Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Makan siang ke,2


__ADS_3

"Ada apa denganmu." Sena memeluk tubuh polos suaminya, yang basah oleh keringat sama dengan dirinya, bahkan napas Aaron masih terdengar berkejaran.


Aaron mengatur napasnya untuk bisa stabil, sungguh obat lacnat itu sudah bekerja dalam dirinya dan membuatnya tersiksa.


Sena mengusap wajah Aaron yang masih basah, tidak biasanya suaminya seperti ini.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu," Aaron memeluk erat tubuh Istrinya, meskipun sudah mendapatkan pelepasan tapi efek obat itu masih terasa membuatnya frustasi.


"Em, aku mengerti." Sena berucap dengan menatap lekat wajah Aaron yang juga menatapnya.


"Apa masih beraksi?" Tanya Sena yang melihat tatapan Aaron masih sama, di mana kedua bola matanya memancarkan gairah kembali.


"Em, aku tidak akan melepaskan mereka yang berbuat curang." Aaron memejamkan mata, jantung nya kian berpacu dengan napas yang kian memburu, bahkan milikinya di bawah sana sudah kembali on, setelah lima menit lalu pelepasan.


"Sayang_ahh."


Grep


Sena langsung duduk di atas perut Aaron, dirinya juga tidak tega melihat suaminya tersiksa seperti ini.


"Aku akan membantumu." Sena menyentuh dada bidang suaminya dengan jari-jari lentiknya, membuat Aaron menggerang dalam.


"Sayang jangan menggodaku." Aaron menahan tangan Sena yang bergeliriya di tubuhnya, dan semakin membuatnya frustasi.

__ADS_1


"Come on sayang." Aaron menyentuh pinggang Sena untuk menyatukan tubuh keduanya.


"Ough.."


Keduanya sama-sama terlena, Sena yang berusaha mengimbangi permainan suaminya kuwalah. Aaron seperti pria kesetanan yang hilang kendali dan Sena hanya bisa bertahan sampai Aaron sadar dari pengaruh obat yang sudah membelenggunya dalam gairah.


Desahann dan erangan keduanya menggema di kamar yang kedap suara, santapan siang Aaron hingga menjelang sore tidak ada habisnya.


Setelah ini pasti dirinya akan membalas orang sudah berbuat curang, dan akan memberikannya pelajaran.


"Sena..aku.." Aaron membalikan tubuh Istrinya yang sudah lemas di atasnya, kini Aaron yang memegang kendali.


"Ar..ahh." Suara Sena tertahan oleh bantal, tubuhnya sudah merasa lelah tapi suaminya tak kunjung sampai.


"Senaaaa...!!" Tubuh Aaron ambruk di atas tubuh Sena yang sudah lemas.


"Maaf Sayang." Aaron mengecup bahu Sena, lalu bergeser ke samping, menarik istrinya dalam pelukannya.


'Richart sialan.' Umpat Aaron dalam hati.


Tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya, dan Aaron mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada botak.


"Jack kau urus Richard sialan itu, jangan beri dia celah, bila perlu habisi bisnisnya sampai ke akarnya."

__ADS_1


Pesan Aaron untuk orang kepercayaan kakeknya yang sekarang mengabdi padanya.


"Beres tuan."


Aaron tersenyum menyeringai, "Setelah ini tamat riwayatmu." ucapnya sambil mencium kening Sena yang sudah terlelap. Dan Aaron bergegas bangun untuk membersihkan diri. Dirinya takut jika si kembar rewel dan Aaron tidak mungkin membangunkan Istrinya yang sudah dia gempur habis-habisan, bahkan Aaron sadar jika dirinya bermain kasar.


"Terima kasih sayang." Aaron beranjak untuk masuk kedalam kamar mandi.


.


.


"Bos saham kita semua turun, dalam waktu kurang dari satu jam." Pria berjas rapi nampak mengemukakan keringat dingin ketika memberi laporan pada bosnya yang sedang duduk dengan rahang mengeras. Apalagi tatapan pria itu begitu tajam.


"Sial..!! Siapa yang sudah berani melakukan ini."


Brak


Richard yang marah pun mengebrak meja, membuat Gilbert terkejut.


"Kalau seperti ini bisa bangkrut Bisnisku." Richard yang frustasi pun mencoba untuk mencari tahu, siapa yang sudah membuat perusahaan nya koleb dalam waktu sekejap.


"Tidak mungkin jika Aaron Lewis kan bos."

__ADS_1


Deg


__ADS_2