
Seperti yang Ren katakan jika dirinya ingin membawa Alexa kerumah sakit untuk periksa kehamilannya, Jam sepuluh pagi Ren membawa sang istri untuk cek up pertama kali, dan itu membuat Ren selalu mengembangkan senyum.
Kini keduanya masih berada di dalam mobil, menuju kerumah sakit.
"Aku tidak sabar untuk melihatnya sayang." Ucap Ren dengan senang.
Alexa yang duduk dikursi samping Ren tersenyum. "Aku juga tidak sabar mas." Ren langsung menyentuh tangan Alexa, dan menciumnya.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Ren memakirkan mobilnya dengan baik.
"Ayoo." Ren membukakan pintu dan mengulurkan tangannya untuk membantu Alexa, membuat Alexa tersenyum manis. "Terima kasih mas." Alexa selalu dibuat terharu dengan perlakuan manis suaminya. Disini sungguh Alexa merasa beruntung.
Ren memang sudah mendaftarkan nama isterinya lewat sambungan telepon agar mereka tidak terlalu lama menunggu, dan Ren hanya bicara sebentar pada suster untuk mengkonfirmasi.
"Satu orang lagi sayang, nomor antriannya." Ren duduk di kursi samping istrinya, disana juga ada beberapa ibu-ibu hamil yang akan periksa, mereka juga ditemani suaminya, ada juga yang ditemani anaknya yang masih anak-anak.
"Nyonya Alexa Bagaskara." Suster memanggil setelah pasien didalam baru saja keluar.
__ADS_1
"Ayo.." Ren sangat antusias dirinya yang lebih semangat.
"Iya Mas," Alexa tersenyum malu, karena suara Ren yang sedikit keras membuat orang-orang di sampingnya menoleh ke arahnya.
"Nyonya Alexa Bagaskara?" Dokter perempuan ketika Alexa dan Ren baru saja masuk.
"Iya dok." Mereka duduk didepan dokter yang usianya sudah kepala empat, di mana dokter yang pernah menangani persalinan Sena.
"Ternyata tuan Bimo Bagaskara akan memiliki cucu lagi." Dokter itu tersenyum kepada Ren dan Alexa yang juga ikut tersenyum.
"Iya dok, saya juga tidak mau kalah dengan kak Sena." Ucap Ren berkelakar. Dokter itupun tertawa dan Alexa hanya tersenyum malu.
"Maaf nyonya." Suster itu membuka sedikit baju Alexa sampai di atas perut, untuk mengoleskan gel dipermukaan perut datar Alexa.
"Sepertinya yang tengang malah suaminya." Celetuk dokter itu yang melihat wajah tegang Ren, bahkan ada keringat yang muncul dipermukaan kening Ren.
Alexa menoleh ke arah suaminya. "Mas.." Alexa tersenyum.
__ADS_1
"Tidak, hanya penasaran sayang." Ren mencoba untuk menenangkan harinya, entah mengapa rasanya penasarannya, kini berubah rasa khawatir dan entah karena apa.
"Tidak apa-apa tuan nyonya, hal seperti ini juga banyak di alami oleh para suami." Dokter itu mencoba untuk memenangkan Ren yang sepetinya gugup.
Dokter itu pun mengarahkan alat Transducer di permukaan kulit Alexa yang sudah di beri gel, dan di monitor nampak kantung rahim Alexa yang diisi oleh dua bulatan hitam kecil di dalam sana.
"Lihatlah mereka ada dua." Dokter itupun tersenyum lebar.
"Du-Dua." Ucap Ren tak mengerti.
"Ya, tuan bayi anda kembar." Ren semakin tergugu mendengar nya, dan Alexa tersenyum haru, ternayata dia hamil bayi kembar.
"Tapi dokter, kenapa mereka tidak terlihat, Dimana dokter tahu jika mereka kembar?" Ren menatap dokter itu dengan penuh tanda tanya.
"Disana, lihat dua bintik hitam sebesar biji polong nah itu mereka yang masih sangat kecil." Dokter itu pun dengan sabar menjelaskan.
"Jadi mereka masih sebesar biji polong, kalau begitu apa jenis kelaminnya?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan konyol suaminya, Alexa memilih untuk menutup wajahnya.