Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part88


__ADS_3

"Apa kau tidak bisa sopan dan mengetuk pintu sebelum masuk keruangan orang..!" Bimo berbicara dengan suara berat. Tatapan dingin dan tajam pada wanita yang berdiri di depannya dengan wajah tak berdosa.


"Permisi." Alena menunduk dengan wajah memanas karena kepergok orang lain ketika bersama suaminya.


Grep


Bimo mencekal tangan Alena. "Mau kemana hm." Tatapan tajam tadi seketika berubah hangat ketika menatap wajah istrinya.


"Aku_"


"Disini saja, temani aku sebelum metting." Bimo menarik tangan Alena agar kembali duduk di pangkuannya.


"Bim.." Alena tidak bisa berkata ketika tangan besar suaminya memeluk perutnya.


Siera mengepalkan kedua tangannya, niat hati datang ke kantor Bimo untuk bertemu calon tunangannya tapi malah pemandangan menjijikkan yang membuat dirinya muak.


"Hm.." Mata Bimo fokus pada layar didepanya, dengan dagu bertumpu di pundak Alena. Dirinya bekerja sambil memeluk sang istri.


Alena melirik ke arah Siera yang hanya diam mematung namun tersirat kemarahan diwajahnya, dan ketika menyadari dirinya menatapnya, tatapan Siera begitu tajam.


Bimo tidak perduli jika ada orang lain di ruangannya, niat ingin bermesraan bersama sang istri tapi malah datang penganggu. Salah siapa datang tak diundang alhasil Bimo memanfaatkan keadaan untuk membuat Siera kesal dan pergi sendiri.


Brak


Siera membanting kuat pintu ruangan Bimo ketika keluar. Dirinya tidak menyangka akan mendapat sambutan yang membuat dadanya panas.


"Siallan." Siera terus saja mengumpati kedua orang yang sama sekali tak mengganggap nya, dan semua itu membuat dirinya menjadi benci. "Jangan panggil Siera Marhen jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.


.


.


"Lepas yank.." Alena berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tubuh suaminya.


"Bim-Bim." Rengek Alena karena Bimo tidak mendengar ucapannya.


Cup


Bimo malah membalikkan tubuh Alena dan keduanya saling berhadapan.


"Semangat sebelum bekerja." Bimo langsung Melummatt bibir Alena dengan lembut.

__ADS_1


Alena yang mendapat serangan mendadak pun membuka mulutnya agar keduanya bisa saling membelit lidah.


Tangan Bimo menyentuh punggung Alena mengelusnya pelan.


"Emph." Alena meleguh ketika bibir Bimo menyesap lidahnya kuat.


Alena bergerak tak nyaman ketika bokong nya terasa mengganjal di bawah sana, Ia yakin jika suaminya sudah terbakar gairah.


"Shh..emph.." Alena memejamkan mata ketika bibir Bimo menyentuh lehernya.


tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu menyadarkan Alena, namun tidak bagi Bimo yang masih melanjutkan aksinya.


"Bim.." Alena menarik kepala suaminya agar melepasnya cumbuannya.


Wajah Bimo nampak prustasi, matanya berkilat karena menahan gairah.


"Shitt.." Bimo mengumpat karena kegiatan panasnya terganggu.


Cup


Alena mengecup bibir suaminya sekilas agar kembali tenang.


"Yankk." Wajah Bimo nampak tak rela ketika Alena beranjak dari pangkuannya.


"I love You." Alena tersenyum manis dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Tuan." Alena tersenyum dan menunduk sedikit pada Daniel.


Daniel tersenyum tipis untuk membalas sapaan Alena. 'Bukanya sudah dari tadi masuk, kenapa baru keluar?' pikir Daniel yang tadi melihat Alena masuk ke ruangan Bimo.


Tidak penting baginya, Daniel memberi tahu jika metting akan segera dimulai.


Bimo pun berdiri dan keluar ruangan menuju ruang metting setelah menenangkan adik kecil nya yang memberontak ketika bercumbu dengan Alena.


.


.


"Cie...yang habis ehem..ehem..lama bener neng di ruangan si suami." Sembur Gina ketika melihat Alena baru memasuki pantry hampir setengah jam lebih.

__ADS_1


Alena hanya bergumam menanggapi ucapan Gina.


"Len, gimana permainan si bos..pasti yahut dong?" Gina duduk di kursi samping Alena, dirinya penasaran dengan pasutri baru itu.


"Ck. apa-an sih Gin." Alena tersenyum kaku, wajahnya tiba-tiba terasa panas.


"Ck. kamu belum cerita tapi wajah kamu sudah merah gitu, pasti si bos main nya hot bener dah." Ucap Gina lagi menggoda Alena.


"Sebesar dan sepanjang apa Len, apa seperti terong premium, atau malah seperti singkong tahiland." Ucap Gina semakin menjadi-jadi.


Plak.


"Otak kamu Gin." Ucap Alena yang juga tersenyum, mengingat milik suaminya yang begitu, ahhh.


Mendengar ucapan Gina, Alena menangkup pipinya menggunakan kedua tangannya.


"Cie..cie..yang udah ngerasain uhui...uhui..duh gue kok jadi kepengen ya.." Ucapan Gina semakin membuat Alena panas.


"Nikah dulu Gin, baru boleh ngerasain." Ucap Alena yang sudah menormalkan detak jantungnya.


"Iya deh yang udah halal mah..percaya pasti di gempur setiap hari." Gina masih saja menggoda Alena dengan memainkan kedua alisnya naik turun.


"Ginaaa..." Alena mendelik ke arah Gina, agar mulutnya itu berhenti bicara.


Gina malah tertawa melihat wajah Alena yang kesal dan juga malu menjadi satu.


.


.


"Baiklah metting hari ini selesai sampai disini, dan semua yang sudah di sepakati segera di laksanakan."


Daniel sebagai wakil dan Asisten Bimo mengakhiri metting pagi ini.


Semua staf berdiri dan keluar dari ruang metting, menyisakan Bimo dan dua orang yaitu Asisten dan sekertaris nya.


"Sin, jika Siera datang jangan biarkan dia masuk selain atas perintah saya." Ucap Bimo menatap datar sekertaris nya yang bernama Sindy.


"Baik pak, maaf atas kelalaian saya pagi tadi." Sindy pun meminta maaf atas kejadian dimana Siera langsung masuk keruangan bosnya.


Bimo pun beranjak dari duduk nya, dan kembali keruangan nya sebelum kembali bertemu klien di luar sana.

__ADS_1


Ceklek.


Masuk keruangan nya, Bimo nampak terkejut ketika melihat dua orang yang duduk di sofa ruangannya.


__ADS_2