Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Ketakutan yang sama


__ADS_3

Ren keluar kantor pukul dua belas kurang lima belas menit, dirinya sengaja keluar lebih cepat untuk pulang ke apartemen.


Dua kotak makanan sudah dia pesan tadi, dan ketika dirinya sampai lobby makanan itu baru saja tiba.


"Biarkan saya yang ambil." Ucapnya ketika seorang OB ingin menerima pesanan itu.


"Baik pak." OB itu pun pergi.


"Terima kasih pak." Ucap kurir yang mengantarkan makanan.


Ren tidak akan sempat untuk mampir ke restoran, lebih baik dirinya memesan makanan sebelum keluar kantor.


Mengendarai mobilnya, butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di apartemen nya jika jalanan lancar.


Dan semua berjalan lancar hingga dirinya sampai di pintu unit apartemen nya.


Klik


Ren membuka pintu setelah berhasil menekan password nya.


"Alexa..!" Ren memanggil Alexa ketika sampai di meja dapur.

__ADS_1


Bik Niah, yang mendengar majikannya pulang lun keluar.


"Maaf pak, tadi nyonya pamit keluar."


Deg


Jantung Ren serasa ingin lepas mendengar ucapan bik Niah.


"Kenapa di ijinkan bik, sejak kapan?" Tanyanya dengan wajah panik.


Bik Niah melihat jam di dinding. "Sudah satu jam pak." Jawabnya dengan perasaan takut, melihat wajah majikannya yang marah dan kahawatir.


Ren pikir Alexa mungkin hanya jalan-jalan disekitar apartemen saja, karena merasa bosan. Tapi itu tidak mungkin jika kondisi Alexa seperti itu, apalagi ingatnya kembali di saat dirinya melihat Alexa di tengah jalan yang ramai dengan kendaraan melintas.


Seketika dada Ren berdenyut, jangan sampai Alexa kembali melakukan hal itu lagi.


"Alexa..!!" Ren berteriak ketika sampai lobby apartemen, suara kerasnya mengundang beberapa orang disekitarnya.


Tidak melihat keberadaan Alexa, Ren berlari menuju minimarket terdekat, mungkin saja Alexa sedang membeli sesuatu.


Benar saja Ren melihat istrinya sedang duduk didalam minimarket.

__ADS_1


"Sayang, kamu disini." Ren langsung menghampiri Alexa dan memeluk tubuh istrinya. "Aku pulang kamu tidak ada, aku khawatir." Ren memeluk Alexa erat. "Jangan ulangi lagi, beri tahu aku jika kamu ingin pergi." Ren menangkup kedua pipi Alexa, dan memberi ciuman di keningnya.


Ren menatap bungkusan plastik di depan Alexa, dan dua cup eskrim yang sudah kosong.


"Kamu membeli apa?" Tanya Ren yang hanya mendapat tatapan dari Alexa. "Mau aku belikan lagi?" Tanyanya, namun hanya mendapat gelengan kepala dari Alexa.


Ren hanya menghela napas. "Yasudah, ayo kita pulang, aku sudah belikan makan siang untuk kita." Ren menyentuh tangan Alexa untuk dia gandeng, rasanya hatinya lebih lega mendapati Alexa tidak pergi.


Tidak tahu akan seperti apa jika Alexa pergi tanpa dirinya tahu, dan beruntung Alexa hanya pergi ke supermarket.


"Kalau ingin pergi jangan sendiri ya, ajak bik Niah tidak apa-apa, jangan buat aku khawatir. Aku takut Alexa." Ren berucap dengan pandangan lurus kedepan, dan Alexa hanya diam dengan pandangan ke bawah.


Ketakutannya bukan tanpa alasan, Alexa adalah tanggung jawab nya, Alexa adalah istrinya.


"Maaf pak, saya mau pamit." Bik Niah, berpapasan dengan kedua majikannya di pintu lobby apartemen.


"Baik Bik, besok-besok jika istri saya pergi tolong temani, dan jika bisa saya minta bik Niah untuk kerja sama saya seharian selama saya bekerja bik Niah temani istri saya." Pinta Ren pada pekerja paruh waktu itu. "Saya akan bayar lebih besar dari pendapatan bik Niah sebulan." Putus nya ketika melihat raut wajah bik Niah yang seperti bimbang.


"Baik pak, saya akan bekerja mulai besok." Wanita itu tersenyum. Siapa yang tidak suka mendapat uang lebih hanya untuk menemani istri majikannya.


Dan Ren membawa Alexa masuk ke dalam lift tanpa melepaskan genggaman tangannya, takut jika terlepas Alexa akan pergi.

__ADS_1


__ADS_2