahkan lebih lebih mewah dari milik Aldrick.


"Siapa?" Sena pun menunggu si pemilik mobil Bugatti Chiron itu, dan tak lama pria itu keluar dari mobil membuatnya menggangga.


"Ar.." Suara Sena tercekat, kenapa pria itu datang lagi kerumahnya.


"Kamu sudah lebih baik." Aaron yang baru keluar dari dalam mobil segera menghampiri Sena.


"Kam_"


"Syukurlah kamu sudah sembuh." Pria itu langsung menarik Sena kedalam pelukannya. "Aku tadi kerumah sakit, aku pikir kamu masih di rawat dan ternyata kamu sudah pulang." Aaron melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sena dengan senyum.

__ADS_1


Dirinya merasa lega karena Sena sudah baik-baik saja, bahkan Aaron tidak mengikuti acara makan malam yang kakeknya buat, untuk menyambut calon mertuanya. Tapi karena Aaron malas dirinya lebih memilih menyusul Sena kerumah sakit.


"Ya aku sudah baik-baik saj, jadi pulanglah." Sena enggan menatap wajah Aaron.


Deg


Aaron menatap Sena dengan tajam. " Memang nya kenapa? Apa kamu takut kalau kekasihmu datang dan cemburu." Ucap Aaron dengan menggebu.


Sena langsung menatap wajah Arron dimana pria itu menatapnya tajam. "Bukan urusanmu, lagian kamu tidak bukan siapa-siapa." Sena ingin berbalik, dengan cepat Aaron mencegahnya.


"Kamu menyukai pria kaya kan, maka akan aku berikan apapun yang kamu mau, aku bahkan rela menjilat ludahku sendiri agar bisa membuat mu melirik ku." Aaron menarik Sena mendekati mobilnya.


"Lihatlah, aku bahkan memakai kembali mobil mewahku hanya untuk menarik perhatianmu, agar kamu memilihku di bandingkan pria itu." Ucap Aaron dengan wajah bahagia, bahagia dimana dirinya bisa menyaingi pacar Sena yang kaya itu.


"Jadi kamu pikir aku cewek matre." Sena menatap tajam Aaron.


"Bu_bukan begitu, bukankah kamu menolak ku karena aku hanya pria miskin. Dan sekarang aku sudah kaya dan kamu pasti akan meninggalkan pacarmu itu." Lagi-lagi ucapan Aaron membuat Sena meradang.


Bukan elusan, tapi sebuah tamparan mendarat di pipi Aaron.


"Dengar Ar, kamu salah menilai ku." Sena menunjuk Aaron yang sedang memegangi pipinya. "Jika kamu pikir aku wanita matre dan hanya butuh kekayaan kamu salah, mulai sekarang aku peringatkan jangan lagi muncul di hadapanku dan memamerkan kekayaan mu, yang aku tidak tahu kamu itu siapa? yang jelas aku tidak akan menerima kamu karena aku sudah di jodohkan." Setelah mengatakan itu, Sena pergi dari hadapan Aaron, dimana pria itu yang masih diam dengan syok.


"Jodohkan." Ucapnya dengan kembali sadar, dimana Sena sudah tak ada di depannya.


"Sen..!! Sena..!!" Buka dulu Sen, kamu harus jelasin maksud kamu apa? Sena..!!" Aaron menggedor pintu dengan terus memanggil Sena, dirinya tidak akan biarkan itu terjadi.


"Sena aku, butuh penjelasan kamu Sen..!!"


Sena yang berdiri di balik pintu hanya diam, dirinya tidak ingin melihat Aaron yang terus berusaha mengejar dan mendapatkan nya. Tanpa kekayaan yang Aaron miliki dengan senang hati Sena akan menerima pria itu, tapi sekarang dirinya sudah tidak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan papanya yang sudah menjodohkan dirinya dengan pria pilihan.

__ADS_1


.


.


.


Di tempat lain, tiga orang berbeda generasi sedang melakukan makan malam, dimana yang awalnya kakek Lewis akan memperkenalkan cucunya, tapi cucu nakalnya itu malah pergi tidak tahu kemana.


Dan kini mereka tertawa melihat cuplikan Vidio yang dikirim oleh Diman di kediaman Bimo, dimana Aaron sedang menggedor-gedor pintu, pria itu terlihat frustasi, karena di Vidio itu terdengar jika Sena mengatakan kalau dirinya sudah di jodohkan.


"Putri anda memang wanita hebat tuan, bisa membuat Ar, yang tidak pernah dekat dengan wanita kini pria tengil itu sanggup melakukan apapun untuk merebut hati putri anda, dan lihatlah kelakuan nya sekarang. Tidak mau menghadiri acara ini dan malah pergi kerumah anda, yang jelas-jelas anda sedang disini." Ucap Tuan Lewis dengan sisa tawanya. Dimana melihat Aaron yang seperti kebakaran jenggot mendengar jika Sena sudah di jodohkan.


"Saya juga salut dengan cucu anda, sepertinya dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan Sena." Bimo tersenyum, kali ini dirinya bertambah yakin jika pilihanya sudah tepat, untuk menjodohkan Sena dengan Aaron Ryan Lewis.


Bahkan Sena sendiri sepertinya sudah menaruh hati pada pria itu.


"Kalau begitu bagaimana jika pernikahan mereka di percepat, Minggu ini." Ucap kakek Lewis, yang memang sudah tidak sabar, apalagi anak dan menantunya lusa sudah ada di Jakarta.


"Apa tidak apa-apa Tuan, kedua orang tua Ar_"


"Mereka lusa sudah tiba, karena tidak sabar harus menunggu lama, dan mereka sangat bahagia ketika Ar akan menikah." Potong kakek Lewis, memang Arthur dan Arin sudah merestui hubungan mereka, semenjak kakek Lewis mengirimkan foto wanita yang Aaron kejar-kejar. Dan mereka langsung menyukai Sena.


"Baiklah kalau begitu, semakin cepat semakin baik." Ucap Bimo yang memang sudah waktunya melepaskan putri kesayangannya kepada pria yang akan menggantikannya untuk menjaga putrinya.


"Semua sudah di persiapkan, dan tinggal membawa kedua pengantin itu ke acara, mungkin yang akan sulit membawa cucu tengil itu."


Ren pun tersenyum, dirinya juga bahagia jika kakaknya akan segera menikah, meskipun sering bertengkar tapi Ren menyayangi Sena sepenuh hati.


Dan kali ini dirinya juga setuju dengan pilihan papanya, selain memang keduanya saling mencintai. Tapi Ren juga merasa lega dimana Aldrick yang tidak akan bisa mengharapkan Sena lagi.

__ADS_1


Ren sebagai seorang pria pun tahu jika Aldrick juga menaruh hati pada kakaknya, apalagi pria itu sempat mengutarakan perasaannya, Ren hanya khawatir jika Aldrick akan terus mendekati Sena, karena kalanya itu belum juga memiliki pendamping. Dan sekarang Ren akan pastikan jika Aldrick tidak akan bisa mendekati Sena, melihat pawangnya yang posesif seperti Aaron.


__ADS_2