
Suasana dalam ruang mitting nampak dengan wajah bahagia menyambut pemimpin baru perusahaan yang lebih muda, dan mempunyai wawasan serta ide-ide cemerlang. Bimo Bagaskara hari ini resmi menggantikan ayahnya Rendy Bagaskara sebagai CEO utama perusahaan. Menduduki jabatan paling penting di perusahaan lantas tidak membaut seorang Bimo harus bertompang tangan. Justru kehidupan barunya dalam dunia bisnis baru saja di mulai.
Para direksi dan semua jajaran staf bagian memberi selamat kepada pimpinan baru mereka.
"Papa yakin kamu bisa menggantikan papa, dan lebih memajukan perusahaan kita." Rendy menepuk pundak putranya.
"Tapi Bimo juga harus masih banyak belajar dari papa." Bimo tersenyum.
"Pasti, papa siap kapanpun jika kamu membutuhkan papa."
tok..tok..
"Masuk."
"Maaf pak, diluar ada tuan Richard yang ingin bertemu." Ucap Daniel
"Tuan Richard..? Suruh dia masuk." Rendy yang memang berteman dengan Richard pun senang sahabatnya itu mau berkunjung ke kantornya.
"Baik pak."
Tak berselang lama Tuan Richard masuk.
"Hay Rich, apa kabar." Rendy menyapa Richard.
"Baik Rendy..kau masih saja awet muda." Richard memeluk sahabat lamanya itu.
"Ahh kau itu bisa saja, kita ini masih sama-sama muda." Keduanya tertawa.
"Oh..Hay nak Bimo." Richard menyapa Bimo.
"Ya..tuan." Bimo menjabat tangan Richard.
"Tidak usah panggil tuan, panggil saja om, kita sedang tidak membahas bisnis." Ucap Richard dengan menepuk bahu Bimo.
"Baik Om."
Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan Rendy yang sekarang menjadi ruangan Bimo.
"Ada angin apa seorang Richard yang sibuk datang ke kantor kecil ku ini." Rendi bicara dengan bersandar pada sofa, dan kaki menyilang di atas kaki satunya. Dirinya merasa sedikit heran mendapati seorang Richard yang sibuk sempat bertandang ke kantornya.
"Kau itu terlalu merendah Ren, kemarin aku juga kesini untuk bekerja sama dengan putramu." Ucap Richard dengan terkekeh.
"Oya wah aku malah tidak tahu jika perusahaan kita menjalin kerja sama." Rendy duduk dengan tegap.
__ADS_1
"Hem, sepertinya putramu memiliki bakat yang handal seperti dirimu, jadi aku tertarik untuk bekerja sama." Richard menatap Bimo yang hanya tersenyum.
Bimo tidak menanggapi obrolan mereka namun jika dirinya pergi itu tidak sopan.
tok..tok..
Seorang OB perempuan masuk dengan membawakan minuman untuk mereka.
"Silahkan tuan." Alena menunduk dan berbalik untuk pergi.
Bimo yang melihat Alena sudah masuk kerja mengernyit heran, bukanya Alena seharusnya masih istirahat dirumah, wanita itu baru satu Minggu keluar dari rumah sakit.
"Kedatanganku kemari untuk mengundangmu dan keluarga makan malam di rumah kami, yah... hitung-hitungan kita reuni berdua." Ucap Richard dengan tawa khasnya.
"Suatu kehormatan seorang Richard mau mengundang keluarga kecil kami." Ucap Rendy yang memang selalu merendah jika berhadapan dengan Richard.
"Kau jangan berlebihan Ren, kita sahabat lama, dan jangan lupa nak Bimo juga harus datang." Ucapnya lagi menatap Bimo yang hanya diam tanpa reaksi.
"Baiklah kami dengan senang hati akan datang."
Richard pamit pulang ketika sudah menyampaikan niatnya untuk datang ke kantor Rendy.
"Papa tahu kamu tidak suka dengan acara para orang tua, tapi papa harap kamu menghormati Richard sebagai rekan kerjamu." Rendy yang memang sangat mengerti sifat putranya memberi nasehat. Bimo memang tidak suka acara yang menurutnya hanya basa-basi saja.
"Baik pah."
.
.
.
Alena sedang membuat makanan yang menurutnya gampang karena merasa lapar di jam yang belum waktunya istirahat.
"Ahh akhirnya jadi juga." Alena mencium aroma cake yang sangat menggiurkan aromanya.
"Beruntung banget dapet bagian di sini, coba kalo di tempat lain, lapar ya harus tahan sampai jam istirahat." Alena berbicara sendiri.
Menurutnya mendapat pekerjaan sebagai OB sudah sangat beruntung, apalagi mendapat tempat yang lumayan sangat nyaman jam kerjanya terbilang santai.
Alena masih berdiri di depan oven, baru saja memindahkan cake panggang nya ke atas piring.
"Berasa orang kaya kalo kaya gini, makanannya cake segala..hihihi." Alena cekikikan sendiri dengan ulahnya.
__ADS_1
Ehem
Deheman keras dari belakang membuat Alena segera berbalik.
Mendapati bos yang sangat menyebalkan membuat Alena kembali berbalik dan memutar bola matanya malas.
"Ck. kau itu tidak sopan sekali Ale." Bimo menatap datar punggung Alena.
Mendengar ucapan bosnya membuat Alena berbalik dan menatap wajah datar bosnya itu.
"Bapak butuh apa, ada yang bisa saya bantu." Alena mencoba bersikap sopan, dan seharusnya memang begitu jika di kantor.
"Kenapa kamu sudah masuk bekerja." Bukanya menjawab pertanyaan Alena, Bimo malah balik bertanya.
"Jika saya terlalu lama di rumah, siapa yang akan menggaji saya pak." Alena menghela napas. "Hutang saya sama bapak aja belum berkurang sedikitpun, apa jadinya kalo saya harus istirahat dan tidak bekerja, pasti sampai satu tahun hutang saya tidak akan pernah lunas dan akan terus menjadi pembantu bapak." Alena berkata dengan maksud menyindir, dengan wajah memelas mungkin.
Jika mengingat ucapan bosnya tempo hari mengenai hutang dan pembantu membuat Alena kesal sendiri, apa bosnya itu tidak bisa menghibur pasien yang sakit dengan kata-kata semangat, tapi bosnya itu malah membahas hutang, sungguh membuat Alena kesal sendiri.
"Bagus jika kamu menyadari kewajiban kamu, jadi saya tidak perlu repot-repot untuk mengingatkan." Bimo berbicara dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Alena di buat cengo dengan ucapan bosnya barusan, sungguh apakah bosnya itu tidak memiliki rasa empati kepadanya.
Bimo mendekati Alena yang masih berdiri, Tubuh mereka hanya berjarak dua jengkal saja. "Bapak mau apa?" Detak jantung Alena tiba-tiba berdetak cepat ketika bosnya itu sangat dekat dengannya, bahkan aroma parfum Bimo menusuk Indera penciumannya yang sangat menenangkan.
Bimo memiringkan kepalanya dan berbisik. "Lain kali jika ingin membuat makanan, jangan hanya untuk sendiri." Ucap nya tepat di samping telinga Alena, bahkan nafas hangat Bimo terasa hingga lehernya.
Alena memejamkan mata ketika tubuh Bimo semakin merunduk ke arahnya.
Tangan Bimo terulur untuk mengambil potongan cake yang ada di belakang tubuh Alena, sehingga d Ngan jarak seperti ini, mereka seperti akan berciuman.
Fyuuhh
Bimo meniup wajah Alena yang sedang memejamkan mata, dan pergi begitu saja setelah mendapatkan potongan kue yang sejak tadi aromanya sudah sangat menggoda di hidungnya.
Alena membuka mata dan sudah tidak ada siapa-siapa, namun bau maskulin bosnya masih tercium.
"Busett jantung gue kenapa, mau lepas gini." Alena memegangi dadanya yang merasakan jantungnya kian berdetak dua kali lebih cepat.
"Benarkan gak sehat nih jantung gue." Alena buru-buru mengambil air minum untuk menetralkan detak jantungnya.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa jempol buat Mas bemo aja yang manis...😘😘