Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part26


__ADS_3

Pagi hari beraktifitas seperti biasa, bayangan tadi malam selalu berkelebatan di pikiranya.


Alena Andhini, gadis belia yang berusia 18belas tahun. Gadis cantik dan penuh semangat namun terkadang juga terlihat kalem. Parasnya yang cantik tertutupi dengan penampilan sederhananya, tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang bos menyebalkan seperti Bimo mulai tertarik pada karyawan bawahan seperti Alena.


Bimo sampai di kantor sudah ada Rendy yang menunggu di ruangannya, tepatnya ruangan papanya yang sekarang menjadi miliknya.


Sebagian desain sudah Bimo rubah sesuai kriterianya, yang masih muda dan maskulin. Menurutnya tatanan ruangan papa nya dulu terlihat membosankan dan kuno.


Beda umur beda selera, jiwa Bimo masih muda di umur 25tahun, namun jiwa bisnisnya jangan di ragukan lagi.


"Pagi pah, tumben udah nongkrong disini?" Tanya nya seraya menaruh tas kerjanya di meja, dan menghampiri Rendy yang sedang duduk di sofa.


"Kamu kira ruangan ini cafe, nongkrong disini." Rendi menaikkan sudut alisnya menatap putranya.


Bimo tersenyum. "Lagian tumben pagi-pagi disini, bukanya manjain mama dirumah." ucapnya dengan melirik sang papa.


"Kamu itu tahu apa soal wanita, teman saja tidak punya apalagi pacar." Rendy menyesap kopi yang tadi dibuatkan oleh OB.


Rendy memang tahu jika putranya itu tidak memiliki teman wanita apalagi teman kencang. Entah apa yang membuat Bimo susah sekali jika dikenalkan dengan wanita. Rendy bukanlah orang tua yang kolot namun terkadang dirinya juga memikirkan putranya yang ingin melihat menikah.


"Bimo kan bukan papa, yang waktu muda sukanya Gonta ganti wanita." Ledeknya dengan santai.


Rendy hanya berdecak mendengar ledekan putranya."Hidup waktu muda harus dinikmati Bim, sebelum memiliki tanggung jawab kepada istri, lebih baik berkelana untuk mencari jodoh." Elaknya dengan terkekeh.


"Itu sih emang papanya yang dasarnya playboy."


Keduanya tertawa sebelum Rendy mengutarakan maksudnya ke kantor menemui putranya.


"Tadi malam kemana? sudah papa bilang hormatilah rekan bisnismu." Ucap Rendy mengingatkan, ketika makan malam dengan Richard Bimo tidak datang.


"Papa tau sendiri jika Bimo tidak suka acara seperti itu, apalagi bukan membahas soal bisnis, mungkin jika acaranya siang hari dan bukan acara keluarga, Bimo bisa memikirkan nya." Ucap nya dengan menyandarkan punggung nya disofa.


Begitulah Bimo, dirinya tidak suka hal-hal yang hanya membaurnya bosan. Apalagi undangan makan malam keluarga, pasti di dalamnya ada unsur tertentu.


Rendy hanya mengangguk menatap putranya, Bimo adalah cerminan dirinya dimasa muda dulu, namun sifat playboy nya tak menular.

__ADS_1


"Kamu benar, tidak ada dalam bisnis istilah murni bekerja sama untuk menjalin hubungan. Dan dalam bisnis pasti salah satu dari mereka menginginkan kedua keluarga atau perusahaan bergabung menjadi satu." Kedua saling menatap dengan wajah serius. "Papa hanya memberi tahu, sebelum mamamu datang dan bercerita yang akan membuat telingamu panas." Rendy sedikit tersenyum, sebelum melanjutkan. "Richard berniat menjodohkan putrinya dengan mu." Ucap Rendy menatap putra nya intens, ingin melihat reaksi Bimo.


Tidak terkejut atau pun merespon, wajah Bimo biasa saja jika Rendy lihat. Namun siapa sangka jika dalam hati nya merasa tidak suka.


Tersenyum dengan menatap papanya. "Apa papa dan mama menyetujui permintaan Tuan Richard?" Tanyanya dengan duduk membungkuk keduanya sikunya berada di atas lututnya.


"Papa tidak mengiyakan ataupun menolak, jika urusan rumah tangga papa tidak akan ikut campur, namun jika mama mu papa tidak yakin." Ucap Rendy dengan kembali duduk tegak.


Bimo hanya tersenyum tipis, dirinya bisa menebak bagaimana mamanya akan membujuk dan meminta dirinya menerima perjodohan itu.


Dirinya bisa saja menolak, namun terkadang mamanya suka sekali berbuat hal nekat jika keinginannya tidak dituruti.


.


.


"Ale..keruangan saya sekarang..!!"


Tok..tok..tok..


Alena muncul dibalik pintu setelah mendengar sahutan dari dalam.


"Ada yang bapak butuhkan?" Tanyanya dengan wajah menunduk.


"Kemari.." Tangan nya menyuruh Alena mendekati dirinya yang sedang duduk.


Alena hanya menatap Bimo dengan heran, apa maksudnya menyuruhnya mendekat.


"Ale.." Suara Bimo menyadarkan Alena.


Ragu, kakinya melangkah mendekati bosnya.


Bugh.


"Ahh.." Karena tidak memperhatikan jalanya, kaki Alena menyandung kaki meja kerja Bimo. Hingga membuatnya limbung, untung Bimo segera berdiri dan meraih tubuh Alena agar tidak jatuh kelantai. Namun malah dirinya yang terdorong kembali kekursi dengan tubuh Alena yang jatuh di atas tubuhnya.

__ADS_1


Kedua nya mereka bertemu, tatapan keduanya terkunci hingga tak bisa berpaling.


Jantung Alena berdebar tak karuan, sama yang dirasakan oleh jantung Bimo.


Bimo menelan ludah kasar ketika bibir tipis ranum itu berada tepat di depan bibir nya, hanya berjarak satu senti saja.


Masih terlena akan keindahan wajah yang berada di depan mereka masing-masing, tanpa sadar wajah Bimo sudah mendekat.


Cup


Bibir tebalnya menempel di bibir tipis ranum milik Alena, sebentar dan memberi pergerakan kecil.


Alena merasa tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan, ingin menghindar namun tubuhnya ingin merasakan kembali bibir bosnya. Cih malu-malu tapi mau...


Bibir Bimo bergerak lembut meresapi dengan nalurinya. Perlahan bibirnya menyesap bibir bawah Alena dan Melu*mat nya pelan.


Alena masih diam tak memberi balasan terlalu terkejut namun juga menikmati.


Bimo menikmati bibir Alena selama beberapa menit, dirinya menjauhkan kepalanya ketika teringat Alena sudah memiliki tunangan.


"Ale..maaf." Jarinya menyentuh bibir Alena yang basah karena bekas ciumannya.


Alena tersadar dan buru-buru bangun dari atas tubuh Bimo.


"Maaf pak, saya tidak sengaja." Menunduk demi menunjukkan rasa malu dan debaran jantung nya Alena meremat kedua tangannya.


Bimo berdiri tepat didepan Alena. "saya yang seharusnya minta maaf." Tangannya terulur menyentuh bibir Alena yang baru saja dirinya jamah. "Udah berani nyentuh bibir kamu." Jarinya mengusap sudut bibir Alena.


"Nanti pulang saya tunggu kamu di parkiran basemen." Ucapnya dan menyuruh Alena pergi.


"Jantung gue..." tangannya menyentuh dada. "Ale loe harus tanggung jawab.


.


.

__ADS_1



__ADS_2