
Bukan menjadi lusa seperti apa yang sudah Bimo katakan kepada Daniel.
Tapi pagi ini dirinya di temani Yuda akan berangkat ke Sukabumi untuk menemui istrinya yang di yakini berada di sana.
Bimo yang awalnya tidak ingin menunda keberangkatan ke Sukabumi esok pagi, dan ingin malam itu juga membuat Yuda yang memberi informasi menjadi kesal sendiri. Dirinya harus berdebat dulu untuk menyadarkan sahabatnya itu jika ke Sukabumi butuh waktu sehari untuk sampai disana.
Dan karena ancaman Yuda yang tidak ingin memberi tahu di mana alamat Alena berada jika Bimo bersikeras akan berangkat malam itu. Dan akhirnya Bimo pun menurut.
Dan kini keduanya berada di dalam mobil untuk menuju ke Sukabumi.
"Bini lu kaburnya cerdas bro." Ucap Yuda dengan tawanya, sambil fokus mengemudi. Mereka tidak menggunakan supir melainkan Yuda yang menjadi supirnya.
Bimo hanya diam dengan pandangan menatap pemandangan luar jendela.
"Dulu lu aja mau nikah bikin gue gak tidur semalaman, dan sekarang bini lu hamil gue juga yang harus temenin lu seharian jadi supir."
Bimo memutar bola matanya malas.
"Kalo bisa gue juga besok nemenin bini lu lahiran.
__ADS_1
Bugh
Satu tinjuan keras mendarat di lengan Yuda. "Ngomong lagi gue turunin lu disini." Bimo menatap Yuda tajam.
Yuda mencebik. "Gue yang nyupir, yang ada lu yang gue turunin."
"Ck. lu udah kayak Enak-emak tau gak Yud." Bimo berdecak kesal.
Yuda hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
Mereka sudah separuh perjalanan, berhenti hanya untuk makan dan mengisi bahan bakar atau sekedar mampir di rest area untuk istirahat sejenak.
.
.
"Mungkin pemiliknya sudah tidak sanggup mengelolanya, karena beliau sudah lumayan tua." Ucap Weni.
"Memang nya tidak ada yang meneruskan usaha nya, anaknya mungkin." Tanya Alena.
__ADS_1
Weni hanya mengangkat kedua bahunya. "Denger-denger mereka tidak punya keturunan, dan akan kembali ke negara asal mereka, mungkin setelah selesai menjual pabrik itu." Terang Weni.
"Kalau pabriknya tutup, kedai ibu sepi dong kebanyakan kan pelanggan ibu dari keryawan sana." Ucap Alena sambil menyesap jus mangga nya.
"Rezeki tidak ada yang tahu, siapa tahu pabrik itu dijual dan pembelinya akan menjadikan pabrik itu lebih besar dan maju, pastinya kedai ibu semakin laku."
Alena hanya manggut-manggut. "Semoga ya Bu, biar kedai ibu selalu buka dan selalu ramai, jadi Lena masih bisa bantu ibu terus." Alena tersenyum.
"Meskipun sepi, kamu tetap bantu ibu ini semua kan karena kamu kedai ibu semakin ramai semenjak kamu datang kesini." Weni mengelus kepala Alena, dirinya menganggap Alena sudah seperti putrinya, karena Weni hidup seorang diri tanpa anak dan suami setelah mereka meninggal.
"Alena bersyukur di pertemukan dengan ibu, Alena tidak tahu nasib Alena seperti apa jika tidak bertemu ibu." Dirinya mengingat ketika di terminal bus seorang diri di malam hari.
"Takdir sudah menggariskan hidup kita nak.. ibu juga senang bertemu kamu."
Weni juga senang bertemu wanita seperti Alena, meskipun sedang hamil tapi semangat kuat. Alena sudah membantunya untuk membuat kedai nya ramai oleh masakan yang Alena buat, dan terbukti kedai itu semakin ramai karena hampir semua karyawan pabrik itu makan di kedai nya, dan itu semua berkat masakan Alena.
"Ibu, Aku mau buat masakan yang belum pernah aku buat boleh." Tanya Alena.
"Tentu saja, apapun itu kamu boleh melakukanya." Weni berkata jujur.
__ADS_1
"Aku hanya merindukan papa merak." Alena mengelus perut buncitnya. "Dan aku ingin masak makanan kesukaan papa mereka, yang belum pernah aku baut disini." Ucapnya dengan senyum lebar.
"Lakukan sayang, asalkan membuatmu bahagia." Weni kembali mengulas senyum, baginya Alena senang adalah sesuatu yang membuatnya juga senang. Meskipun kadang sempat terpikirkan jika Alena kembali pada suaminya dirinya akan kembali hidup sendiri seperti sebelumnya.