Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Rombongan mobil pengantin pria memasuki halaman khusu di depan gedung hotel, dimana mobil yang di tumpangi kelurga inti dan sang pengantin berhenti di depan lobby yang sudah terbentang karpet merah sepanjang perjalanan masuk.


Aaron nampak gagak dengan menggunakan tuxedo berwarna putih gading, dimana pakaian itu sangat pas ditubuhnya padahal dirinya tidak pernah merasa fitting baju pengantin.


Karena menikah terpaksa Aaron sama sekali tidak ada rasa gugup dan grogi, justru dirinya terlihat sangat malas dan masa bodoh.


"Ar senyum...malu pengantin masa cemberut." Bisik Arin pada putranya.


Dimana Aaron hanya berwajah datar tanpa akpresi.


Dengan terpaksa Aaron menarik sudut bibirnya untuk membentuk senyum aneh karena mendapat tatapan tajam dari kedua pria yang membuatnya hidupnya merana.


"Jangan bikin malu sampai tujuh turunan bocah tengil" Tegas Kakek Lewis.


Setelah mendapatkan foto, mereka di persilahkan masuk untuk menunggu di tempat yang sudah disediakan dimana didepan sana terletak sebuah meja dengan empat kursi, dan dua sudah di duduki oleh seorang pria yang Aaron sangat kenal.


"Dia kan.." Gumamnya dengan langkah semakin mendekati tempat ijab kabul itu.


"Selamat datang besan dan kakek." Bimo berdiri menyambut keluarga besannya, dimana dirinya di temani Rendy dan Om nya yaitu Allanaro dan juga Birendra.


Mereka saling jabat tangan, hanya Aaron sendiri yang masih diam mematung mencerna orang-orang didepanya, karena sungguh dirinya terkejut melihat pria yang pernah membuatnya kesal dan susah untuk mendapatkan kerja sama, apalagi usahanya gagal gara-gara memberikan keuntungan saham lima puluh persen milik LWS.


"Ar kamu tidak mau menyapa calon papa mertuamu?" Ucap Arthur yang sudah tak tahan melihat reaksi wajah Aaron.


"Pa_pa mertua?" Suara Aaron tercekat.


"Sepertinya dia syok melihat siapa calon mertuanya." Ledek Birendra yang melihat wajah calon kakak iparnya yang seperti orang bodoh.


Aaron hanya diam tanpa menghiraukan ledekan calon adik iparnya itu.


"Kakek apa tidak ada pilihan calon mertua lain selain dia." Bisik Aaron pada kakeknya yang berada di sebelahnya.


"Kau itu." Kakek Lewis hanya geleng kepala.


"Maaf apa acaranya bisa dimulai sekarang?" Tanya pak penghulu ketika waktu acara ijab kabul akan segera di mulai.


Dan mereka mengambil posisi masing-masing dimana para keluarga Aaron duduk di kursi belakang nya.


"Bagaimana nak Aaron, apa anda sudah siap?" Tanya pak penghulu, karena melihat Aaron hanya diam saja saja bicara atau wajah-wajah bahagia. Aaron malah menampakan wajah bingung.


"Mungkin dia perlu belajar dulu pak." Ucap Bimo yang melirik Aaron dengan tersenyum tipis, apalagi sejak tadi Aaron menatap ke arahnya terus.


"Aku belajar.." Tunjuk Aaron pada dirinya sendiri.


Bimo hanya menaikkan kedua alisnya.


"Tidak perlu, karena aku Aaron Ryan Lewis tidak akan salah berucap." Ucapnya dengan tegas dan yakin.


"Bagus kalau begitu, karena saya tidak akan salah memilih menantu."


Glek


Aaron menelan ludahnya kasar. Bagaimana bisa dirinya terjebak perjodohan dengan putri pria yang menyebalkan dan memiliki sifat dingin seperti calon mertuanya ini.


Heh calon mertua???


Setelah pak penghulu memberikan petuah-petuah dan nasehat dalam menjalankan rumah tangga, kini saat nya Aaron menjabat tangan kanan Bimo untuk mengucapkan janji suci yaitu ijab kabul.


"Sudah siap?" Tanya Bimo lagi, yang melihat kegugupan di wajah Aaron ketika menjabat tangannya.


"Sudah." Aaron mencoba untuk tetap tenang dan fokus.

__ADS_1


"Baiklah, dengarkan saya baik-baik."


Tangan keduanya bertautan erat di mana ketika Bimo menjadi wali nikah putrinya sendiri


"Ananda Aaron Ryan Lewis Bin Arthur Lewis, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Adinda Biana Sena Bagaskara dengan maskawin_"


"Tunggu dulu..!!" Aaron reflek menarik tangannya.


Bimo menautkan kedua alisnya, dan orang-orang yang tidak tahu menjadi bisik-bisik. Berbeda dengan keluarga Lewis yang sudah ingin tertawa lepas, melihat Aaron yang kembali terkejut.


"Bimo Bagaskara, Biana Sena Bagaskara bukankah itu nama panjangnya Sen-Sen?" Tanya Aaron pada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat apakah benar orang yang sama.


"Ada apa? kamu tidak mau menikah dengan putriku?" Tanya Bimo dengan tatapan mengintimidasi.


"Hah, bu-bukan tapi." Aaron seperti orang bodoh yang masih belum percaya dengan pemikirannya sendiri.


"Mah, mana ponselku?" Tanya Aaron mengeadahkan tangannya pada Arin.


"Untuk apa Ar?" Arin pun memberikannya.


Aaron segera mencari kontak nomor orang yang bisa menjawab kebingungannya.


Panggilan ketiga belum diangkat oleh seseorang itu.


"Ayolah Sen angkat telponya." Aaron kembali mencoba menghubungi dan panggilan ke lima baru bisa mendengar suara Sena.


"Ya Ar..?


"Sen nama panjang kamu siapa?


"Ada apa Ar?"


"Katakan Sen siapa?"


"Biana Sena Bagaskara." Jawab Sena dari seberang sana.


Bibir Aaron berkedut menahan rasa membuncah di dalam hatinya. "Apa nama papa kamu Bimo Bagaskara.!!" Tanya Aaron dengan suara tinggi, bahkan pria itu sampai berdiri dari tempat duduknya.


"I-iya Ar, kamu kenap_" Belum sempat bicara, Aaron sudah mematikan ponselnya lebih dulu.


"Papa mertua ayo kita lanjutkan sekarang." Aaron kembali duduk dengan senyum lebar di bibirnya, membuat tamu yang hadir menjadi heran, berbeda dengan keluarga mereka yang malah tertawa. Apalagi pria itu sampai menarik tangan Bimo untuk segera Ia jabat.


"Ar, kenapa kamu tidak sabaran, bukanya kamu tidak ingin dijodohkan?" Ledek Arthur dengan pura-pura bertanya.


"Kalian semua yang telah mempermainkan ku..!!"


Diruangan lain, tepatnya di kamar pengantin dimana Sena sedang duduk di depan cermin, wajah cantik Sena kini bertambah cantik dengan balutan makeup handal dari Mua yang mereka sewa. Sena menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum getir, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri.


"Mah, Mama tahu siapa calon suami Sena." Tanya Sena pada Indira, dimana gadis itu sejak kecil memanggil Indira dengan sebutan Mama.


"Mama belum tahu sayang, tapi Mama yakin pria pilihan papa kamu adalah pria baik." Indira mengelus lengan Sena.


"Cucu Oma sangat cantik, kamu mengingatkan Oma pada mamamu sayang." Leina mencium kening Sena.


"Terima kasih Oma." Sena tersenyum, melihat Oma nya masih bisa melihatnya menikah, padahal Leina sudah sering sakit-sakitan karena faktor umur.


"Siapa tadi yang telfon?" Tanya Indira yang penasaran.


"Em..dia teman aku Mah."


Entah mengapa Sena lupa jika Aaron hari ini juga sedang melangsungkan pernikahannya, tapi kenapa Aaron malah menelpon dan hanya menanyakan nama nya saja.

__ADS_1


"Yasudah sebentar lagi acara di mulai, kamu hanya tunggu di sini, lihat kamera di didepan sebentar lagi akan menyalah." Tunjuk Indira pada kamera kecil di depan mereka, dimana Sena tidak boleh keluar sebelum acara resepsi nanti. Dan itu semua ide dari kakek Lewis yang ingin membuat Aaron kesal.


Sena hanya mengangguk dengan bibir dipaksa senyum.


'Ar, semoga kamu bahagia.' Doanya dalam hati.


.


.


Sebuah layar besar menampakan gambar pengantin wanita yang terlihat begitu cantik di dampingi dengan dua wanita yang berbeda generasi. Sena hanya tersenyum tipis di Vidio itu, berbeda dengan Aaron yang sudah melebarkan senyumnya ketika pertama kali melihat calon istri nya adalah wanita yang sangat dia cintai.


Tanpa menunggu lama acara segera di mulai di mana Bimo menikahkan putrinya dengan sepenuh hati.


"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Biana Sena Bagaskara binti Bimo Bagaskara dengan maskawin sebuah rumah beserta isinya serta saham LWS sebesar 50 persen di bayar tunai." Ucap Aaron dengan satu tarikan napas.


*Sah..


Sah*..


Semua orang mengucap Hamdallah dan membacakan doa, dimana acara ijab kabul berjalan lancar.


Arin memeluk suaminya dengan tangis haru, dimana dia yang sebentar lagi akan memiliki cucu.


Setelah menandatangi berkas, Aaron masih celingak-celinguk menunggu penggantinya datang.


"Pah, kenapa Sena tidak di bawa keluar?" Tanya Aaron pada Arthur.


"Untuk apa?"


"Ck. biasanya setelah ijab kabul selesai mempelai wanita di bawa keluar, tapi kenapa Sena tidak muncul-muncul." Aaron merasa kesal karena dirinya sudah tidak sabar ingin bertemu Sena dan melaupakan kebahagiaan nya bersama istrinya itu, pasti Sena juga akan terkejut.


"Nanti kalian akan bertemu di pesta resepsi." Ucap Arthur santai


"What? Papa serius.' Aaron melebarkan matanya tak percaya, jika harus menunggu sampai nanti malam.


"Ya, karena itu kesepakan kami, dan kamu hanya bisa menurut, mengerti." Kakek Lewis menatap tajam Aaron yang sudah berwajah kesal.


"Kalian benar-benar ya."


Mereka semua karut dalam kebahagiaan, para tamu yang hadir hanya kerabat dan orang-orang penting di Bagaskara Grub, karena puncaknya adalah nanti malam, dimana semua tamu undangan akan hadir di tempat yang sudah mereka sediakan.


Aaron yang mengamati sekitar sepertinya aman untuk dirinya kabur, melipir mencari jalan di mana letak kamar yang Sena tempati.


Hingga dirinya berpapasan dengan dua orang yang tadi di lihatnya di layar besar, Aaron sembunyi agar mereka tidak melihatnya.


"Pasti ini kamarnya." Ucapnya yang sudah aman dan sampai didepan pintu kamar, yang dia yakini kamar Sena.


Ceklek


Aaron membuka pintu dan melongokan kepala nya melihat ke dalam, disana dirinya melihat Sena yang sedang duduk di depan cermin dengan melepas aksesoris nya.


Grep


"Aar..!!" Sena yang terkejut sampai berteriak, ketika tubuhnya di peluk Aaron dari belakang. Sena bisa melihat wajah Aaron dari balik cermin.


"Lepas Ar..!!" Sena memberontak tapi tak membuat Aaron melepaskannya.


"Ar.!! lepas.!"


Bugh

__ADS_1


Karena Aaron tidak melepaskannya Sena sekuat tenaga menyikut bagian sensitif Aaron.


"Arrgh.." Aaron merasakan kesakitan luar biasa. "Sen, kau mau membunuh aset masa depan kita." Wajahnya memerah dengan kedua tangan memegangi selakangannya.


__ADS_2