
Keesokan harinya...
Sudah menunjukan pukul tujuh pagi, Seorang wanita masih terlelap bergelung di bawah selimut.
Sena yang tidak biasa bermalas-malasan dan bangun siang, kini gadis itu masih memejamkan matanya meringkuk di bawah selimut tebal.
Ting...tong..Ting..tong...
Suara bel apartemen terus berbunyi, Sena yang merasa terganggu pun menggeliat.
"Em..siap sih.." Kesalnya dengan mengucek mata. "Gak tau apa orang masih ngantuk." Dumelnya sambil bangun untuk membukakan pintu.
Hari ini adalah hari Minggu, dimana semua aktifitas kerja libur untuk pabrik nya.
Karena hari libur dan tubuhnya terasa lelah Sena pun memutuskan untuk tidur lebih lama dan enggan untuk keluar hari ini.
Ceklek
"Selamat pagi.."
Sena yang masih belum kumpul nyawanya hanya menatap sekilas.
"Aku tidak boleh masuk?" Tanya Arron ketika melihat Sena hanya diam saja.
Wajah bantal Sena terlihat begitu cantik dan natural, meskipun terpesona Aaron masih bisa mengontrol kewarasannya, agar tidak terlalu bodoh di depan Sena.
"Maaf, aku tidak menerima tamu di pagi hari." Ketus Sena, dirinya berbalik dan hendak menutup pintu.
"Tunggu dulu.." Aaron memajukan kakinya untuk menahan pintu. "Plis ijin-in aku masuk, terakhir kali..besok aku gak akan ganggu kamu lagi." Aaron dengan wajah memelas nya menatap Sena.
"Siapa kamu, harus aku ijin-in?" Sena menatap datar pria di depannya, yang memang suka sekali mengganggunya.
"Em.." Aaron nampak berpikir. "Pacar..eh bukan." Arron menggoyangkan tangannya tanda bukan. "Teman, biarkan aku menjadi teman kamu."
"Aku tidak punya teman pria, sepertimu."
"Masa Iya aku harus jadi Letoi..eh" Aaron menepuk mulutnya sendiri.
Sena yang mendengar dan melihat tingkah Aaron mengulum senyum.
"Terserah kau anggap apa, pembantu, pembokat, pelayan..apapun itu yang jelas ijinkan aku masuk." Tanpa menunggu jawaban Sena, Aaron lebih dulu menerobos masuk ke apartemen Sena.
"Ehh..mau apa kamu, keluar..!!" Sena membentak Aaron ketika pria itu nyelonong masuk tanpa ijin.
Arron yang duduk di sofa hanya tersenyum menyeringai.
"Tidak baik mengusir tamu nona, tamu adalah raja...jadi perlakukan dengan baik." Wajah Aaron begitu menyebalkan di mata Sena.
__ADS_1
"Pria kurang ajar." Sena mengambil bantal kursi untuk memukuli Aaron.
Bugh
bugh
"Keluar pria gila, keluar..dasar pria brengsek." Sena memukuli Aaron membabi buta, sedangkan Aaron hanya menutupi wajahnya menggunakan tangan.
"Stop Sen, stop.." Aaron masih berteriak agar Sena berhenti.
"Jangan harap, sebelum kamu pergi dari tempatku..dasar pria gila, pria tidak waras..!!"
Bugh
Tubuh Sena terpelanting ke dalam dekapan Arron, ketika kedua tangannya di tarik kuat oleh pria itu.
Mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain. Desiran halus mulai merambat di hati keduanya, Aaron dengan jantung berdebar menatap mata bulat coklat itu dengan intens.
Sena yang baru pertama kali di tatap sedekat ini oleh seorang pria membuat hatinya berdesir lembut.
"Kenapa wajah kamu selalu memenuhi otak ku hm." Aaron berbicara tepat di depan wajah Sena, jarak wajah keduanya hanya beberapa senti.
"Gara-gara kamu aku rela melakukan hal konyol yang seharusnya aku hindari." Tangan Aaron menyentuh rambut Sena, membenarkan di belakang telinga.
Sena hanya diam, entah mengapa menatap wajah Aaron dengan begitu dekat membuatnya terpesona, hidung mancung dan bibir tebalnya membuatnya menelan ludah kasar, ketika ingatan ciuman pertama nya di renggut olehnya, rasa penasaran itu kini bersarang di otaknya.
"Dan sekarang, kamu tidak akan pernah aku lepaskan." Aaron memajukan wajahnya lebih dekat dengan bibir ranum Sena.
Cup
Arron mengecup lembut bibir tipis yang sudah pernah Ia rasakan dan membuatnya selalu terbayang ingin melakukannya lagi, dan itu berarti bibir ini sudah menjadi candunya.
Karena tidak ada penolakan, Aaron semakin intens mengeksplor tautan bibirnya, mellumat nya dengan lembut dan menyesap benda kenyal itu dengan penuh perasaan.
Sena yang terbawa suasana dengan kelembutan Aaron membuatnya tanpa sadar membalas lumattan dan kulumman bibir tebal itu.
Dalam hati Aaron tersenyum lebar, ketika Sena membalas cumbuannya.
"Emph.." Aaron semakin memperdalam ciumannya ketika Sena akan menjauhkan wajahnya, tangannya dengan cepat menekan tengkuknya.
Posisi mereka duduk di sofa, dengan Sena yang berada di atas pangkuan Arron, tangan kiri Aaron pun memeluk pinggang ramping Sena.
"Emph.." Sena memukul dada Aaron ketika dirinya sudah kehabisan napas.
"Hah..hah..Kau mau membunuhku..!!" Pekik nya dengan emosi, dan wajah memerah. Bahkan napasnya masih tersengal.
Arron hanya tersenyum, jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat, perasaanya meletup-letup bahagia.
__ADS_1
Ibu jarinya mengusap sudut bibir Sena yang basah. "Mana mungkin aku membunuh mu, secara tidak langsung itu juga membunuhku." Aaron menatap wajah Sena lekat.
Entah mengapa dirinya bisa senekat ini kepada Sena yang baru dirinya kenal, bahkan Aaron sendiri tidak tahu asal usul Sena yang sebenarnya, dirinya hanya tahu jika Sena adalah kepala bagian di divisi nya bekerja.
"Sialan..!!" Sena yang sadar dengan apa yang mereka lakukan mengumpat, entah mengapa dirinya bisa terlena oleh ciuman pria brengsek di depannya ini.
'Bodoh kau Sena!!'
"Ssstt... jangan mengumpat terus, tidak baik untuk wanita cantik sepertimu." Aaron memajukan wajahnya lagi, berniat memberi kecupan dibibir Sena.
"Mau apa?" Sena mendelik tajam, dengan telapak tangannya berada di wajah Aaron dan mendorongnya kuat.
"Aisss...tadi aja manis banget, sekarang galaknya kayak kucing beranak.." Ucap Aaron yang membenarkan posisi duduknya, karena Sena sudah menyingkir dari pangkuannya.
"Apa kamu bilang?!" Sena menatap Aaron sengit.
"Eh..ngak ada." Aaron mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
Sena beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju dapur kecilnya, mengambil minum.
Aaron yang melihatnya mengekori dari belakang.
"Mau aku pesankan makanan?" Tanya Aaron ketika melihat Sena hanya meminum air putih, dan di meja pun tidak apa makanan.
"Tidak perlu." Sena meninggalkan Aaron, dan masuk kedalam kamarnya.
"Ck, yakin cewek kayak gini patut di perjuangkan." Aaron bergumam dengan senyum.
Tak lama Sena sudah keluar dengan rambut yang sedikit basah bagian depan, sepertinya Sena habis cuci muka. Meskipun tampilan Sena hanya bisa saja, kaus oblong yang kebesaran dan menggunakan hotpants, rambut di Cepol asal ke atas, sudah mampu membuat Aaron Ryan Lewis terpesona.
Pluk
Sena mendorong wajah Aaron dengan tangannya, ketika Ia melintas di depan pria itu yang tidak berkedip melihat nya.
"Ya, tuhan jantung gue." Aaron memegangi dadanya ketika melihat senyum tipis Sena pada dirinya. "Speak bidadari asli njiirr.."
"Ck. lebay.." Sena geleng kepala, bisa-bisa nya dirinya tersenyum melihat tingkah pria menyebalkan dan gila seperti Dia.
Sena mengeluarkan bahan makanan dari kulkas, dan ingin mengolahnya untuk sarapan pagi ini.
Hanya ingin membuat nasi goreng toping lengkap, entah mengapa dirinya merindukan sang papa, dan ingin memasak nasi goreng kesukaan papanya.
.
.
__ADS_1