Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Keputusan Ren


__ADS_3

Yang dikatakan Bimo membuat Birendra tidak bisa lagi berkata, papanya nya tidak bisa Ia bohongi.


Ren yang semula mencekram tangan Alexa kuat, kini melonggar dan melepaskan cekalan itu. Tapi Ren memutar tubuhnya untuk berdiri didepan Alexa.


Dadanya terasa bergemuruh dengan perasaan bingung, Ren yang tidak mau rencananya gagal, tapi juga merasakan bimbang dengan perasaanya sendiri.


Alexa mendongak ketika Ren berdiri didepannya.


Ren menatap kedua manik coklat milik Alexa dengan lekat seketika hatinya berdesir ketika melihat bola mata Alexa, rasa yang baru dia rasakan dalam hati, dan tidak pernah Ren rasakan jika sedang bersama sang kekasih.


"Alexa menikahlah dengan ku." Ren menatap kedua mata Alexa, mengunci tatapan Alexa pada dirinya.


Alexa menelan ludah kasar, ucapan Ren membuat tubuhnya membeku.


"Tidak.!!" Ucap Alexa tegas dengan penuh percaya diri. "Dan maaf, sebaiknya kita selesaikan semua ini, sekarang." Alexa menggeser tubuhnya dari hadapan Ren yang menatapnya tak biasa.


Alexa menatap Bimo dengan wajah memohon. "Maafkan saya pak, semua kajadian ini hanya salah paham, dan saya sangat tidak nyaman dengan putra anda." Alexa bicara dengan jujur. "Saya memang gadis biasa dan saya pun sudah yatim piatu, saya mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan saya, dan jika saya memiliki salah kepada," Alexa memutar kepalanya menatap Ren. "Anda tuan, maka saya minta maaf." Alexa menunduk hormat.


"Dan saya juga minta maaf jika saya kurang sopan di mata anda pak." Alexa menatap Bimo dengan wajah tulusnya. "Saya harap masalah ini sudah selesai, dan untuk menikah. Maaf saya tidak bisa meskipun dengan paksaan." Alexa menunduk dan segera pergi dari hadapan Bimo. Lebih baik dirinya mengalah dan mengakhiri ini semua.


"Kamu lihat, wanita seperti itu yang kamu sebut murahan." Bimo bicara dengan nada kesal.


Ren hanya menunduk, hatinya sedikit terluka mendengar penolakan Alexa untuk menikah dengannya, jika mereka tahu Jihan yang sudah membujuk untuk menikahinya, dirinya masih mengelak dan hatinya enggan untuk menjawab iya, tapi sekarang dirinya merasakan bagaimana ditolak ketika meminta seorang wanita untuk mau menikah dengannya.


"Kamu hanya melihat Alexa sebelah mata, tanpa tahu asli sifat gadis itu. Seharusnya kamu sudah bisa membedakan mana wanita yang pantas di perjuangkan dan mana yang tidak pantas di pelihara." Sindir Bimo pedas, dan keluar meninggalkan Ren sendiri dengan perasaan gelisah.


.


.


.


Setelah satu Minggu kejadian itu terlewati Alexa hari ini datang untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya, namun dari pihak HRD menolak surat itu dan malah memberikan Alexa sebuah surat pernyataan.


"Bu, apa ini tidak salah?" Tanya Alena dengan perasaan bingung.


"Tidak Lexa, bahkan pak Bimo sendiri yang meminta saya untuk membuatkan surat itu, jika kamu dipindah tugaskan di kantor pusat yaitu Bagaskara Grub." Ucap kepala HRD itu menjelaskan.


Alexa hanya menatap surat itu dalam diam, jika mungkin dirinya tidak terlibat masalah dengan pimpinan perusahaan itu, mungkin Alexa akan senang hati mendapat surat pemindahan itu. Tapi sekarang dirinya merasa dilema dengan isi surat itu.


Alexa memikirkan hidup kedepannya akan seperti apa jika dirinya menerima pemindahan itu, yang jelas penghasilan gaji di sana lebih besar dua kali lipat di kantor ini, meskipun di sini juga besar menurutnya, tapi di kantor pusat Alexa bisa mendapatkan lebih.


"Sebaiknya kamu pertimbangkan kembali dengan keputusanmu Lexa, karena kesempatan ini tidak akan datang dua kali, dan kamu juga tahu perbedaan disini dan di sana." Kepala HRD itu mencoba menyakinkan Alexa, agar memikirkannya keputusannya.

__ADS_1


"Baiklah Bu, akan saya pikirkan dulu." Alexa pamit dari tempat itu.


Niatnya hari ini Ia akan mengundurkan diri, tapi malah mendapat kesempatan untuk menunjukan kemampuannya di perusahaan yang lebih besar. BGS memang perusahaan baru tapi disini Alexa sudah merasa memadai dan nyaman. Hanya karena masalah waktu itu membuatnya untuk memilih risaign.


Alexa memasuki ruang kerjanya disana ada Gilang dan Keke yang sudah datang.


Mereka memang tidak tahu acara Alexa mengundurkan diri, karena Alexa langsung menyerahkan suratnya ke bagian HRD.


"Lex ya tuhan hari ini aku bahagia." Ucap Keke dengan wajah sumringah.


"Kenapa Mbak?" Alexa menaruh tasnya di atas meja kerjanya.


Tak lama Tia ikut masuk keruangan mereka. "Berkat kamu kita semua mendapat bonus dan penghargaan Lex." Ucap Tia yang juga dengan wajah bahagia.


"Lihat.." Keke memperlihatkan ponselnya yang baru saja mendapat notif bukti transferan uang masuk. "Bonus sudah masuk rekening, coba kamu cek punyamu." Keke paling antusias di ruangan itu.


"Lumayan kan buat kita shoping, karena Minggu depan divisi kita diundang ke acara ulang tahun kantor pusat." Ucap Keke lagi dengan bahagia.


Alexa ikut melihat ponselnya dan benar saja dirinya juga mendapat notif dari m-banking.


"Wahhh kita harus merayakan ini mbak." Ucap Alexa menatap ketika orang yang mengangguk setuju.


"Harus dong, biar aku yang pilih tempatnya."Gilang yang juga ikut kecipratan juga merasa senang.


"Baiklah, kamu pilih tempat yang bagus dan mahal, kali ini aku yang akan mengtlaktir kalian semua." Ucap Alexa dengan tertawa.


"Wahh..ini sih mamanya rezeki nomplok dua kali." Ucap Tia merasa senang.


"Okelah, ntar malam kita kumpul di tempat yang aku Sherlock." Tambah Gilang yang semangat.


Mereka kembali ke meja kerja masing-masing dan kembali sibuk bekerja.


.


.


Ren menatap datar dua orang yang sedang berbicara dan bersenda gurau, meskipun mereka tidak berdua tapi tatapan mata Ren mengarah pada dua orang yang sedang asik bercengkrama dan tertawa.


"Sayang kita kesana." Jihan menunjuk meja yang tak jauh dari tempat kedua orang yang Ren kenal.


"Jihan?" Sapa seorang pria ketika mereka ingin melintasi meja tempat pria yang menyapa itu duduk.


"Em..Brian." Ucap Jihan mencoba mengingat nama pria itu.

__ADS_1


"Oh..ayolah...aku Julian bukan Brian." Ucap pria itu dengan senyum.


Jihan yang mendengarnya merasa kikuk, apalagi Ren menatapnya datar.


"Em..maaf aku tidak mengenal anda tuan." Ucap Jihan pada akhirnya. Karena tidak ingin membuat Ren curiga.


"Oh may good, kamu lupa dengan ku, karena sedang bersama dia." Tunjuk Julian pada Ren. "Apa dia lebih hebat dari permainan ku di atas ranjang." Julian tersenyum menyeringai menoel dagu Jihan dengan gaya nakal.


"Jangan bicara sembarangan." Sentak Jihan pada tangan Julian yang menoel dagunya.


"Ohhoo... Ternyata sekarang kamu lebih galak Beby." Ucap Julian membuat Jihan meradang, sedangkan Ren hanya diam tanpa bicara apapun.


"Kau..!!" Tangan Jihan ingin menampar Julian tapi dengan gampang Julian mencekal lengan Jihan.


"Cih, kau itu memang tidak berubah Beby, selalu kasar." Julian menatap Jihan dengan penuh arti.


"Ren tolong aku, kenapa kamu diam saja." Jihan menatap kekasihnya memelas, mencoba melepas cekalan tangan Julian yang membuat tangannya sakit.


"Selesaikan masalah kalian." Ucap Ren dengan dingin, dan pergi dari hadapan kedua orang yang membuatnya muak.


"Heh, pria seperti itu yang kamu kejar dan pergi meninggalkanku." Julian menatap Jihan remeh.


"Pria sialan, mau apa kau hah..!!" Jihan menyentak kuat tangan Julian dan tangannya terbebas dari tangan Julian.


"Seperti biasa menghabiskan waktu bersama ku."Tangan Julian mengelus wajah Jihan yang kesal bercampur amarah.


Ren mendekati meja tempat Alexa dan teman-teman kumpul, sepertinya mereka sedang merayakan keberhasilan mereka di program baru kemaren.


"Lex kalian itu cocok, Gilang pria baik dan sepertinya dia juga menaruh rasa sama kamu." Ucap Tia yang sepertinya menjadi ingin menjadi Mak comblang.


"Iya loh, Gilang diam-diam naksir kamu tau." Keke juga ikut bicara, Gilang sedang pamit ketoilet dan mereka malah gibah tentang perasaan Gilang.


"Mana mungkin mbak, mas Gilang itu pria baik dan ganteng pasti sudah punya kekasih." Jawab Alexa sekenanya, karena dirinya tidak terlalu memperhatikan Gilang.


"Duh Lex kamu peka sedikit dong, tatapan mata Gilang ke kamu itu tidak biasa, mbak tahu itu." Ucap Tia lagi.


"Lagi pula kalian kan sama-sama single, tidak apa-apa meskipun satu kantor kalian berpacaran, karena tidak ada larangan juga."


Ren yang mendengarkan obrolan mereka mengepalakan kedua tangannya.


'Mimpilah kalian.' Gumam Ren dalam hati, sepertinya ide untuk membuat aturan baru di kantor papanya akan dia lakukan, agar semua karyawan tidak bisa memiliki hubungan khusu dalam satu perusahaan.


Ren tersenyum menyeringai, dirinya memutar arah untuk keluar dari restoran itu, dan tidak jadi menghampiri Alexa.

__ADS_1


__ADS_2