
Setelah berbincang masalah hati, kini Bimo dan Yuda mendekati keluarga mereka yang masih asik bermain dengan si kembar, dan ketiga pria yaitu Aaron, Birendra, dan kemal duduk di bawah beralasan karpet bulu dengan si kembar yang berada di atas kasur bayi. Tiga pria itu seperti penjaga untuk tuan muda mereka.
Sedangkan tiga wanita yang sedang duduk di sofa panjang asik bercerita. Alexa yang baru pertama bertemu Gina juga nampak akrab, apalagi Gina juga sedikit menceritakan sahabatnya Alena di depan Sena dan Alexa, mereka semua sedih namun juga bahagia kerena memiliki ibu yang begitu banyak di cintai dan disayangi oleh banyak orang.
"Oya Bim, dengar-dengar Alisa akan pulang ke Indonesia?" Tanya Yuda yang memang terkadang masih kontekan dengan keluarga Alisa adik Alena yang berada di LN.
"Ya, katanya dia mau pindah kemari karena suaminya mendapatkan proyek besar di sini, sambil menunggu Galen selesai sekolah dan pindah kesini." Bimo membenarkan pertanyaan Yuda. Meskipun mereka sudah jauh dan memiliki kelaurga masing-masing, namun Bimo masih tetap berhubungan baik pada adik mendiang istrinya itu, apalagi Alena menitipkan Alisa pada dirinya dan Bimo memiliki tanggung jawab seperti putrinya Sena.
"Oh, aku pikir mereka hanya bertamu ternayata malah mau menetap disini."
Bimo hanya mengangguk sebagai respon. Meskipun begitu dirinya biasa saja, walaupun dulu Alisa yang remaja pernah menaruh hati padanya dan ingin menjadi ibu untuk anak-anaknya, tapi Bimo tidak menerima karena baginya Alisa tetaplah adiknya yang harus dia jaga, dan cintanya kepada mendiang sang istri yang tidak bisa di gantikan.
"Duh, ponakan om, ganteng-ganteng banget sih." Ucap Yuda yang langsung duduk mendekati si kembar A.
__ADS_1
"Eh, kok muda sekali anda di panggil Om, yang benar itu kakek Yuda." Jawab Aaron dengan nada meledek.
"Ck, Om belum punya cucu jadi Beby A panggil Om saja, nanti kalau Kemal sudah punya anak, batu mereka boleh panggil kakek." Ucap Yuda dengan tertawa membuat yang lain ikut tertawa.
Bimo juga tertawa, dirinya duduk di sifa singgel.
"A, lihat opa mu suruh dia cari Oma baru, agar bisa memberi kalian teman nanti." Ledek Yuda tanpa melirik Bimo yang malah geleng kepala.
"Sepertinya suamimu yang ingin menambah istri Gin, biar bisa buatkan adik untuk kemal." Balas Bimo malah membuat Yuda melotot.
"Ohh, jadi mau mama baru nih, buat Kemal sama kamil." Gina menatap tajam Yuda yang memasang wajah cengiran.
"Enak saja, satu aja gak habis-habis mau nambah, yang ada tuh pak duda yang mau buka segel." Ucapan Yuda ketika mendapat lemparan bantal oleh Bimo. membuat mereka tertawa.
__ADS_1
"Lu kira gue perawan buka segel." Bimo yang kesal menatap Yuda tajam.
"Lah, sapa tau lu dapet jodoh perawan, hahaha." Yuda semakin tertawa lebar ketika melihat wajah sahabatnya yang semakin kesal.
Tanpa ada yang tahu perasaan Bimo yang sebenarnya, Bimo pun ikut tertawa.
"Tuh mereka aja senang kalau kamu menikah lagi." Ucap Alena dengan duduk di pinggiran sofa merangkul bahu suaminya.
"Mereka hanya melihat aku dari luar, mereka tidak tahu rasanya hati ini seperti apa." Bimo menatap sendu wajah cantik berseri dengan hijab yang membuatnya semakin terpaku.
"Tapi_"
"Sssttt, cukup ada kamu aku pasti bahagia menjelang hari tuaku." Bimo mengecup tangan putih mulus yang bercahaya, "Aku merindukanmu." Ucapnya dengan suara parau, bersandar di dada sang istri untuk mendapat pelukan hangat.
__ADS_1
"Aku juga."