
Alena berada di taman belakang dengan duduk santai di dekat kolam renang, dirinya menyibukkan diri dengan membaca novel ataupun membaca majalah.
Setelah adik dan suaminya keluar dari rumah untuk melakukan aktifitasnya masing-masing dirinya merasa kesepian, jika dulu Alena akan ikut pergi ke kantor dan bekerja, dan ketika di Sukabumi pun dirinya juga memiliki kesibukan membantu Weni di kedai jadi dirinya tidak merasakan kesepian seperti sekarang ini.
Karena fokus dengan kegiatan yang Ia lakukan Alena tidak menyadari jika ada tamu yang datang kerumahnya.
"Alena...!!" Panggil seseorang dari ambang pintu penghubung ruang tengah ke taman.
Alena yang di panggil pun menoleh, dirinya terkejut ketika melihat Mama mertuanya berdiri di belakangnya.
"Mama.."Ucapnya lirih dan langsung berdiri.
Leina berjalan lebih cepat untuk menghampiri Alena yang diam terpaku nampak terkejut.
"Alena..." Leina langsung memeluk Alena dengan terisak, dirinya tidak menyangka jika Alena benar telah kembali setelah di beri tahu Rendy, dan Leina langsung datang kerumah Bimo di antar langsung oleh Rendy.
Alena hanya diam mematung dirinya masih terkejut melihat kedatangan Leina di tambah mertuanya itu memeluknya erat dan menangis terisak.
"Maafin Mama sayang, mama banyak salah sama kamu, Mama yang egois menginginkan kehendak mama sendiri tanpa mengerti perasaan kalian.. Mama minta maaf Lena, Mama minta maaf." Leina menangis tergugu, suara serak dan begitu memilukan.
"Mah..." Cicit Alena lirih.
Rendy hanya memandang kedua wanita yang menjadi istri dan menantunya itu, dirinya juga merasa bahagia mendengar jika putranya sudah menemukan Alena yang pergi selama delapan bulan, bahkan menantunya itu pulang dengan penampilan lebih baik apalagi melihat perut buncit Alena yang sudah jelas akan memberikan mereka cucu.
Leina melonggarkan pelukannya wajahnya penuh dengan air mata. "Maafin Mamat ya, selama kamu pergi hidup Mama tidak bahagia seperti kemauan Mama, melainkan hanya penyesalan dan rasa bersalah yang selalu hadir menghantui Mama." Leina menangkup wajah Alena. "Percayalah Mama benar-benar minta maaf." Leina mencium kening Alena menatap Alena dengan perasaan sangat bersalah.
Alena hanya mengangguk, sejak tadi air matanya juga sudah menetes. "Sebelum Mama minta maaf, Alena sudah maafin Mama, Alena juga minta maaf jika banyak salah sama Mama." Alena mencium tangan Leina. "Berikan restu Mama untuk pernikahan kami." Ucap Alena ketika untuk pertama kali mencium tangan Leina ibu mertuanya.
Leina semakin menangis tergugu, tangannya mengelus kepala Alena yang berbalut hijab. "Mama merestui kalian nak, semoga kalian bahagia hingga maut memisahkan kalian."
__ADS_1
Alena tersenyum setelah mendapat restu dari ibu mertuanya. "Terima kasih Mah."
"Sama-sama sayang, ternyata benar kata Bimo, bukan paras mu saja yang cantik, tapi hati kamu lebih cantik sayang..maaf Mama yang tidak bisa melihatmu dulu." Tangan Leina menyentuh wajah Alena.
Rendy menghapus air matanya yang hampir jatuh di sudut mata, berjalan mendekati kedua wanita yang sedang saling meminta maaf. "Sepertinya menantu papa pulang membawa kabar bahagia."
Alena menyalami Rendy ketika papa mertuanya itu sudah berada di hadapannya, dan Rendy pun mengelus kepala Alena.
"Kabar apa pah?" Tanya Leina yang sejak tadi belum menyadari jika perut Alena sudah besar, karena fokusnya hanya meminta maaf, seperti nya dia juga lupa terakhir kali dengan ucapan Bimo di restoran itu.
Alena tersenyum lalu mengelus perut nya. "Iya pah, Lena sedang mengandung anak Mas Bimo." Ucapnya dengan senyum yang begitu bahagia, apalagi ibu mertuanya sudah menerima kehadirannya.
Leina menatap perut Alena yang ternyata sudah besar.
"Ya Tuhan...kamu hamil nak." Leina semakin terharu matanya kembali berkaca-kaca.
"Sayang, selamat ya.. Mama sungguh bahagia." Leina mencium wajah Alena bergantian.
"Mah, sudah kasian menantu Mama di unyel-unyel terus." Rendy memperingati, karena sejak tadi Leina selalu antusias memperlakukan Alena.
"Maaf sayang, Mama hanya merasa senang dan sangat bahagia."
"Iya mah, Lena juga senang jika papa dan Mama senang."
"Ayo masuk, kita bicara di dalam saja." Ajak Rendy.
Ketiganya berjalan masuk kerumah, Leina yang selalu merangkul Alena dan mengelus perut Alena dengan bertanya perkembangan bayinya. Rendy hanya mengekori keduanya dari belakang merasa lega dan bahagia istri dan menantunya sudah akur menerima satu sama lain.
"Apa kembar?"
__ADS_1
Belum hilang rasa bahagia mereka kini keduanya tambah terkejut karena Alena memberi tahu jika bayi nya kembar.
"Iya mah, mereka sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan." Ucap Alena lagi, membuat Leina menutup mulutnya menggunakan tangannya karena terkejut dan bahagia tak terkira.
"Pah, Mama menyesal telah menyia-nyiakan mereka, Mama menyesal pah." Leina malah menangis di pelukan Rendy.
"Sudah mah, yang terpenting mereka sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja, tugas Mama hanya sayangi mereka seperti anak Mama sendiri." Rendy mengelus punggung istrinya.
"Lena, Mama tidak tahu harus berkata apa, Mama benar-benar minta maaf sayang, Mama menyesal nak." Leina memeluk Alena kembali yang duduk disebelahnya.
"Iya Mah, Mama sudah Leina maafkan..sudah Mama jangan minta maaf terus Alena jadi merasa bersalah." Alena menatap Leina sendu.
Leina tertawa. "Ha..ha..baiklah sekarang kita ibu dan anak, tidak ada orang lain di keluarga kita oke."
Alena mengangguk dan tersenyum.
Bahagia itu sederhana ketika kita bisa saling memaafkan, bukan hanya kepada orang yang mempunyai kesalahan saja melainkan juga meminta maaf untuk diri kita sendiri yang juga sudah pernah berbuat salah meskipun tidak di sengaja.
.
.
Marhaban Ya Ramadhan...🙏🙏🙏
Mak otor mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yang akan menjalankanya, Semoga kita semua selalu di beri kesehatan jasmani dan rohani..
Maafkan Mak otor jika banyak kata atau lisan yang salah, karena Mak otor hanya manusia biasa yang pasti banyak salah..dan Mak otor minta maaf untuk semua,, 🙏🙏
__ADS_1